Thursday, July 28, 2016

Preview Mei (hahaha)

Selamat Juli Bubbly-blog.

 

Bulan Mei dan Juni Saya sungguh tidak produktif.

Kela.. Rasanya beberapa bulan terakhir sih ya hahaha

 

Anywaaaaay.....

Saya mau preview sedikit di Bulan Mei nih...

Tentang apa yang terjadi.

Akhir Bulan Mei lalu, Saya dikunjungi oleh Mama Saya dari Pekanbaru.

Beliau datang untuk sedikit merenovasi rumah dan ada misi lainnya.

Rasa-rasanya, Saya ingin mencantumkan rundown kegiatan selama Mama Ita ada di Bandung (dan kami sempat ke Jakarta selama 2 hari 1 malam. Eh kalau hitungannya sampai Jakarta siang, terus sore besoknya pulang ke Bandung, itu 2 hari 1 malam bukan sih?).

 

Dari tanggal 1 Mei sampai 23 Mei, Saya sedikit lupa apa yang terjadi.

Maksudnya, enggak ada hal yang membuat perubahan dalam hidup.

Hem.. tapi coba Saya ingat-ingat dulu ya.

 

Tanggal 24 Mei, Mama Ita datang.

 

Sudah Saya ceritakan belum sih Mama Ita itu siapa?

Yaudah, Saya ceritakan lagi aja ya.

Mama Ita itu adalah adiknya Ibu Saya.

Kenapa dipanggilnya “Mama”?

Karena ketika kecil dulu, semua cucunya Mamak (sebutan Nenek, dari pihak Ibu) manggil orang tua perempuannya (Ibu ada 7 bersaudara) dengan panggilan Ibu. Dan hanya anak-anaknya Mama Ita yang manggil orang tua perempuannya dengan sebutan “Mama”. Dan sehubungan anaknya Mama merupakan cucu kedua tertua, jadi kami adik-adik (sepupunya) ini ikut ketularan manggil “Mama”. Begitulah kurang lebih.

 

Oke, lanjut.

Mama datang tanggal 24 Mei 2016.

Hari pertama sampai Bandung, menjelang siang.

Lalu langsung ke rumah untuk meletakan koper dan barang bawaan, kemudian langsung ke salah satu Mall yang cukup ternama di Bandung. Disana makan siang dan ada beberapa barang yang di cari. Dan Mama reunian kecil-kecilan sama salah satu temen SMA-nya (yang kebetulan dinas dan menetap di Bandung).

 

Tanggal 25, Rabu.

Saya nemenin Mama bertemu dengan temannya di daerah Arcamanik.

Kemudian bertemu dengan teman Mama yang lainnya (yang sekarang tinggal di Bandung juga).

 

Tanggal 26, Kamis.

Kami ke pasar baru.

Dan setiap ke Bandung, pasti ada mampirnya ke pasar baru. Bukan cuma Mama sih. Hampir semua Ibu-Ibu yang ke Bandung pasti ada pergi kesana.

Kata Mama sih, karena harganya murah dan ragamnya lebih banyak.

Mungkin sama halnya kayak kalau ke Jakarta, tujuan ke tenabang.

 

Tanggal 27, Jumat.

Kami nyari kain gorden. Tapi, keburu tutup soalnya menjelang solat Jumat.

Akhirnya memilih langsung ke Mall karena Mama mau reunian dengan teman-temannya.

 

Tanggal 28, Sabtu.

Jadwal ke Jakarta.

Jadi gini....

Teman-teman Mama yang dulu satu SMA suka bikin acara pengajian bulanan gitu.

Dan ternyata yang di Jakarta ada juga beberapa. Sehubungan Mama ada jadwal untuk ke Jakarta, di mampirkanlah untuk bertemu dan ikutan pengajian (mumpung di Jakarta).

Kami dari Bandung naik kereta.

Sekedar informasi, di Pekanbaru itu enggak ada kereta api.

Jadi, betapa senang Mama untuk naik kendaraan satu itu.

Ditambah kereta api sudah dibuat nyaman.

 

Sampai Jakarta siang hari.

Setelah check-in di hotel dan meletakan barang, Kami ke tanah kusir, ziarah Uwak (Kakak pertama dari persaudaraan Ibu).

Lalu janjian dengan Anak pertama Uwak, Bang Bayu.

 Tadinya mau ketemu dengan anak keduanya juga, Bang Ade (pertanyaannya adalah : Katanya Abang, tapi kok di panggil Ade juga? Bukan! Serius ini namanya memang Ade, Muhammad Ade). Tapi ternyata enggak keburu. Akhirnya cuma teleponan pas diperjalanan.

 

Kemudian, Kami langsung pergi ke salah satu Mall di Jakarta untuk bertemu dengan beberapa teman Mama yang lainnya (berkaraoke, dimana tempat karaoke nya sangat canggih. Saking canggihnya, remotenya harus ditekan secukupnya, bisa-bisa enggak jalan, atau jadi keitung 2 kali. Cukup membuat kesabaran meningkatlah).

Kemudian balik ke hotel.

 

Tanggal 29, Minggu

Berangkat pagi langsung ke stasiun. Beli tiket takut kehabisan.

Dilanjutkan dengan pengajian Mama dengan teman-temannya. Lalu Kami pulang ke Bandung.

Sampai Bandung sekitar jam 11-an malam.

 

Tanggal 30, Senin

Kembali ke pasar baru.

Karena apa? Karena ingin mencari kain biasa, untuk dijadikan gorden.

Karena disana ada banyak jenis dan beragam warna nya.

Dan rencananya dijahit ke penjahit yang ada disekitaran pasar baru.

 

Tanggal 31, Selasa

Si Adik datang berkunjung, karena sudah ditanya sama Mama kenapa enggak ada mampir.

Dia malam kemarin datang selepas Isya. Menginap di rumah karena besok akan ikut Kami berkelana.

Jadi, di pagi hari Kami bertiga berangkat ke daerah Arcamanik. Mama bertemu lagi dengan temannya sambil pamitan karena besok akan pulang ke Pekanbaru.

Setelahnya, Kami bertiga kembali lagi ke pasar baru.

Kenapa? Karena kemarin belum ada ukuran untuk jahitan si gorden yang akan dibikin.

Sekarang, setelah ada ukurannya, barulah bisa bapak penjahit itu melakukan pekerjaannya yang sesuai dengan kebutuhan Kami.

Setelah menunggu sekitar 2-3 jam, Kami pun pulang ke rumah.

 

 

Dan selama seminggu itu, Saya keluar rumah terus.

Sehingga membuat kejadian di bulan Juni.

Apa kejadiannya?

Baca saja nanti di preview Juni yaaa..

 

Sekarang, udahan dulu.

Nanti disambung lagi.

Dan entah kenapa di tulisan Saya kali ini banyak kata “karena” =D

 

Dadah Bubbly-Blog

Salam,

Risma Dwi MW

Wednesday, July 6, 2016

Tepat di 2.13

Tepat di 2.13
Delapan tahun yang lalu.

Sedih tiba-tiba menganggu.
Apa karena raganya tidak jauh dari sini?

Tepat di 2.13
Delapan tahun yang lalu.

Ketika teriakan kemenangan berkumandang nantinya, isak tangis juga akan jatuh.

Sesak.
Tangis ini akan lebih sesak.

Tepat di 2.13
Delapan tahun yang lalu.

. . . .

Damn!
I really miss you.
So bad.

Can we just go back, and sit down for awhile?
I don't care about word and conversation.

Just you and me laughing about our sad ending.

Damn!
I miss you.
Surely do!

Even the tears!
I miss that too.

Adulthood is not that fun.
Especially without you.

And I (still) can't help myself when the date comes..
again..
and again..
and again..

Tepat di 2.13
Delapan tahun lalu.

Damn!
I miss you, Mom.

_rdmw_
Pekanbaru, 6 Juli 2016

Thursday, May 26, 2016

Cerita lain tentang bertemu mimpi

“Da... hei.. kok ngelamun? Tumben banget?”

“Aku lagi mikir”

“Mikir? Mikir apa?”

“Aku udah 2 kali mimpiin orang yang sama. Tapi Aku enggak kenal orang itu siapa.”

“Kok bisa?”

“Kalau Aku tau, Aku enggak bakalan bingung.”

 

***

 

Aku tidak terlalu peduli akan mimpi. Paling hanya beberapa yang Aku pikirkan sebagai pertanda atau malah kebanyakan menjadi bahan bercandaan antara Aku dan teman dekatku, Manda.

Kami pernah sekelas ketika kelas X.

Sehubungan dengan Dia mengambil jurusan yang berbeda denganku, kenaikan kelas tahun berikutnya Kami berbeda kelas.

Tapi, sampai kelas XII Kami tetap berteman baik.

Ketika istirahat, jika tidak ada kegiatan, terkadang Aku suka ke kelasnya.

Sekedar mengajaknya ke kantin atau hanya mengobrol di depan kelasnya.

Entah mengapa Aku lebih suka duduk di depan kelasnya di banding di depan kelasku sendiri.

Mungkin karena di depan kelasku sudah banyak orang yang duduk-duduk.

 

“Ke kantin yuk. Aku lupa bawa minum”

“Yuk. Aku juga pas banget mau beli Momogi”

 

Sambil berjalan menuju tangga kelas ketika melewati lapangan, Manda bertanya,

“Terus kebingungan kemarin sudah terpecahkan belum?”

“Kebingungan yang mana?”

“Yang mikir kenapa bisa mimpiin orang yang sama padahal Kamu enggak kenal itu”

“Oooh itu.. Belum.”

“Memang mimpinya horor atau gimana?”

“Enggak kok. Aku mimpi ngobrol sama Dia doang. Tapi kayak yang akrab banget. Dia pake seragam sekolah pula”

“Ada atribut sekolah Kitanya?”

“Enggak tau, Aku fokusnya enggak kesana sih.”

 

“Cuacanya enak gini ya. Cerah, tapi banyak awannya.”

“Iya.. padahal matahari~...”

“...?... Ta.. Rita.. Hei..”

 

Itu...

LAKI-LAKI ITU!

LAKI-LAKI YANG ADA DIMIMPIKU!

Dia sedang berdiri dilantai 2. Sedang melihat ke arah lapangan.

ITU!

Iya betul! Laki-laki itu!

Yang ada dimimpiku sebanyak dua kali. Yang Aku enggak tau Dia siapa.

 

“Rita!”

“Itu..”

“Apa?”

“Laki-laki yang Aku ceritain...”

“Mana?”

“Yang lagi berdiri itu..”

“Banyak Ta yang berdiri. Yang lantai berapa?”

“Yang lantai Dua itu.... Jangan diliatin!”

“Ya Aku enggak akan tau kalau enggak diliat dong”

 

Aku ingin sekali melihatnya. Tapi Aku ragu. Rasanya sedikit sulit jika harus mengalihkan pandanganku dari tanah selesai Aku terkejut karena melihat lelaki itu.

“Yang mana sih Ta? Itu ada Pras, Budi, Krisna, Rena, Abdul, Alwi...”

“Siapa?”

“Siapa apanya?”

“Aku kenal semuanya. Yang terakhir siapa?”

“Alwi?”

“Alwi... Dia anak kelas mana?”

“Alwi kan sekelas sama Aku, Ta.
Kamu seriusan enggak tau? Kan Kamu sering ke kelas Aku. Emang enggak pernah liat gitu? Dia duduknya memang di pojok belakang sih.. Dan kalau~.....”

“Alwi...”

Hari ini otakku terasa tidak mau jalan sama sekali.

Aku enggak inget kenapa tiba-tiba Aku udah dikelas, Aku enggak inget apa yang terjadi setelah Aku tau bahwa Alwi, laki-laki yang Aku mimpiin sebelum Aku kenal, ternyata teman kelasnya Manda.

 

***

 

“Manda..”

“Ya, Alwi?”

“Piagam kelas Kita waktu menang lomba bulu tangkis di Kamu?”

“Mau ngasih ke Bu Susan ya? Ada di loker paling atas. Udah di laminating juga.”

“Oke, thanks.

Oiya, temen Kamu yang biasa suka kesini itu.. siapa namanya?”

“Rita?”

“Iya, Rita. Kayaknya Saya pernah mimpiin Dia beberapa kali. Salamin ya.”

 

_rdmw_

*berdasar kisah nyata
dan....
Hei Mei! Selamat ulang tahun di 26 ini ya =)

Sunday, May 15, 2016

Titipan Undangan

Hai Bubbly-Blog..

Mei ini dibuka dengan cerita tentang undangan ya..

 

Sekitar jam 9 kurang 8 menit malam, ponsel Saya bunyi.

Bukan notif games atau notif media sosial. Tapi ada yang nelepon.

Teman seperjuangan kuliah dulu menyebutkan akan mampir ke rumah Saya.

(Sampai sekarang juga masih temen deket sih haha)

 

Entah mengapa Saya ada feeling tentang kedatangan Dia kemari ada hubungannya dengan undangan.

 

Ternyata betul sekali!

 

Jadi, Dia kesini untuk memberikan undangan pernikahannya.

Jujur ya, Dia bukan orang yang Saya prediksikan akan menikah di beberapa bulan kedepan atau di tahun ini.

Mungkin karena Saya udah jarang banget ketemuan sama Dia.

Terakhir itu.. hem.. kapan ya.. bahkan Saya sampai udah lupa ketemu terakhir sama Dia kapan. Kemungkinan besar sih tahun kemarin.

Tapi Kami tetap komunikasi di grup salah satu aplikasi obrolan kok.

 

Dia menitipkan beberapa belas undangan ke Saya.

Dan minta tolong Saya untuk memberi tahu atau membagikannya kepada yang lain.

 

Ketika melihat tumpukan undangan itu (setelah selesai berbincang dan bergosip dan ngobrolin sedikit tentang masa depan dan setelah teman Saya itu pulang tentu saja), Saya teringat di beberapa tahun yang lalu.

 

Ada juga beberapa orang yang menitipkan undangan ber-belas untuk di bagikan oleh Saya.

 

Terus Saya mikir, kenapa ya mereka menitipkan undangan ke Saya?

Kemudian, hati kecil Saya berkata (halah) : Mungkin karena mereka malu untuk ngasih langsung ke yang lain.

 

Ng..........

 

AH! BERARTI MEREKA MENGATAKAN SAYA TIDAK PUNYA MALU SECARA TIDAK LANGSUNG

*suudzon *capslockkepencet *alasanbanget *=D

 

Dihitung-hitung ada kali 4-5 orang nitipin undangan.

Tapi... ya sudahlah..

 

Betewe.. Selamat ya Upiiiil.. ciyeeeh yang lagi dipingit *hahahaha

*orangnya juga belum tentu baca

 

Waw sudah ada lagi aja teman yang melepas masa lajangnya.

 

(Kamu kapan, Ma?

......

Lihat itu ada UFO!!

*nyumput)

 

Bandung, 15 Mei 2016

Risma Dwi MW

Saturday, April 30, 2016

Gara-gara permainan

Selamat akhir bulan April, Bubbly-blog..

Jadi inget tahun kemaren deh.

Persiapan Saya menuju Mei ke Je-ka-te buat pulang kampung ke Pe-ka-u.

Tapi, kali ini Saya berbagi cerita bukan ngajakin bernostalgia tahun lalu.

 

Kemarin jam 5.39 pm atau jam setengah enam lebih sembilan menit sore hari, ada telepon masuk. 

Awalnya Saya ragu buat ngangkat. Soalnya enggak ada namanya. Yang terpampang cuma no.nya aja. Tapi.... ya sudahlah. Sudah di geser ke tanda menerima telepon.

 

Sekitar 8 menit Saya berbincang dengan pemilik No. tersebut.

Ternyata itu adalah teman SMP Saya.

 

Perbincangan Kami dibuka dengan kata “Halo” seperti biasa.

Saya sudah hilang komunikasi dengannya sejak sekitar.. hem.. terakhir itu.. 2012 kalau enggak salah inget.

Waaaw... 4 tahun ternyata ya. Lumayan lama juga.

 

Intinya, Kami bisa berkomunikasi lagi karena memainkan permainan online telepon genggam yang sama.

 

Awalnya Saya enggak tau ternyata teman Saya itu memainkan permainan itu.

Sampai ada misi yang mengharuskan untuk disesuaikan di salah satu media sosial.

Secara enggak sengaja, teman-teman media sosial Saya (yang juga memainkan permainan yang sama) di tambahkan menjadi teman permainan itu.

Dia salah satunya.

Ketika Saya sedang berkunjung ke “tetangga” untuk mendapatkan tambahan poin, barulah Saya sadar kalau ternyata Kami sama-sama pemain.

Ada dua permainan sih sebetulnya, hanya saja yang satu lagi itu Dia enggak aktif. Tapi, karena Kami masih berteman di salah satu aplikasi obrolan, membuat Saya tetap terdaftar sebagai “tetangga”-nya.

 

Hal yang membuat Saya sedikit kaget adalah,

 Dia : Iya, sekarang kan Aku udah jadi Ibu rumah.

  Eh, Kamu tau enggak Aku udah jadi Ibu rumah tangga?

Saya : HAH?! Apa?! Kamu udah jadi Istri? ASTAGA!! Selamat yaaa... Maaf ihh Risma enggak tau..

Dia : Ih Aku teh ngirim undangan via Line memang enggak nyampe?

Saya : Oiya? Enggak ada loh. Memang kapan?

Dia : Pantesan. Kata Aku teh, kenapa Kamu enggak ngabarin balik. Desember tahun lalu, Ma..

Saya : Enggak nyampe.. Jadi Risma enggak tau deh..

Dia : Enggak apa-apa, Ma. Minta doanya aja ya

Saya : Pasti di doain sama Risma

 

Kurang lebih begitulah salah satu obrolannya.

Saya antara kaget sama seneng sih.

Maksudnya kaget, ya karena baru tau aja.

Seneng karena... ya seneng aja..

Salah satu temen deket Saya yang dulu sudah ada yang menemani dalam hidupnya.

 

Terus Saya mikir..

Mungkin, kalau bukan gara-gara permainan itu, Saya dan Dia masih belum ada komunikasi sampai sekarang.

Tuh, tambahan positif dari permainan online, Bubbly-blog  ;D

 

Bandung,

30 April 2016

Salam,

Risma Dwi MW