Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Wednesday, December 20, 2017

Cerita lain tentang salon

“Falira, dua nih!”

“Iya Bu, siap!”

 

Kedua wanita itu masuk keruangan paling ujung.

“Pagi Mbak, creambath ya? Di cuci dulu yuk”

Aku melihat Farah langsung mencuci rambut pelanggan Kami yang satu lagi.

 

“Mau pake apa Mbak?”

“Aduh, Aku masih bingung nih. Bagusnya apa ya?”

“Masalah rambut Mbak apa?”

“Rambutku ujungnya bercabang gitu, Mbak. Kering-kering gitulah”

“Rambut kering cocoknya strawberry atau alpukat. Mbaknya rambutnya suka diwarnain enggak?”

“Udah lama enggak sih, Mbak. Tapi biasanya Aku diwarnain”

“Untuk rambut yang suka diwarnain cocoknya strawberry”

“Ya udah deh, itu aja”

“Mau pake serum untuk ujung rambut bercabangnya enggak?”

“Enggak usah deh, Mbak. Aku juga mau sekalian dipotong sedikit ujungnya nanti.”

“Sip”

 

Mbak ini adalah pelanggan pertamaku di hari ini.

Aku sudah bekerja di salon ini sekitar 5 tahun.

Tugasku adalah creambath dan lulur, sama seperti tugas Farah.

Dibawah jam 11, salon memang sedang jarang sekali ada pengunjung.

Salon biasanya ramai diatas jam 3 sore.

Apalagi kalau hari biasa seperti ini, ramainya setelah jam pulang kantor hingga malam sebelum tutup.

 

Kalau pertanyaannya mengapa Aku lebih memilih bekerja di salon, bukan karena Aku bercita-cita ingin punya salon sendiri dan belajar dulu. Tapi, Aku yang hanya belajar di sekolah sampai SMP ini tidak bisa bekerja di perusahaan besar seperti orang lain.

 

Sebelum pelanggan pertamaku datang, Aku sempat ngobrol dengan Farah.

“Kamu mau terus-terusan kerja disini, Lir?”

“Kayaknya enggak sih. Cuma enggak tau sampai kapan aja disini. Belum ada rencana. Kamu?”

“Aku mau buka salon sendiri ah. Kayaknya enak kalau jadi kayak si Ibu”

“Memangnya tau, berapa uang biar bisa buka salon sendiri?”

“Enggak sih. Tapi pasti mahal”

“Kamu punya uangnya?”

“Enggak. Aku kan cuma kepengennya gitu, Lir.”

“Ya kalau Kamu punya cita-cita, nabunglah dari sekarang”

“Tapi mau nabung juga enggak bisa banyak kan. Orang-orang kayak Kita yang pemasukan pas sama pengeluaran. Berharap pemasukan lebih juga cuma dari tips yang dikasih pelanggan aja. Aku mau nabung sampai berapa puluh tahun ya....”

Aku hanya tersenyum.

Aku kerja 2 tahun lebih dulu dibandingkan Farah.

Aku yang memberi tahu Farah cara berbicara dengan pelanggan, tempat serum dan segala cream, teknik membilas agar tidak terlalu banyak air yang terbuang tapi tetap bisa bersih, dan lain-lain.

 

Sambil memijat kepala pelangganku, Aku jadi sempat berpikir, sampai kapan ya Aku kerja disini?

Rasanya Aku tidak memiliki cita-cita yang ingin Aku kejar.

Dulu ada sih, cita-citaku hanya ingin menjadi anak kuliahan. Udah, itu aja.

Tapi, gimana mau bisa jadi anak kuliahan, SMA aja Aku enggak nerusin.

Kalau Ibu Bos enggak maksa Aku untuk ikut paket C tahun lalu, Aku udah males belajar-belajar lagi.

 

“Eh, kemaren Aku ketemu sama Ramon”

Pelanggan Farah mulai berbicara dengan pelangganku yang merupakan temannya.

“Oiya? Dimana?”

“Waktu Aku ke rumah Tika”

“Tumben Dia ke Tika juga? Jadi, mereka beneran pacaran?”

“Pacaran? Pacar Tika kan bukan Ramon. Lagian memang Kamu enggak tau gosipnya?”

“Gosip apa?”

“Ramon kan punya pacar juga. Laki.”

“Se..ri..us?”

“Iya. Aku dengernya sih gitu.”

“Dengernya gitu, atau memang gitu?”

“Dengernya sih.”

“Yeee.. Kirain Ramonnya cerita”

“Bukan gitu. Dia kan lagi deket banget sama Boy-can – Boy-can itu.”

“Boy-can temen kantornya?”

“Iya. Liat deh foto-foto Instagramnya. Kemana-mana sama Boy-can. Fotonya juga tuh udah bukan kayak sekedar temen. Kan kalau sesama lelaki terlalu deket bukannya pada geli ya? Tapi mereka enggak tuh.”

“Kenapa enggak nanya aja? Kan biar pasti”

“Aku mau sih ngebahas itu kemaren sama Tika. Tapi, takut Dia kesinggung.”

“Ya kalau Dia kesinggung karena Kita enggak tau kan tinggal minta maaf. Terus enggak usah ngebahas hal itu lagi.”

“Iya juga sih.”

 

Hal yang Aku suka dari menjadi pekerja disini adalah, Aku bisa dapat informasi mengenai banyak hal.

Dari mulai ilmu baru, gosip baru, segala jenis sifat dan karakter orang lain.

Mungkin itu kenapa Aku tidak punya cita-cita tinggi. Karena Aku sudah mendapatkan hal yang kusukai dan dapat bayaran dari hal itu.

 

_rdmw_

Saturday, November 25, 2017

Cerita lain tentang konser

“Jun, sabtu ini nge-event enggak?”

“Enggak, sabtu depan. Kenapa emang?”, Aku mengangkat telepon salah satu teman dekatku ketika kuliah dulu sambil membaca beberapa proposal yang akan dipilih untuk di presentasikan nanti siang.

“Gue punya tiket lebih nih, dateng yuk.”

“Sabtu sekarang ya? Gue rada males sebenernya. Emang event dimana?”

“Iya sabtu sekarang. Jangan males dong. Bantuin Gue ngapa. Dateng doang pun”

Aku menghela napas sedikit panjang.

“Yaudah Gue dateng. Dimana? Jam berapa?”

“Yes! Thanks hani-bani-suiti.. Nanti Gue chat si tempatnya. Ketemu ntar sore ya.. Daaaah”

Nana sudah memutuskan sambungan telepon di ujung sana tanpa sempat Aku jawab.

 

Aku dan Nana merupakan teman kuliah yang memiliki minat yang sama.

Dan Kami pun sekarang bekerja pada bidang yang sama, walaupun beda perusahaan.

Kami merupakan salah satu pengurus EO. Jika disuruh untuk menceritakan jabatan, entahlah bagaimana harus menceritakannya. Karena baik Nana ataupun Aku adalah Team Leader.. atau pemimpin tim.. atau orang yang paling sering disuruh Bos untuk ini dan itu.. juga orang yang paling sering memimpin meeting.. terkadang orang yang disuruh buat presentasi.. dan terkadang disebut sebagai orang yang paling rakus kerjaan.

 

“Jun, proposalnya udah disiapin?”

“Udah Bos, yang ini.” Aku menyerahkan tumpukan proposal kepada Bos ku yang mendatangi mejaku.

“Kamu yang presentasi ya”

Sudah kuduga.

Aku lalu mengikutinya ke ruang rapat sembari membaca pesan yang dikirimkan Nana kepadaku.

 

Meeting selesai lebih lama dari dugaan.

Aku pun sedikit terburu-buru bersiap untuk langsung menuju ke tempat yang diberitahukan Nana.

 

“Kok lama siiiih?? Gue udah nungguin.. Mana ditelepon enggak diangkat.. Gue pikir Lu enggak bakalan dateng”, Nana berkata dengan sedikit manyun.

“Sori, sori.. Baru banget beres meeting, Gue langsung kesini. Emang siapa aja pengisi acaranya?”

Aku bertanya sambil mengikuti Nana melewati pintu VIP.

“Lu dapet tiket VIP dari Gue. Sekarang Kita langsung duduk di depan. Yuk!”

 

Ketika acara sudah mulai, Nana berbisik bahwa dia harus mengecek sesuatu dulu.

Aku tau hal itu akan terjadi. Mustahil bagi kami-kami ini untuk duduk diam jika acara berlangsung. 

Aku pun tidak akan merasa aneh jika Nana nanti tiba-tiba hilang atau tiba-tiba muncul lagi di tempat duduknya.

Aku pun mengangguk.

 

Setelah setengah jam berlalu, Aku mendengar intro sebuah lagu yang tidak asing ditelingaku.

Aku terpaku.

“Selamat datang, perkenalkan Kami..~..”

***

5 tahun lalu,

“Keren amat ini Band. Suka Gue aaakkk!!”

“Serius Lu suka? Sepupu Gue kenal sama vokalisnya. Kita kenalan yuk. Kali aja nanti pas bikin acara Kita bisa ngundang mereka juga”

 

“Hai, Gue Varel”

“Nana”, Nana menjulurkan tangannya setelah dikenalkan oleh Dian, sepupunya yang merupakan teman sekolah Varel, vokalis Band ini.

“Juni..”, ucapku sambil sedikit menganggukan kepala.

“Sekalian nih, kenalin member yang lain. Ini Igun di gitar, Opik di drum, sama.. hem.. itu tuh satu lagi yang duduk dipojokan megang hape, Juna di bass”

***

“Juna...”, suaraku seperti keluar dengan sendirinya. Otakku memerintah tanpa keinginanku.

Walau di tempat konser ini suaranya begitu menggema, tapi rasanya Aku masih bisa mendengar dengan jelas nama yang baru saja kusebutkan di otakku.

***

“Kita diundang ke Kampus sebelah nih?”

“Diundang? Sama siapa?”, Aku yang ingin cepat pulang tiba-tiba ditahan oleh Nana.

“Sama Varel..”

“Varel? Diundang atau Lu yang maksa minta diajak?”, ucapku sedikit sinis.

“Ya pokoknya itulah. Temeniiiin.. ya.. ya.. ya..”

 

Walau dengan terpaksa, ketika Varel dan bandnya tampil, Aku tetap menikmati pertunjukan mereka.

Entahlah bagaimana awal mulanya, cuma sejak saat itu, Kami berdua selalu datang setiap Varel dan bandnya melakukan pertunjukan. Dan setelah pertunjukan, Kami memiliki kartu akses bertuliskan “CREW” bagi bandnya Varel.

Dengan seringnya bertemu, semakin intens pula penceritaan Nana tentang “Varel ini.. Varel itu.. Varel ternyata.. dan Varel blablabla..”

“Lu suka banget ya sama Varel?”, tanyaku pada Nana.

“Hah?! Kok Lu bisa tau?”

“Keliatan jelas banget, Na!”

Nana sedikit tersipu malu.

“Oiya! Lu enggak kepikiran suka sama siapaaa gitu di band?”, ucapnya kemudian.

“Kenapa mesti suka sama yang di band?”

“Soalnya ada yang suka sama Lu..”

“Suka sama Gue? Siapa?”

“Juna..”

***

Sudah lama rasanya Aku tidak mendengarkan lagu ini. Sekitar 4 tahun lalu seingatku terakhir menyanyikannya.

Suara varel tetap tidak berubah. Pesonanya Igun tetap sama. Opik pun seperti tidak bertambah tua di wajahnya. Dan Juna.....

***

Sejak Nana memberitahu ada salah satu member yang menyukaiku, Juna mulai mencoba mendekatiku.

Hampir setiap hari kami bertukar pesan, dan setiap kali ada kesempatan ketika Nana dan Aku menemui band mereka dibelakang panggung, Juna pasti duduk disamping atau di depanku. Seperti terang-terangan melakukan pendekatan agar semua orang tau bahwa dia memang mendekatiku.

Bukannya Aku merasa risih, hanya saja band mereka sudah memiliki fans sejak awal. Paras para member yang bisa dikatakan cukup menarik membuat fans mereka cukup protektif.

Untung saja Nana selalu berhasil mendapatkan kartu identitas “CREW” sehingga fans tidak akan curiga walau Juna selalu mendekatkan dirinya padaku disetiap kesempatan.

***

Dan Juna..

Seperti biasa, berada didunianya sendiri setiap dia sudah bersama bass-nya.

Kadang ikut bernyanyi sambil menikmati lagu dengan menggoyangkan kepalanya sesuai dengan irama.

Seselesainya Varel menyanyikan 2 buah lagu, dia menyapa para penggemarnya.

Perbedaan yang terasa antara saat ini dan 5 tahun yang lalu adalah, Band Varel sudah sangat terkenal. Fanbase nya ada di setiap Kota. Bahkan sudah sulit jika mau mengundang mereka mengisi acara setiap Aku dan Nana menghubungi Manajer mereka karena jadwal yang padat.

Ketika Varel akan melanjutkan bernyanyi di lagu berikutnya, Juna melihat sekeliling.

Dan mata kami bertemu...

***

Sudah 2 hari ini Juna tidak menghubungiku. Aku bukanlah wanita yang posesif. Terlebih Juna belum meresmikan-apapun-hubungan-kami-ini. Tapi Nana memberitahukan bahwa Juna sedang ada disalah satu cafe bersama dengan member yang lainnya. Nana mengajaku untuk ikut kesana.

Juna melihatku sedikit kaget dan lalu tersenyum senang ketika Aku datang.

Tapi ada sedikit hal yang berbeda disana.

Ada dua wanita yang bukan sebagai kru atau bagian dari band yang biasa ku kenal.

“Juni! Sini.. Aku ingin mengenalkanmu..”

Aku mendekatinya, sementara Nana dan member yang lain sibuk dengan obrolan mereka masing-masing.

Aku duduk dihadapannya.

“Aku yakin, Kamu pasti akan menjawab ‘IYA’”

“Pertanyaannya memang apa?”, ujarku sedikit tersenyum.

“Mau jadi pacarku?”

Hatiku terasa hangat. Rasanya senang.

Belum selesai Aku menjawab, ada hal yang membuatku penasaran.

“Hem.. Mereka siapa, Jun?”

“Pacarku..”

“Hah? Gimana?”

“Mereka berdua ini adalah pacarku. Mereka fans yang bersedia untuk berbagi asal mereka dekat denganku dan pacaran denganku”

“Jun.. Kamu serius?”, tapi tidak ada kesan becanda pada kalimat maupun raut mukanya.

“Aku serius. Dan kamu juga pasti fansku kan, yang bersedia menjadi apapun asal dekat denganku” 

Otakku tiba-tiba blank. Aku tidak tau harus merespon seperti apa.

Apa Aku harus marah? Tersenyum? Menangis dengan penuh drama? Atau bagaimana?

Aku berdiri dari tempat dudukku dan meninggalkan cafe itu tanpa berkata apa-apa.

***

Intro gitar sudah dimulai. Suara drum pun sudah mulai masuk. Seharusnya alunan bass mengikuti.

Kami masih saling bertatapan. Juna melihatku dengan terdiam ditempat.

Aku tidak bisa menceritakan ekspresi atau reaksi ketika Juna melihatku diantara para undangan VIP itu.

Karena memang pada dasarnya ternyata Aku tidak mengenal dirinya sama sekali.

“Juna! Juna!”, Varel meneriakan namanya beberapa kali tanpa menggunakan mic sebagai tanda agar suara bass masuk kedalam melodi lagu yang akan dibawakan.

Aku pun berdiri, dan meninggalkan tempat itu.. dengan perasaan yang sama seperti 4 tahun lalu ketika terakhir kali bertemu dengannya.

 

_rdmw_

Thursday, May 26, 2016

Cerita lain tentang bertemu mimpi

“Da... hei.. kok ngelamun? Tumben banget?”

“Aku lagi mikir”

“Mikir? Mikir apa?”

“Aku udah 2 kali mimpiin orang yang sama. Tapi Aku enggak kenal orang itu siapa.”

“Kok bisa?”

“Kalau Aku tau, Aku enggak bakalan bingung.”

 

***

 

Aku tidak terlalu peduli akan mimpi. Paling hanya beberapa yang Aku pikirkan sebagai pertanda atau malah kebanyakan menjadi bahan bercandaan antara Aku dan teman dekatku, Manda.

Kami pernah sekelas ketika kelas X.

Sehubungan dengan Dia mengambil jurusan yang berbeda denganku, kenaikan kelas tahun berikutnya Kami berbeda kelas.

Tapi, sampai kelas XII Kami tetap berteman baik.

Ketika istirahat, jika tidak ada kegiatan, terkadang Aku suka ke kelasnya.

Sekedar mengajaknya ke kantin atau hanya mengobrol di depan kelasnya.

Entah mengapa Aku lebih suka duduk di depan kelasnya di banding di depan kelasku sendiri.

Mungkin karena di depan kelasku sudah banyak orang yang duduk-duduk.

 

“Ke kantin yuk. Aku lupa bawa minum”

“Yuk. Aku juga pas banget mau beli Momogi”

 

Sambil berjalan menuju tangga kelas ketika melewati lapangan, Manda bertanya,

“Terus kebingungan kemarin sudah terpecahkan belum?”

“Kebingungan yang mana?”

“Yang mikir kenapa bisa mimpiin orang yang sama padahal Kamu enggak kenal itu”

“Oooh itu.. Belum.”

“Memang mimpinya horor atau gimana?”

“Enggak kok. Aku mimpi ngobrol sama Dia doang. Tapi kayak yang akrab banget. Dia pake seragam sekolah pula”

“Ada atribut sekolah Kitanya?”

“Enggak tau, Aku fokusnya enggak kesana sih.”

 

“Cuacanya enak gini ya. Cerah, tapi banyak awannya.”

“Iya.. padahal matahari~...”

“...?... Ta.. Rita.. Hei..”

 

Itu...

LAKI-LAKI ITU!

LAKI-LAKI YANG ADA DIMIMPIKU!

Dia sedang berdiri dilantai 2. Sedang melihat ke arah lapangan.

ITU!

Iya betul! Laki-laki itu!

Yang ada dimimpiku sebanyak dua kali. Yang Aku enggak tau Dia siapa.

 

“Rita!”

“Itu..”

“Apa?”

“Laki-laki yang Aku ceritain...”

“Mana?”

“Yang lagi berdiri itu..”

“Banyak Ta yang berdiri. Yang lantai berapa?”

“Yang lantai Dua itu.... Jangan diliatin!”

“Ya Aku enggak akan tau kalau enggak diliat dong”

 

Aku ingin sekali melihatnya. Tapi Aku ragu. Rasanya sedikit sulit jika harus mengalihkan pandanganku dari tanah selesai Aku terkejut karena melihat lelaki itu.

“Yang mana sih Ta? Itu ada Pras, Budi, Krisna, Rena, Abdul, Alwi...”

“Siapa?”

“Siapa apanya?”

“Aku kenal semuanya. Yang terakhir siapa?”

“Alwi?”

“Alwi... Dia anak kelas mana?”

“Alwi kan sekelas sama Aku, Ta.
Kamu seriusan enggak tau? Kan Kamu sering ke kelas Aku. Emang enggak pernah liat gitu? Dia duduknya memang di pojok belakang sih.. Dan kalau~.....”

“Alwi...”

Hari ini otakku terasa tidak mau jalan sama sekali.

Aku enggak inget kenapa tiba-tiba Aku udah dikelas, Aku enggak inget apa yang terjadi setelah Aku tau bahwa Alwi, laki-laki yang Aku mimpiin sebelum Aku kenal, ternyata teman kelasnya Manda.

 

***

 

“Manda..”

“Ya, Alwi?”

“Piagam kelas Kita waktu menang lomba bulu tangkis di Kamu?”

“Mau ngasih ke Bu Susan ya? Ada di loker paling atas. Udah di laminating juga.”

“Oke, thanks.

Oiya, temen Kamu yang biasa suka kesini itu.. siapa namanya?”

“Rita?”

“Iya, Rita. Kayaknya Saya pernah mimpiin Dia beberapa kali. Salamin ya.”

 

_rdmw_

*berdasar kisah nyata
dan....
Hei Mei! Selamat ulang tahun di 26 ini ya =)

Thursday, April 28, 2016

Cerita lain tentang menyukaimu terkadang sakit

“Kak Aris! Dapet salam! Dari Rima”, Ita dan Yuli menunjuk Aku, yang sedang berusaha menunduk agar tidak dilihat Kak Aris.

“Kalian mah ih!”, Aku memukul Mereka dengan pelan sedikit kesal.

Aku yang kikuk ditertawakan oleh teman-teman sekelasku yang sedang duduk menunggu keinginan untuk pulang.

 

Namaku Rima, Aku adalah mahasiswi baru Sekolah Tinggi ini.

Hari ini belum ada perkuliahan biasa sih. Tapi ada Kuliah Umum tadi pagi.

 

Mari, sedikit kuceritakan Kak Aris itu siapa.

Dia adalah Kakak kelasku.

Orangnya tidak begitu tampan.

Aku tertarik padanya karena Dia unik.

Mungkin enggak unik juga ya.

Jadi gini, ketika Aku mengikuti ospek, Aku suka sekali duduk daerah belakang.

Aku senang duduk di belakang karena tidak ingin menjadi pusat perhatian.

 

Jadi, Kak Aris ini, kebetulan menjadi panitia divisi publikasi dan dokumentasi.

Entah kenapa, Dia hobi banget untuk menghalangi pandanganku.

Jadi kalau Dia sedang ‘bertugas’, pengambilan gambarnya selalu didaerah depan tempat Aku duduk.

Sehingga apa yang terjadi di depan enggak kelihatan olehku.

Mau marah tapi Aku anak baru, Aku sedang tidak ingin mencari masalah.

Enggak marah juga kesal sendiri. Jadi hanya bisa ditahan.

 

Saking sering menahan kesal, setelah pengenalan kampus selama total 4 hari itu, Aku jadi malah mencari keberadaan Kak Aris.

Kurang kesal apa coba, yang terjadi akhirnya Aku malah tertarik padanya.

HIH!

 

Gara-gara teman-temanku yang iseng meminta no teleponnya, Kak Aris jadi kenal denganku.

“Rima! Dapat salam dari Saya. Jangan lupa sms ya!”, ujarnya sambil tertawa.

“Ih! Lelaki aneh!”, ucapku dalam hati dengan tingkah sedikit kikuk.

 

Dengan kelakuan aneh dan gaya yang serampangan, Aku enggak akan tahu kalau aslinya Kak Aris adalah orang yang baik.

Pernah satu ketika, Kak Aris melihatku sedang sendirian di seberang lobby kampus.

“Hei! Ngapain?”

“Ng.. Lagi duduk..?..”

“Maksudnya, tumben sendirian?”

“Mau pergi makan tapi tanggung. Bentar lagi ada kuliah lagi. Jadi nunggu ada disini”

“Ditinggalin temen-temen makan?”

“Iya. Tadi soalnya ngasih tugas anak-anak ke dosen dulu”

Lalu kemudian Kami berbincang mengenai hal-hal yang tidak penting.

“Udah jam 1 kurang. Aku ke atas dulu ya Kak.”

“Oh iya bener. Oke”

“Kak Aris ada kuliah lagi?”

“Enggak. Tadi rencananya mau pulang. Terus ngeliat Kamu. Ya udah ngobrol dulu. Sana naik. Daaah”

 

***

 

Sebenarnya, bisa dikatakan Aku cukup keras kepala untuk suka pada Kak Aris.

Karena setiap Aku memiliki kesempatan untuk memberikan kode-kode enggak jelas padanya, Dia hanya tersenyum, atau bahkan hanya tertawa.

Semacam Dia menolakku berkali-kali, tetapi Aku masih tetap menyukainya.

 

***

 

“Rima, Saya suka sama Kamu. Tapi, bukan suka yang seperti itu.

Kamu, disukai oleh banyak orang.

Sedangkan Saya, banyak yang enggak suka sama Saya.

Saya enggak mau, nantinya gara-gara Kamu dekat dengan Saya, Kamu malah jadi dibenci sama orang”

 

***

 

“Rima...”

Aku melihat muka Kak Aris sedikit lesu.

“Apa?”

“Saya udah 5 kali di tolak..”

“5 kali?”

“Iya. Masa coba, Saya udah...~”

“Tunggu.. tunggu..

Kak Aris masih inget kan, Aku ngecengin Kak Aris loh..”

“Iya, tahu.

Jadi gini ya, masa....~”

“....”

Mau tidak mau Aku mendengarkan cerita Kak Aris dengan seksama.

 

Rasanya sakit, tapi ya, Aku masih tetap menyukainya.

 

_rdmw_

*based on true story, kadang masih suka ketawa sendiri nginget hal ini

Sunday, February 28, 2016

Cerita lain tentang Ulang Tahun

“Selamat pagi, Bayn Sayang. Bangun dong. Kamu enggak akan kerja, Sayang?”

 

Mataku langsung terbelalak.

Aku terkejut!

Jam di mejaku menunjukan pukul 3.15 pagi.

Dan ya, kamarku kosong.

Suara itu hanyalah mimpi semata.

Kubangunkan tubuhku.

Mungkin lebih baik Aku mengambil segelas atau setengah gelas air bolehlah, untuk kuminum.

 

Perkenalkan, namaku Bayn Yusuf.

Usiaku 35 tahun.

Dan masih sendiri.

Maksudku... belum menikah.

 

Aku adalah seorang Kepala bagian disebuah perusahaan yang bergerak dibidang jasa.

Sudah memiliki rumah sendiri, memiliki sebuah motor, sebuah mobil, dan menjadi korban bully teman-teman dekatku.

 

Sebelumnya kuperkenalkan sekilas saja tentang  teman-temanku.

Aku memiliki 8 orang teman dekat.

5 perempuan dan 3 orang lelaki.

Kami berteman dekat sejak kuliah.

Dan ya, Mereka semua sudah berkeluarga.

 

Sebenarnya Aku tidak begitu menggebu-gebu untuk menikah.

Tapi bukan berarti Aku tidak ingin menikah ya.

Karena Kakekku bukan berasal dari Indonesia dan saudara Kakek ada beberapa yang berusia 40 lebih baru menikah, membuat keluargaku tidak menuntutku untuk sesegera mungkin memiliki istri.

“Jodoh pasti akan datang, Bayn. Sabar saja”, Nenekku selalu berkata seperti itu.

 

“Apa mungkin Kamu suka sesama, Bayn? Tapi enggak sadar atau mungkin enggak mau ngakui?”

Dwima, adalah salah satu sahabat dekatku. Dia merupakan tempat curhat sejuta umat, termasuk Aku dan semua teman dekatku sejak Kami kuliah dulu.

“Amit-amit Wi. Enggaklah. Aku masih suka perempuan kok. Kamu taulah perempuan yang dekat sama Aku dulu siapa aja. Bahkan Aku sempat suka sama Anita.”

Anita adalah salah satu teman dekat Kami juga.

“Mungkin dulu sama sekarang... beda..?”

“Enggak Wi, bener deh. Aku masih suka perempuan.”

Dwima menghela napasnya sedikit panjang.

“Lagian kalau suka sesama enggak ngebuat Kita jadi ngejauh, Bro”

Dwima memandang Tama, suaminya, yang juga kebetulan salah satu teman dekatku.

“Eh, ini Aku konteksnya serius loh, Sayang. Kita enggak akan berubah kan, Bayn suka siapa aja dengan jenis apa aja...”, ucap Tama seperti membalas tatapan Dwima yang seolah berkata obrolan-ini-bukan-bahan-becandaan itu.

 

“Terus kenapa tiba-tiba ngebahas ini, Bayn? Biasanya kan enggak peduli”

“Jangan-jangan Mamah-Papah udah nanyain? Udah minta Cucu?

Tinggal bikin sih Cucu mah kan enggak harus nikah dulu hahahaha”

“Sayang, mendingan Kamu masak kek, nyebrangin orang tua kek, jualan rengginang kek sana.
Aku lagi ngobrol serius loh ini”, Dwima melemparkan pandangan paling sinis dan galaknya ke arah Tama.

 

Aku sempat ikut tertawa karena omongan Tama.

Tapi melihat mereka berantem sambil becanda ini membuat suntukku hilang.

Iya juga ya. Entah kenapa tiba-tiba Aku curhat masalah yang selama ini sebenarnya tidak begitu menggangguku.

 ***

“Met milad, Bro!

Hari ini kumpul di Turbo jam set2 ya.

Anak-anak juga mau pada dateng.

Dwima udah bikinin kue”

 

Ah, iya.

Ini hari ulang tahunku.

Terbesit kesedihan diotakku.

Eh, kenapa Aku harus sedih?

 

Kuambil telepon genggamku dan menghubungi Mamahku.

“Selamat ulang tahun, Nak. Terus kapan ke Singapur lagi?”

“Bawa Istri dong, Bang”

“Aduh, Dia ngeluarin kata keramat”

“Ba.. ba.. baaa.. baaaaaaaa....”

Dan kemudian Jerry, Anak dari Adik perempuanku menangis.

 

Dan selalu seperti itu setiap Aku dan keluargaku berhubungan melalui Video Call.

Adikku menikah dan ikut suaminya tinggal di Singapura.

Dan 6 bulan lalu Mamah dan Papah memutuskan untuk tinggal juga disana.

Kami memiliki 3 tempat tinggal yang bersebelahan disana. Peninggalan Kakekku dulu.

 

“Iya, terima kasih atas semua doa dan perhatiannya ya gengs.
Sekarang, Aku mau mandi dan nyari Istri dulu. Kali aja ada yang beli satu gratis satu.

Daaaah”

Aku masuk kamar mandi setelah puas tertawa dengan keluargaku.

“Selamat, Bro! Ulang tahunnya udah. Istrinya kapan?”

“Tuhkan! Aku udah yakin loh, Bayn, anak-anak pasti nge-bully Kamu hahaha”

“Habisan Kamu mukanya minta di bully, Bro!”

“Aku tau deh make-a-wish-nya. Pasti jodoh!”

“Pasti, ‘Tuhan, karena telat, jadinya double ya’ hahaha”

Aku ikut tertawa.

“Atau Kamu suka sesama kali, Bayn?”

“Udah-udah. Kuenya dipotong dulu dong. Ala-ala anak muda gitu”, Dwima mengalihkan pembicaraan.

 

“Oke. Oke. Gini deh,

Kalau ada disini, perempuan, yang ulang tahun juga, Aku nikahin. Aku jadiin istri. Hahahaha”

“Waaah! Bener ya?!”

“Iya, bener..”

“Serius?!”

“Wah! Parah Bayn hahaha”

Teman-temanku heboh.

“Selamat ulang tahun.. Selamat ulang tahun.. Selamat ulang tahun Nila.. Semoga panjang umur..”

“Happy Birthday, Nila! Yeeeeaaayyy!”

Terdengar lagu ulang tahun dinyanyikan berselang dua meja dari Kami.

Sebuah kue berlilin angka 2 dan 6 dibawa oleh salah satu pramusaji.

Aku dan teman-temanku saling pandang.

***

“Jodoh pasti akan datang, Bayn. Sabar saja. Tapi...  Hati-hati dengan ucapanmu”, Aku lupa dengan pesan lengkap Nenekku.

 

_rdmw_

Sunday, January 31, 2016

Cerita lain tentang dibalik jendela

“Mah, Lury berangkat dulu yaaaa....”

“Kamu enggak sarapan dulu, Nak?”

“Enggak sempet, Mah.”

“Yaudah, di bekel aja, di bekel.”

 

Aku menunggu di sebelah meja makan sementara Mamahku mengambil tampat makan ke belakang.

 

“Lagian masih jam segini Kamu udah buru-buru. Ada apa sih?”
“Kan motorku di bengkel, Mah. Jadi hari ini mau ngangkot.”

“Kenapa enggak bareng Papah aja?”

“Enggak ah. Papah mah suka berangkat mepet jam kantor. Nanti Aku telat. Aku harus nyiapin materi meeting jam 10, Mah”

“Ya udah, ini”

“Aku pergi ya Mah.

Paaaah, Aku pergi.

Iyaaa. Hati-hati.

Dadah Mamah”

 

Setelah mencium Mamahku, dengan kecepatan super Aku mengambil kotak makanku dan melakukan ritual nanya-sendiri-jawab-sendiri seperti biasa.

 

Syukurnya Aku sampai lebih cepat di kantor. Dan berhasil menyiapkan materi tanpa ada yang tertinggal.

 

Sore menjelang.

Rapat yang bertotal 4 jam membuat alur waktu tidak terasa.

Mungkin karena Aku yang presentasi kali ya.

 

“Ry, pulang bareng?”

“Eh, Mas Albert..

Enggak deh”

“Tapi bukannya motor Kamu lagi di bengkel?”

 

Kenapa Dia bisa tau?

 

“Iya Mas, ini mau ngambil kok.”

“Ya udah Aku anterin ke bengkelnya aja.”

“Enggak usah Mas. Makasih, Aku duluan ya.”

“Tapi Ry...~...”

 

Secepat kilat Aku melangkahkan kaki untuk menjauh dari Mas Albert.

Kata rekan-rekan kerjaku, Mas Albert punya ketertarikan kepadaku.

Bukannya Aku enggak sadar dan enggak kerasa.

Tapi......

DIA SUDAH PUNYA PACAR!!

Dan Aku paling males jadi masalah di kehidupan percintaan orang lain.

 

Salah satu ujian kesabaran adalah ketika pulang sore dan jamnya banyak orang pulang kantor.

Terlebih Aku sedang menggunakan kendaraan umum.

Walau rumahku tidak di dekat dengan terminal, tapi Aku lebih senang duduk di pojok dekat jendela belakang.

Setidaknya Aku bisa melihat pemandangan dengan kaca yang cukup lebar, walaupun yang terlihat kendaraan lagi, kendaraan lagi.

 

Ketika sedang iseng menghitung kendaraan roda dua berwarna merah, ada salah satu pengendara bermotor laki-laki menarik perhatianku.

 

Dia bernyanyi tanpa suara meresapi lagu yang dinyanyikannya dengan penuh penghayatan sambil memejamkan mata.

Sepertinya Dia menggunakan earphone dan mendengarkan lagu kesukaannya.

Karena terlihat sangat hapal sekali.

Dengan pengucapan sangat jelas, Aku sampai merasa berhasil menebak judul lagunya.

 

Tanpa sadar, Aku menahan tawa dengan cara tersenyum.

 

Dia melihatku dengan kaget dan menghentikan kegiatannya.

Aku tersenyum padanya.

Dengan terlihat malu, Dia membalas senyumku.

 

“Lis-ten, Be-yon-ce”

Ucapku sejelas mungkin tanpa suara sambil menunjuk telingaku.

 

Dia mengangkat jempolnya.

 

Kemudian dikeluarkan telepon genggam dari sakunya dan seperti mencari sesuatu.

Melihatku lagi dan melakukan gerakan seperti memintaku untuk menebak lagu yang sedang didengarkannya.

Berulang lagi kejadian Dia menghayati lagu dan menyanyikan tanpa suara.

 

“Ha-ppy, Pha-rrell Wi-lli-ams”

 

Diangkatnya lagi jempolnya sambil tersenyum sumringah.

 

“Satu lagi”, ucap gerakan tangannya.

 

Sekali lagi berulang Dia melakukan gerakan menyanyi di mulutnya.

 

Untuk yang kali ini dahiku berkerut.

Ucapannya sangat tidak jelas dan membuatku sangat bingung.

 

Melihat mukaku kebingungan, dia tersenyum jahil.

 

“See you a-gain, ba-gi-an Wiz Kha-li-fa-nya”

 

Pantesan aja Aku enggak bisa nebak.

Aku memperlihatkan muka kesal kepadanya.

 

Angkot yang kunaiki sudah berhasil melewati perempatan lampu merah yang macet.

Arah yang kutuju lurus, sedangkan Dia berbelok ke arah kanan.

 

Kami saling berpandangan dan saling menganggukan kepala menandakan saling berpamitan.

 

_rdmw_

 

Friday, December 18, 2015

Cerita lain tentang pembalasan

“Eh, Nya, kemaren Aku liat David di Cafe Tengah. Bukannya itu tempat kesukaan Kita kalau kumpul kan ya?”
“David? Di CT? Oiya? Salah liat kali Ra.”
“Masa? Memang jauh sih duduknya dari tempat Aku duduk. Aku lagi rapat sih, jadi enggak bisa melipir liat lebih deket. Tapi mirip loh. Mirip banget”
“Muka Aku pasaran kali, Ra”

Rara dan Aku kaget ketika David datang tiba-tiba.

“Kamu tuh ya, ngagetin aja”, ucapku sambil mengelus dada.
“Kamu kaget Sayang? Aduh, maaf ya hehe”
“Pak Dono belum dateng, Ra?”
“Oh udah. Tapi tadi Dia Aku minta beliin batagor. Nah... itu dia.”
“OK. Bye Ra..”
“Bye Anya, bye David”
***
“Mbak Anya, kemarin Aku lihat Mas David loh.”
“Lah? Tempat kerja kaliankan satu daerah. Tentu aja Kamu liat Fi.”
“Eh, maksudnya Aku lihat Mas David lagi di toko. Kayaknya sama Adeknya. Soalnya manggilnya ‘Abang’. Tapi karena Aku lagi ngepak barang ya, jadi enggak bisa nyapa.”
David anak tunggal, dan kemaren Dia bilang keluar kota ketemu klien.
“Ya sudah ya Mbak Anya. Saya balik ke toko dulu. Nanti kalau ada buku baru, Saya kabarin. Kalau ada buku lagi yang mau Mbak Anya cari, kasih tau Saya ya. Nanti Saya carikan. Mari Mbak Anya”
“Siap Lefi, makasih ya.”

“Syg, gmn tugas luar kotanya? Lancar? Lefi bru ksini nganterin buku yg baru Aku psn.
Kmu jgn lupa mkn ya. Trus kpn plg?”
Aku harus konfirmasi ke David tentang siapa yang mengunjungiku. Itu sudah semacam peraturan tidak tertulis untuk Kami taati.
“Iya syg. Maaf ya, Aku gak bs ngehub kamu dulu. Bnyk bgt kerjaan Aku. Ini aja msih rapat.
Kmu jgn lupa mkn jg ya syg. Aku blum tau kpn plgnya. Nanti Aku kabarin lgi.”
David membalas pesan singkat yang Aku kirimkan padanya.
***
“ANYA!”
Rara melambaikan tangannya kepadaku.
Kami janjian makan siang bersama.
Rara dan Aku adalah teman ketika SMA.
Hanya sebatas kenal saja.
Ketika Aku bekerja dikantorku yang sekarang, Aku bertemu lagi dengan Rara di kantin kantor.
Kantor Kami satu gedung, tetapi beda perusahaan.
Jadi terkadang, jika David tidak bisa menjemput, Aku ikut pulang bareng Rara yang selalu dijemput oleh supirnya.
“Eh Nya. Ini serius ni ya. Kemarin Pak Dono, ketemu sama David di Warung Bakmi.”
“David? Di Warung Bakmi?”
“Iya. Pak Dono cerita. Kan Aku minta dibeliin Bakmi, terus pas Pak Dono kesana, ketemu sama David. Davidnya enggak ngeliat sih. Tapi Pak Dono yakin, itu David banget.”
“Enggak salah liat lagi kayak waktu Kamu itu?”
“Enggak kalau yang ini. Pak Dono itu supir kepercayaan, Nya. Enggak mungkin salah dan enggak mungkin bohong.”
“Yang bilang bohong siapa, Ra? Aku kan cuma bilang mungkin salah liat.”
“Soalnya..... David sama perempuan lain.”
“Kliennya David itu banyak yang perempuan. Dia selalu cerita kok ke Aku semua kliennya.”
Aku dengan santai menyuap Nasi Ayam yang kupesan.
“Hem.. Klien tapi kok suap-suapan?”
Kunyahanku terhenti.
“Suap-suapan?”
“Iya. Kata Pak Dono Mereka suap-suapan, Nya”
***
Di usiaku yang sekarang, sudah tidak cocok rasanya Aku mengamuk, menggalau seperti anak muda yang baru kemarin jadian dan deg-degan pasangan berselingkuh.
Kabar yang kudapat dari Rara kemarin, Aku telan begitu saja.
Aku berpacaran dengan David sudah hampir 9 tahun.
Aku sudah tau sifat jeleknya David. Dan tidak ada kata selingkuh di daftar itu.
Daripada Aku berdiam diri di rumah dan jadinya berprasangka buruk, di libur Sabtu ini, Aku memutuskan untuk sedikit berjalan-jalan ke taman.

Sekitar 3 meter di depanku ada pasangan kekasih Aku menyebutnya, karena Mereka mesra. Terlihat sekali sang pria sangat menyayangi sang wanita dari gaya Mereka berjalan. Aku menyukai gaya pria ini.
Entah mengapa Aku tersenyum-senyum sendiri melihat pasangan ini. Mengingatkanku pada Aku dan David ketika Kami berjalan berdua.
Tidak berapa lama, Mereka berbelok masuk ke sebuah tempat makan.

Mataku tertarik begitu saja, hingga membuat Aku terhenti di jendela, mematung.
Itu... David....
Tanganku meraih telepon genggam dan mulai menghubungi David.
“Ya sayang?”
“Kamu, masih rapat?”
“Iya nih. Kita enggak bisa ketemuan kayaknya. Enggak apa-apa ya, sayang.”
“Di hari libur pun Kamu masih rapat? Tapi suaranya kok berisik?”
“Iya sayang, rapatnya kebetulan diluar. Kenapa?”
“Rapatnya cuma berdua sambil rangkulan gitu ya?”

Aku berdiri dihadapan David.
Aku menatap matanya dengan dalam.
Kurasa David tidak memiliki wajah yang pasaran.
Semua orang yang mengira bertemu dengan seseorang yang mirip David merupakan David sendiri.
Dan Aku yang masih selalu beranggapan David adalah orang yang sama sejak Aku mengenalnya hingga masuk ke 9 tahun Kami bersama.
“Anya..”
Aku tersenyum dan membalikan badanku.
David mengejarku.
“Anya, Aku bisa ngejelasin..”
Aku berbalik.
“Aku kasih Kamu waktu 5 menit untuk ngejelasin.”
“Ini enggak seperti yang Kamu pikir..~..”
“David, ini bukan di sinetron. Manfaatkan waktu 5 menit Kamu dengan baik.”
“Aku minta Kamu untuk dengerin penjelasan Aku dengan baik. Intinya ini enggak seperti yang Kamu bayang..~..”
“Aku enggak butuh basa-basi Kamu. Kita udah enggak remaja lagi. Jangan bertingkah seperti aktor.”
David terdiam.
“Sudah berapa lama Kamu berselingkuh?”, lanjutku.
“Aku enggak..~..”
“Berapa lama, David?”
“7 bulan lalu.”

Oh. Sejak sibuknya David ke luar kota dan hampir setiap akhir Minggu selalu ada rapat.

“Kalau Kamu memang benar ingin bersama orang lain, kenapa Kamu tetap mempertahankan hubungan Kita?”
“Tapi Aku cintanya sama Kamu, Anya.”
“Kalau Kamu cinta, kenapa Kamu berhianat?”
“Karena Aku....
Kamu tidak pernah cemburu dengan apapun yang Aku lakukan. Itu bikin Aku jadi ragu sama perasaan Kamu..”
“Sudah sekian lama, dan Kamu ragu?
Ternyata Kamu tidak setau itu tentang Aku, David.
Karena kalau Kamu tau, tidak akan muncul keraguan itu.
Kita putus." Kukembalikan cincin pertunangan pemberiannya.
“Tunggu, Anya.. Aku..~..”
“Dan tolong, jangan bertingkah seperti drama cinta televisi. Dunia peran bukan kemampuan Kamu. Kamu hanya akan mempermalukan diri Kamu sendiri. 5 menit Kamu udah habis”, lanjutku memelankan suaraku sambil berlalu pergi.
***
Sejak itu, David selalu berusaha merebut hatiku lagi. Bunga, coklat, makanan, pesan titipan, telepon, buku, benda-benda kesukaanku, merupakan pemandangan sehari-hari yang tidak ku balas.
Yang perlu Aku ambil, selebihnya Aku kasih siapa saja yang kutemui, pengantar koran, pengantar pos, pengantar paket, asisten rumah tanggaku, supir Rara, siapa saja. Ya, siapa saja.

Semuanya terhenti di bulan ke 3.
Tidak ada lagi pengantaran barang ke rumahku.
Kurasa David sudah lelah dengan pemberian yang tak berbalas.
Atau..... mungkin juga David sudah menemukan orang lain.
***
“Anya.. Anya.. Anya!!”
“Apa sih Ra.. Panggilnya sekali juga cukuplah”
“Ada gosip loh”
“Gosip apa lagi? Ada yang ngirimin surat cinta ke Kamu lagi?”
“Ih bukaaan. David. Denger-denger Dia diselingkuhin sama pacarnya yang baru. Total berarti ada 2 orang yang nyelingkuhin Dia.. Aku kasian deh soalnya..~..”

Aku sudah tidak mendengarkan opini Rara lagi.
Di otakku terputar sebuah lagu.

“And word in the street is that she did to you what you did to me”
...
...
...
how does it feel to swim in your own tears?”
...
...
...
“Bang! She shot you!
Karma taste so sweet”


_rdmw_

Inspired by Christina Perri’s song : Bang Bang Bang

*I love this song btw

Saturday, November 21, 2015

Cerita lain tentang teman masa kecil

“Mbak Mari, tunggu disini dulu ya, Saya ambil dulu uangnya.”
“Oke Bu.”
Baru saja Aku mengantarkan hasil jahitan Ibuku kepada Bu Sumi yang merupakan tetanggaku. Rumah Kami hanya beda blok saja.
Selagi menunggu, Aku melihat-lihat tanaman Bu Sumi.
Bu Sumi adalah seseorang yang ahli perihal tanam-menanam bunga. Walau pekarangan rumahnya kecil, tapi terlihat rapih dan tidak bosan untuk dipandang.
Dan ketika serius memerhatikan bunga kecil warna merah, Aku mendengar suara mobil yang dipanaskan.
Honda Jazz biru..

Itu.... Salim..

***

“MARI!”
“IYA BU, SEBENTAAAAR..”
“Masuk dulu nak.”
“Iya Bu. Terima kasih”
Ibu memanggilku ketika Aku selesai membungkus kado untuk sepupuku yang berulang tahun hari ini.
Aku mendengar Ibu berbincang dengan seorang lelaki.
Entahlah, suaranya seperti pemuda yang sebaya denganku.

“Ada apa Bu?”
“Nah! Ini dia orangnya. Mari, ingat dengan Salim?”
“Salim?”
Lelaki itu tersenyum.
“Aduh.. Nak Salim, maaf ya. Mari sudah lama tidak pulang. Dia lupa pasti”
“BU.. INI GULAINYA DIMATIIN JANGAN?”, Ayahku berteriak dari dapur.
“EH, TUNGGU DULU! Mari, temani Salim dulu ya.”
“Eh, Bu, tapi Aku..”
Dan kemudian di ruang tamu hanya tinggal Aku dan Salim.

Salim, rasanya nama itu ku kenal.

“Gimana dengan Sukabumi?”
“Sukabumi? Hem.. jadi suka banjir. Mungkin karena udah masuk musim hujan.
Hem.. Salim ya? Maaf. Akhir-akhir ini ingatan jangka panjangku kurang kuat.”
“Hahaha.. bukannya dari dulu ya?”
Aku terheran.
“Segitu enggak berartinya ya, sampai Kamu lupa tentang Kita?”
“Hah?! Tentang Kita?!”
Salim terlihat sekali menahan tawa.
Aku mulai memaksa otakku untuk berpikir dan mengingat tentang Salim.
Dan ketika Aku mulai menyerah, Salim tertawa.
“Maaf Mari, rasanya seneng bisa ngegodain Kamu lagi”
“Maaf Salim. Aku enggak inget Kamu siapa”
“Enggak apa-apa kok. Lagian dulu Aku cuma anak kecil laki-laki yang suka ngasih kamu es lilin coklat kalau Kamu lagi kesel”
Di regangkannya badannya sambil duduk.
“Sa..sa..??”

***

TK
“MARI! ADA SASA NIH!”
Aku berlari ke arah pintu.
“Sasa!”
“Aku udah bawa buku gambar sama krayonnya”
“Aduh Sasa, Kita kan hari ini mau ngegambarnya pake pensil warna”
“Pensil warna Aku ketinggalan di sekolah”
Aku enggak suka ngeliat Sasa sedih.
“Ya udah Sasa, jangan sedih. Aku pinjemin pensil warna Aku ya.”
“Makasih ya Mari”
“Iya”, Aku tersenyum lebar.

***

SD
Aku kesel hari ini. Mainan tanah liat Aku rusak. Walau katanya tidak sengaja dirusak, tapi tetep aja kesel. Aku enggak akan main sama Alina lagi. Dia jahat.
“Nih”
Es lilin cokelat.
“Jangan gitu mukanya. Aku enggak suka kalau ngeliat muka Mari gitu. Mendingan makan es lilin aja”
“Kenapa sih, setiap Aku kesel Kamu kasih Aku es lilin cokelat?”
“Karena Aku suka es lilin cokelat.”

***

SMP
“Aku harus ikut Mas Agus ke Sukabumi”, ucapku sambil menikmati es lilin cokelat yang ke dua.
Dia berhenti membuka tali sepatunya dan melihatku.
“Kenapa?”
“Mas Agus mau SMA disana. Sekalian nemenin Abah sama Ambu”
“Terus kenapa Kamu harus ikut?”
“Kalau Mas Agus bantuin Abah di peternakan, Aku nemenin Ambu di rumah.”
“Terus kapan Kamu berangkat?”
“Mas Agus nunggu apa dulu gitu, Aku enggak inget”
“Oh..”
“Cuma ‘Oh’ aja?”
Dan Sasa malah ngebahas tentang tugas sekolahnya.

***

“SASA! KAMU SASA!”
“Giliran Sasa Kamu inget, nama asli Aku Kamu enggak inget. Mari.. please lah.. Itu nama perempuan”
Mukanya langsung berubah.
Aku langsung memeluknya.
“Astaga Sasa! Aku minta maaf enggak inget. Astaga Sasa, Kamu kok bisa berubah gini?! Sasa! Kamu olahragawan sekarang?”
Aku memegang lengannya bagian atas.
“Mari.....”
Mukanya memperlihatkan kekesalan.
“Maaf Sasa. Maaf. Aku.. WAW! Aku enggak percaya. Terus Kamu mau ngapain kesini?”
“Loh?! Memangnya enggak boleh ketemu temen masa kecil?”
“Boleh lah! Astaga Sasa”
“Kamu tuh ya, Sasa-sasa terus. Salim, Mari. Salim”
“Pokoknya Kamu tetep Sasa buat Aku.”
“Setelah bertahun-tahun menghilang yang enggak pamitan, terus ketika dateng beberapa hari lalu, enggak ada keinginan untuk menghubungi Aku gitu?”
“Hahaha.. Maaf Sa, Aku ngurusin kepindahan Aku kuliah aja kemaren cukup ribet. Terus Aku lupa kalau Kamu masih hidup di komplek ini”
“Hidup di komplek ini? Hidup? Haa~aah”
Direbahkannya badannya.
“Segitu enggak pengen ketemu ya?”
“Astaga Sasa, kenapa Kamu berubah jadi mellow dan lebay gini sih? Baperan kayak anak zaman sekarang ya?”
“Bukan gitu sih. Tapi...”
“Tapi..?..”
“Mari.. Pacaran yuk?”
Salim menatapku dengan serius.
Aku tercengang.
“Hah?!”
“Aku serius.”
“Iya, Aku tau ketika orang sedang serius kayak apa. Tapi.. Sa? Kamu bercanda?”
“Aku serius, Mari. Kesempatan Aku ketemu lagi sama Kamu. Aku enggak mau basa-basi lagi. Enggak mungkin dulu setelah sekian lama dan Kamu enggak merasakan apapun ke Aku”
“Mungkin dulu iya. Tapi Salim, itu udah lama banget. Kamu temen kecil Aku, temen deket. Dan.. enggak mungkin deh kayaknya.”
“Apanya yang enggak mungkin? Aku punya perasaan sama Kamu, Mari. Kalau Kamu pun punya, Kita bisa jalanin kan?”
“Enggak bisa Sa”
“Kenapa enggak bisa? Karena Kamu udah enggak kenal Aku lagi? Aku enggak berubah Mari, Aku masih sama seperti Sasa yang dulu. Aku masih..~..”
“Aku udah tunangan Sa.”
Salim terdiam. Antara terkejut, sedih dan menyesal. Aku tidak bisa memaparkan yang terlihat di mukanya.
Salim melepaskan tanganku.
“Kamu terlambat Sa. Coba kalau Kamu datang setahun yang lalu. Mungkin..~..”
“Kalau terlambat, tidak ada kata mungkin, Mari. Maaf Aku mengganggumu. Mungkin sebaiknya Aku pulang ya.”
“Sa..”
“Kamu bahagia?”
“Aku..”
“Mari, Kamu bahagia?”
Aku menganggukkan kepalaku perlahan.
“Aku terlambat. Ini pelajaran ya. Sedikit sakit dan menyedihkan ya. Tapi, terima kasih sudah memberikan jawaban.”
“Maaf ya Sa...”
“Aku yang minta maaf. Kita enggak bisa berteman dekat lagi, Mari”
“Cuma karena Aku bertunangan, Kita enggak bisa temenan kayak dulu?”
“Terserah Kamu mau berpikiran apa tentang Aku. Tapi, dengan ngeliat Kamu dengan lelaki lain, dan yang Aku rasain ke Kamu, susah buat Aku ngilangin niat mengganggu hubungan Kamu.
Mending Aku pamitan. Pamitkan Aku juga kepada Ayah dan Ibumu ya.
Mari, satu hal yang harus Kamu tau. Aku menyukaimu sejak sebelum Aku mengenal rasa suka. Selamat tinggal Mari”
Aku melihat punggunggnya. Hal terakhir yang juga Aku lihat bertahun-tahun lalu ketika Aku akan berpetualang di Kota lain.

***

Salim akan masuk ke mobilnya sambil membawa tas gendongnya.
Walau berjarak 15 meter, tapi Kami sempat bertatapan. Dan kemudian dia membuka pintu mobilnya lalu mulai beranjak pergi.
Ya Salim, Aku tahu. Setelah Aku memberitahu tentang pertunanganku, Aku akan kehilanganmu. Kamu pikir Aku tidak tau perasaanmu ketika dulu. Maka dari itu Aku tidak mendatangimu. Jangan menyulitkanku untuk memilih. Karena tidak perlu ditanya siapa pilihanku.


_rdmw_

Wednesday, October 28, 2015

Cerita lain tentang pengenalan kembali

“Inget pertama kali kita ketemu?”
“Tiga tahun lalu. Disini. Kamu duduk di sebelah kanan Aku. Pakai baju hijau. Kaos berkerah. Di kerahnya ada noda saos dari bakwan yang Kamu makan. Rambut Kamu lagi panjang nutupin kuping. Apa lagi ya?”
Lengkap dan bahkan masih berpikir.
“Enggak usah selengkap itu juga kali haha”
“Aku takut lupa. Terus nanti Kamu kesel. Nanti ngejauhin Aku lagi”
“Tunggu, tunggu. Kapan Aku pernah ngejauhin Kamu?”
“Waktu Kita selesai Ujian kelas 2. Kamu udah enggak ada nungguin Aku lagi di tempat biasanya.”
“Ulfa, itu enggak ngejauh. Kamu kan sibuk dengan teman-teman baru Kamu. Dan Aku enggak bisa masuk dan menjadi bagian dari Kalian.”
“Irfan! Apa sih! Aku tuh enggak suka tiap Kamu bahas hal itu”
Dimonyongkannya bibirnya. Tanda sedang cemberut.
“Kamu kan populer. Beda sama Aku.”
“Kamu kenapa sih? Hari ini Kita lulus loh. Dan Kamu tetep jadi anti-sosial, untuk semua orang.”
“Kenapa? Mau ngebedain sama Kamu yang populer dan banyak temen?”
“Harus ya, bahasnya kesana lagi? Aku enggak paham populer dalam bayangan Kamu itu gimana”
“Yang banyak temen. Yang selalu dipanggil sana-sini tiap jalan. Kenal banyak orang. Apa lagi ya?”
“Mirip artis berarti ya?”
“Kan Kamu memang artis. Coba hitung berapa kali Kamu bantuin anak OSIS jadi mc tiap ada acara sekolah?”
“Salah memangnya kalau Aku bantuin Mereka?”
“Poin Aku bukan itu, Fa.”

Kami saling menatap dan terdiam beberapa saat.

“Kamu mau nerusin kemana habis ini?”
“Aku mau ikutan SNMPTN. Pengen coba hidup di kota lain.”
“Kamu ikut-ikutan ya?”
“Eh! Enak aja! Aku udah kepikiran dari tahun kemaren tauuu!”
“Memangnya Kamu mau ambil jur..~”
“ULFA!”
Ulfa melihat ke sumber suara.
Kemudian Ulfa melihatku. Seperti meminta izin meninggalkanku dan menghentikan pembicaraan ini.
Mau tidak mau, Aku harus mengangguk, semacam memperbolehkannya untuk pergi bersama teman-temannya.

“Bukan berarti Aku mau ninggalin Kamu ya. Aku udah punya janji. Kamu sendiri yang bilang kalau Aku..~”
“Harus nepatin janji. Iya, Aku inget. Udah sana.”
Ulfa melihatku dan berjalan sambil mengucapkan terima kasih tanpa suara.
“Sampai jumpa, Ulfa”, ucapku berbisik

***
“Bro, Lu dapet formulir organisasi kemahasiswaan enggak?”
“Iya dapet.”
“Lu udah nentuin mau masuk mana?”
“Belum sih”
“Gue diajakin masuk UKM Band. Lu ikut Gue aja gimana?”
“Ng...”
“Ya udah deh, Lu pikir-pikir dulu aja ya. Gue kesana dulu.”
Aku mengangguk.

Hilman, sudah ketiga kalinya mencoba berbasa-basi denganku.
Dan sudah yang ketiga kalinya pula Dia menyerah dan pergi meninggalkanku.
Biar sajalah orang menyebutku anti-sosial. Bersyukur tidak sepeduli itu dengan omongan orang.
Dengan sifatku yang begini sejak kecil, sulit mendapatkan teman mengobrol. Bahkan sampai hari ini, dimana Aku akan memulai menjadi seorang mahasiswa setelah bolos setahun.

“Selamat datang teman-teman baru calon mahasiswa dan calon mahasiswi. Gimana kabar hari ini? Siap berkenalan yaaa.. Kami dari Paduan Suara Mahasiswa. Perkenalkan nama Aku...~”

Suara itu menggangguku. Bukan menggangguku karena berisik. Tapi mengganggu kenanganku. Itu suara....

“..~Ulfa. Teman-teman bisa panggil Aku Kak Ulfa ya.”

Setahun sudah. Ketika Aku mencoba untuk hidup di kota yang baru dan menghilang dari hidupnya, bayangannya pun bahkan tidak mengizinkanku untuk melupakannya.
Ulfa tidak berubah. Tetap menjadi penyebab pandangan mata banyak pihak.
Dengan raut muka manis yang menyenangkan dan ramah.
Tidak cantik pada umumnya perempuan. Tapi ada yang menarik yang membuatnya bisa mendapat teman baru dengan mudah.

“Siapa disini yang mau masuk UKM PSM? Ayo diacungkan tangannya. Eh, kedepan aja deh kedepan”
Aku dan sekitar 11 orang lainnya maju kedepan.
Penempatan tidak sengaja dibagian paling ujung membuatku sedikit tertutupi oleh yang lain.

“Yang terakhir nih. Namanya sia...~”
“Salam kenal, Kak Ulfa..”
Aku memotong kalimatnya. Ulfa tampak kaget melihatku.
Ada diam sejenak yang tercipta.
“Kamu tetep enggak berubah ya”, bisikku pelan.
“Hai Irfan. Salam kenal. Aku Ulfa”
Dijulurkannya tangannya dengan senyuman. Mengajak berkenalan. Persis seperti empat tahun lalu.

_rdmw_

*UKM = Unit Keorganisasian Mahasiswa

Monday, September 21, 2015

Cerita lain tentang kelompok

Pagi ini Aku sudah bangun dari jam 5. Aku akan akan bertemu dengan teman-temanku di lapangan itu. Enggak sabar rasanya.

“Aduh, Fani mana ya?”, Aku melihat sekelilingku.
“Kira!”
“Ih! Kalian lama deh! Aku kesel nungguinnya”
“Iya, maaf. Tadi kita janjiannya di depan. Nungguin Rosa dulu”
“Kok enggak janjian sama Aku juga sih? Kalian janjian berdua aja, nanti kalau kepisah Kita gimana?” 
“Iya ya, jangan sampai pisah Kita ya”

Hari ini ada kegiatan diluar sekolah. Aku dan dua teman baikku ikut kegiatan ini karena disuruh guru.
“Ih rame banget ya”
“Kalian mau masuk divisi apa?”
“Ada acara, ada humas, ada konsumsi, ada pubdok, apa lagi ya... Kita apa nih?”
“Gimana kalau acara? Nanti kita bisa dikenal gitu. Kan biasanya acara jadi mc ya”
“Iya, Kita bisa terkenal gitu, nanti di keceng. Lumayan kan”
“Atau mau pubdok? Biar gampang. Enak juga kan?”
“Udah ah, acara aja.”
“Ya udah, yuk”

‘Untuk teman-teman yang baru datang, silahkan berkumpul dulu dilapangan ya. Terima kasih’
“Baris ayo baris”
“Eh, jangan depan banget ya”
“Kenapa?”
“Enggak mau ah”
“Disini aja, udah disini.”

‘Untuk bagian belakang tolong yang depannya diisi dulu ya. Yang kosong ini masih ada”
“Disini aja Kak”
‘Ayo dong, yang depan diisi dulu biar keliatannya rapih. Ayo Adik-adik’
“Kedepan ini teh? Iya Kak”
Aku ogah sebenarnya ikutan barisan depan. Ini memang enggak depan banget sih, tapi tetap aja bikin kesal.

‘Nah, teman-teman, Kita berhitung ya, dari satu sampai delapan. Setelah delapan, nanti kembali lagi ke satu dan seterusnya. Mulai dari ujung kiri.. Mengerti ya?’
‘1’
‘2’
‘3’
‘4’
.....

‘Sudah semua ya? Silahkan kumpul ke meja sebelah kanan sesuai dengan nomor kalian tadi ya’
“Ngapain ya Kak?”
‘Kita bagi divisi berdasar nomor ya.”
“Ih kok kepisah-pisah gitu Kak?”
“Enggak mau ah enggak mau”
“Biar enak kerjanya sama yang Kita kenal dong Kak”
‘Gini ya teman-teman, Kita kan nanti kerjanya sampai beberapa bulan ke depan. Dan Kita satu kepanitiaan. Jadi biar kenal satu sama lain, harus kenalan’

Aku merengut. Kesalnya. Tahu gitu kan tadi diitung dulu biar bisa barengan sama Fani sama Rosa.
Lagian ngapain sih, harus dipisah-pisah gini?!

‘Ayo dong teman-teman, biar cepat selesai. Biar acaranya bisa di mulai.’
‘Ayo teman-teman, tak kenal maka tak sayang loh.’

“Memang enggak mau sayang-sayangan kok!”, teriakku dalam hati.

‘Ayo, yang kelompok 7 disini.. Disini.. Kita divisi konsumsi loh.. Makan yuk, yang mau makan..’

Kakak-kakak itu percuma teriak-teriak makanan. Kalau Aku enggak sama teman-teman Aku, percuma!

“Kelompok tujuh?”
“Iya”
“Kenalin, Ibra”
“Kira”
“Kira dari mana? Kalau Ibra dari SMA 40”
“Aku dari SMA 28”
“Oooh.. Kira sendiri?”
“Enggak. Tadi sama teman-teman, cuma kepisah. Kalau Kamu sendiri?”
“Perwakilan sekolahnya ada 5, tapi Kita kepisah-pisah semua”
“Ih. Kesel ya, pakai acara dipisah-pisah? Kan enggak bisa barengan sama teman-teman”
“Iya sih. Tapi kan Kita disini bisa kenal sama teman-teman baru. Yang beda sekolah, beda tempat. Asyik deh pasti.”
“Tapi Aku enggak ada yang kenal.”
“Kan Kira udah kenalan sama Ibra. Mari Kita berteman, biar Kira enggak ngerasa sendiri lagi. Yuk, gabung sama teman-teman baru yang lainnya”
‘Untuk teman-teman yang sudah kumpul, silahkan isi data dirinya ya. Perkenalkan Saya..~’

“Kira!”
“Rosa! Kamu jadi divisi apa?”
“Aku sama Fani satu kelompok. Kita divisi humas. Kamu?”
“Aku divisi konsumsi”
“Kita enggak sekelompok deh jadinya”
“Terus id card-nya dibagiin minggu depan pula. Padahal kan mau di foto, terus masukin instagram sama path. Biar gaya”
Sebetulnya Aku enggak dengerin apa yang Fani bilang. Aku masih terngiang omongan Kakak yang tadi, tak kenal maka tak sayang.

_rdmw_

Thursday, September 17, 2015

Cerita lain tentang mengajar

“Selamat pagi, Anak-anak..”
“Pagi Paaaak...”
Semangat. Itulah setiap pagi yang harus Aku tumbuhkan. Agar anak didik yang kuajari juga ditulari oleh semangat.
“Gimana sama liburannya? Ada cerita yang bisa Bapak dengarkan tidak?”
“Aku..”
“Aku aja Pak..”
“Aku mau cerita..”
“Tenang, tenang. Satu-satu ya. Coba mulai dari depan dulu. Ayo, Dita. Kamu ada cerita?”
“Ada, Pak guru! Aku mau cerita tentang kolam pancing Kakek. Jadi kan kemaren Aku..~”

Dita. Salah satu murid kesukaanku. Dia selalu semangat. Dan mampu menularkan keceriaannya kepada teman-teman sekelasnya.
Anaknya manis dan sopan. Ajaran kedua orang tuanya.
Kebetulan Aku kenal. Mereka teman kampusku dulu.
“Gitu Pak.. Jadi, Aku kayaknya liburan nanti mau kesana lagi.”
Dita tertawa.
“Wah.. Bisa-bisa Kamu nanti jadi pemancing handal ya. Kita kasih tepuk tangan untuk Dita.”
Ruangan ini kembali riuh.
Dita kembali ke tempat duduknya sambil tersenyum bangga, seperti telah memenangkan sesuatu.

“Berikutnya... Toni.. Sudah siap? Ayo ke depan, ceritakan kepada teman-teman semua.”
Toni mengangguk dan mulai berjalan ke depan kelas dengan malu-malu.
“Ng.. Selamat pagi teman-teman.. Aku mau cerita tentang berladang.. Ng.. Kakekku adalah seorang petani.. Ng.. Kemarin Kakek mengajak...~”

Toni, seorang anak lelaki pemalu yang senang berdongeng. Tetapi berani bercerita hanya kepada boneka-boneka yang tersusun di belakang kelas.

Setelah semua anak bercerita ke depan, giliranku untuk bercerita.
Aku menceritakan tentang liburanku.
Dalam waktu dua minggu, yang Aku lakukan setiap hari ialah ke taman kota dekat sekolah ini dan mulai melukis.
Aku suka melukis.
Aku ingin mengajarkan kepada mereka tentang ekspresi dalam setiap lukisan.
Ah, bukan. Bukan mengajarkan mereka paham realisme, atau naturalisme, atau impresionisme dan teman-temannya. Tetapi memberitahu mereka bahwa, melukis bisa menyalurkan ekspresi. Daripada melakukan hal yang lainnya yang cenderung buruk, lebih baik salurkan ke hal lain yang lebih baik, melukis misalnya.

Tidak terasa, jam pulang sudah datang.
Setelah menutup sesi pembagian nilai tentang tugas ketika liburan, Aku mengucapkan selamat jalan dan sampai bertemu lagi kepada Anak-anak didikku.

“Pak Yoga, di panggil Ibu Kepala Yayasan.”
“Iya, baik Bu Nur.”
Aku menghentikan kegiatan membereskan catatanku dan sesegera mungkin menghapus papan tulis yang penuh dengan corat-coret.

TOK-TOK-TOK..
“Ibu, memanggil Saya?”
“Masuk Pak Yoga. Silahkan duduk.”
“Terima kasih Bu.”
“Pak Yoga yakin, akan melanjutkan bekerja disini?”
“Yakin Bu.”
“Apa tidak sayang, Pak Yoga sudah diterima mendapatkan beasiswa ke Jerman tetapi tidak diambil?”
“Tidak apa-apa Bu. Nanti Saya bisa mengajukan lagi.”
“Kalau boleh Saya tahu, kenapa Pak Yoga tidak jadi pergi?”
Aku hanya tersenyum.
“Ada hal yang belum selesai disini Bu. Jadi belum bisa pergi.”
“Oh begitu. Tapi Pak Yoga pintar sih, Saya yakin nanti kalau daftar lagi dan sudah siap, pasti dapat beasiswa lagi.”
“Terima kasih Bu.”
“Ya sudah kalau begitu. Selamat menjalankan tugas lagi ya Pak Yoga.”
“Iya, terima kasih Bu. Jika tidak ada hal yang lain, Saya permisi.”
“Silahkan.”

“Yoga!”
Aku mencari arah suara.
“Rona?! Ina?! Hai..”
Aku berjabat tangan dengan keduanya. Mereka adalah orang tua Dita.
“Kita kemaren ngomongin Kamu loh. Enggak jadi ngambil beasiswa itu ya?”
Aku tersenyum.
“Kita denger kok ceritanya. Masa lalu Ga. Kita sekarang harus belajar lebih dewasa.”
“Sayang, enggak usah sok dewasa. Bukannya semangatin Yoga, malahan diledekin.”
Ina memukul pelan tangan suaminya.
“Gimana kalau hari ini Kamu ke rumah Kita? Nanti Aku masakin tongseng kesukaan Kamu deh.”
“Iya, Ga. Ikut ke rumah yuk. Kita ngobrol-ngobrol sekalian.”
“Makasih ya guys. Tapi masih ada tugas nih. Belum selesai. Kayaknya pulangnya sore. Makasih loh atas tawarannya. Mungkin bisa lain kali..?..”
“Bisa banget Ga. Ya udah. Kita duluan ya Ga.”
“Pak guru Om, Aku pulang dulu ya.. Dadaaaah..”
Dita menyalami tanganku. Karena Aku adalah Gurunya dan teman orang tuanya, Dia suka memanggilku Pak guru Om.
“Iya, hati-hati ya cantik..”

Aku kembali ke kelasku setelah banyak melambaikan tangan kepada Anak-anak didikku yang berpamitan pulang di jemput orang tuanya.
‘Ada yang belum selesai? Urusan apa? Ha.. ha.. ha..’, ucapku bebisik sinis.
Aku memandang ruang kelas ini. Kosong.

‘Aku pengen Kamu jadi guru TK’
‘Kenapa?’
‘Biar nanti anak kita semangat sekolah. Karena bisa ketemu sama Papahnya.’
‘Cuma karena itu?’
‘Iya. Pokoknya harus.’
‘Oke.. oke..’

‘Aku enggak suka Kamu pakai baju garis-garis itu.’
‘Loh? Kenapa?’
‘Ngingetin sama Zebra. Aku enggak suka sama Zebra.’
‘Oke.. oke..’

‘Aku enggak suka Kamu asik terima telepon ketika bareng Aku.’
‘Kenapa?’
‘Bisa enggak sih, Kamu enggak nanya ‘kenapa, kenapa’ terus?!’
‘Tapi itu kan kerjaan..’
‘Pokoknya AKU ENGGAK SUKA!’

Indah.. Namanya tidak sesuai dengan sifatnya, kurasa.
Aku menjalani hubungan sudah 3 tahun.
Karena Aku tergolong manusia yang cuek, keposesifan Indah rasanya masih bisa Aku izinkan.
Ketidaksukaannya, kecemburuannya, larangan-larangan ini dan itu, semua masih bisa Aku jalani.

‘Besok siang kita ketemuan di tempat biasa ya.’
‘Sepulang kerja Aku ya. Eh, Tumben harus janjian dulu? Biasanya hari kerja sibuk banget, sampai weekend juga enggak bisa ketemuan.’
‘Udah deh, enggak usah ngegoda. Enggak lucu tau! Udah ah, sampai besok. Bye!’
Indah menutup telepon duluan.

Sudah enam bulan ini Dia dingin.
Walau masih melarang ini dan itu, tetapi tidak semanja dulu.
Mungkin kerjaannya sekarang membuatnya menjadi dewasa.
Dia adalah seorang sekretaris di sebuah perusahaan ternama di kota ini.
Kepintarannya itulah yang membuatku jatuh cinta.

‘Kenapa sih, Kamu tetap menjadi seorang guru TK?’
‘Hah? Kan biar Aku bisa ngajarin anak kita nanti’
‘Kan enggak harus jadi guru TK. Kamu cerdas loh. Kamu dapat beasiswa ke Jerman. Kamu bisa terusin S2 disana. Kan bisa jadi dosen, atau apa kek’
‘Kamu enggak inget pas kita kuliah Kamu yang minta Aku untuk jadi guru TK?’
‘Tapi Kamu kan laki-laki. Harusnya Kamu bisa dong ngatur Aku. Tolak kek, apa kek.’
‘Kamu kenapa sih? Tiba-tiba emosi gini?’
‘Kok Kamu bilang Aku emosi?! Kamu berubah! Kamu dulu enggak pernah marah-marah sama Aku!’
‘Hah? Apanya? Aku enggak marah loh ini. Aku nanya.’
‘Udahlah! Kita udah enggak cocok. Kita putus!’
‘Kok? Tapi..~’
‘Aku mau pulang! Bye!’
‘Indah...’

Indah pergi meninggalkan Aku di kursi kesukaan Kami berdua.
Entah mengapa rasanya diri ini tidak ingin mengejarnya dan meminta penjelasan ini dan itu.

TOK-TOK-TOK..
“Ya.. sebentar.. Ya..?..”
“Dengan Bapak Yoga?”
“Iya, Saya.”
“Ini ada kiriman dokumen. Tanda tangan disini Pak.”
“Terima kasih ya Mas.”
Kubuka. Undangan pernikahan Indah dengan Jeremy, teman kantornya. Bosnya. Atasannya. Orang yang selalu Dia ceritakan dengan bangga.
Baru saja kemarin Kami putus.
Bahkan baru saja 18 jam lalu.
Belum 24 jam.
Belum hitungan hari.

Aku membolak-balikan undangan itu. Membaca dengan teliti. Berharap ada kesalahan pada nama mempelai atau foto mempelai. Tapi semakin teliti, semakin tidak percaya. Karena itu nyata. Itu nama Indah-ku yang kupercayakan hatiku. Indah-ku yang kujalani 3 tahun tanpa pertengkaran karena Aku malas bertengkar untuk hal remeh. Iya, itu adalah Indah.

Ingin rasanya Aku mendatangi rumahnya dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi kuurungkan.
Aku membatalkan tiket pesawat yang ku beli. Membatalkan mimpi bersekolah di Jerman. Membatalkan meneruskan S2. Membatalkan pengunduran diri dari tempat mengajarku.

Indah tidak harus menjadi bagian dari mimpiku lagi.
Toh selama ini Dia mempersiapkan pernikahannya dengan orang lain ketika Dia bersama denganku.
Indah, tidak selamanya Indah.

_rdmw_

Tuesday, September 15, 2015

Cerita lain tentang pesan-antar

“Selamat malam, Healthy Chicken dengan Rosi ada yang bisa di bantu?”
“Malam mbak, Saya mau pesan.”
“Dengan siapa Saya bicara?”
“Saya Alga”
“Oke mbak Alga, ada nomor lain yang digunakan selain nomor ini?”
“Cuma ini aja mbak.”
“Baik. Mbak Alga alamat masih di jalan serayu nomor 60?”
“Iya mbak, masih.”
“Baik mbak Alga, pesanannya silahkan.”
“Saya pesan paket combo dua nya lima ya mbak.”
“Paket combo dua, green chicken satu, nasi satu, perkedel kentangnya satu dan lemon tea nya satu, lima paket. Ada tambahan lain mbak?”
“Sama susu coklatnya dua.”
“Susu coklat dua. Ada lagi?”
“Sudah.”
“Baik. Saya ulangi pesanannya ya. Paket combo dua nya lima buah ditambah susu coklatnya dua buah. Totalnya seratus dua puluh tiga ribu sudah dengan ongkos kirim. Membayar menggunakan pecahan berapa mbak? Biar nanti kami siapkan.”
“Dengan seratus ribuan mbak.”
“Dengan seratus ribuan, pengiriman sekitar 15 sampai 30 menit. Tidak apa-apa?”
“Silahkan mbak.”
“Ada lagi yang bisa kami bantu mbak Alga?”
“Itu aja dulu. Terima kasih mbak.”
“Terima kasih sudah menghubungi Healthy Chicken. Selamat malam.”
“Malam”

“Raaaaf, pesanaaaan..”
“Iya.. sebentar..”
“Jalan serayu nomor 60. Atas nama Mbak Alga. Rumahnya warna biru muda kedelapan dari jalan, ketiga dari pojok belokan yang mau ke mini market.”
“Wah... Mas Ibnu sampai hapal gitu”
“Langganan Raf. Sekitar sebulan sekali pasti ada nelepon pesen Healthy Chicken.”
“Oooh.. Oke deh. Pergi dulu mas.”

15 menit kemudian..
Tok.. Tok.. Tok..
Tidak lama, pintu abu-abu itu terbuka.
“Selamat malam.. Kami da..”
“Ya..”
“Maaf. Kami dari Healthy Chicken  mengantarkan pesanan atas nama Mbak Alga..?..”
“Iya, Saya sendiri.”
“Ini mbak, pesanannya. Combo dua nya lima..Totalnya seratus dua puluh tiga ribu rupiah.”
“Hmmm.. Susu coklatnya mas?”
“Oh iya maaf. Susu coklatnya dua ya mbak.”
Wanita itu tersenyum. Manis..
Sambil menyerahkan uang dua lembar seratus ribu, dia meletakkan pesanan diatas meja ruang tamu.
“Kembaliannya tujuh puluh tujuh ribu rupiah ya mbak. Ini silahkan..”
“Iya terima kasih mas..”
“Eh, Saya Rafa..”
Alga tersenyum.
“Terima kasih mas Rafa”
Rafa menjabat tangan Alga.
Terdiam dan terhening.
“Maaf mas Rafa..”
“Iya. Maaf mbak Alga.. hem.. ada lagi yang bisa Saya bantu?”
Heningnya Rafa membuat Alga harus menegurnya agar melepaskan tangan Alga.
“Enggak kayaknya. Terima kasih ya..”
“Kalau begitu, selamat malam.. Mbak.. Alga..”
“Iya..  Selamat malam Mas Rafa”

Alga menutup pintu.
Rafa sudah menaiki motornya dan terdiam menatap pintu rumah Alga.
Membayangkan Alga tersenyum di depan pintu.
Dan membalas tersenyum, seolah itu nyata.
"Sampai jumpa bulan depan", ujar Rafa berbisik.
Ya, Rafa menikmati senyum Alga dan menyukainya sejak pertama.
_rdmw_