Saturday, April 30, 2016

Gara-gara permainan

Selamat akhir bulan April, Bubbly-blog..

Jadi inget tahun kemaren deh.

Persiapan Saya menuju Mei ke Je-ka-te buat pulang kampung ke Pe-ka-u.

Tapi, kali ini Saya berbagi cerita bukan ngajakin bernostalgia tahun lalu.

 

Kemarin jam 5.39 pm atau jam setengah enam lebih sembilan menit sore hari, ada telepon masuk. 

Awalnya Saya ragu buat ngangkat. Soalnya enggak ada namanya. Yang terpampang cuma no.nya aja. Tapi.... ya sudahlah. Sudah di geser ke tanda menerima telepon.

 

Sekitar 8 menit Saya berbincang dengan pemilik No. tersebut.

Ternyata itu adalah teman SMP Saya.

 

Perbincangan Kami dibuka dengan kata “Halo” seperti biasa.

Saya sudah hilang komunikasi dengannya sejak sekitar.. hem.. terakhir itu.. 2012 kalau enggak salah inget.

Waaaw... 4 tahun ternyata ya. Lumayan lama juga.

 

Intinya, Kami bisa berkomunikasi lagi karena memainkan permainan online telepon genggam yang sama.

 

Awalnya Saya enggak tau ternyata teman Saya itu memainkan permainan itu.

Sampai ada misi yang mengharuskan untuk disesuaikan di salah satu media sosial.

Secara enggak sengaja, teman-teman media sosial Saya (yang juga memainkan permainan yang sama) di tambahkan menjadi teman permainan itu.

Dia salah satunya.

Ketika Saya sedang berkunjung ke “tetangga” untuk mendapatkan tambahan poin, barulah Saya sadar kalau ternyata Kami sama-sama pemain.

Ada dua permainan sih sebetulnya, hanya saja yang satu lagi itu Dia enggak aktif. Tapi, karena Kami masih berteman di salah satu aplikasi obrolan, membuat Saya tetap terdaftar sebagai “tetangga”-nya.

 

Hal yang membuat Saya sedikit kaget adalah,

 Dia : Iya, sekarang kan Aku udah jadi Ibu rumah.

  Eh, Kamu tau enggak Aku udah jadi Ibu rumah tangga?

Saya : HAH?! Apa?! Kamu udah jadi Istri? ASTAGA!! Selamat yaaa... Maaf ihh Risma enggak tau..

Dia : Ih Aku teh ngirim undangan via Line memang enggak nyampe?

Saya : Oiya? Enggak ada loh. Memang kapan?

Dia : Pantesan. Kata Aku teh, kenapa Kamu enggak ngabarin balik. Desember tahun lalu, Ma..

Saya : Enggak nyampe.. Jadi Risma enggak tau deh..

Dia : Enggak apa-apa, Ma. Minta doanya aja ya

Saya : Pasti di doain sama Risma

 

Kurang lebih begitulah salah satu obrolannya.

Saya antara kaget sama seneng sih.

Maksudnya kaget, ya karena baru tau aja.

Seneng karena... ya seneng aja..

Salah satu temen deket Saya yang dulu sudah ada yang menemani dalam hidupnya.

 

Terus Saya mikir..

Mungkin, kalau bukan gara-gara permainan itu, Saya dan Dia masih belum ada komunikasi sampai sekarang.

Tuh, tambahan positif dari permainan online, Bubbly-blog  ;D

 

Bandung,

30 April 2016

Salam,

Risma Dwi MW

Thursday, April 28, 2016

Cerita lain tentang menyukaimu terkadang sakit

“Kak Aris! Dapet salam! Dari Rima”, Ita dan Yuli menunjuk Aku, yang sedang berusaha menunduk agar tidak dilihat Kak Aris.

“Kalian mah ih!”, Aku memukul Mereka dengan pelan sedikit kesal.

Aku yang kikuk ditertawakan oleh teman-teman sekelasku yang sedang duduk menunggu keinginan untuk pulang.

 

Namaku Rima, Aku adalah mahasiswi baru Sekolah Tinggi ini.

Hari ini belum ada perkuliahan biasa sih. Tapi ada Kuliah Umum tadi pagi.

 

Mari, sedikit kuceritakan Kak Aris itu siapa.

Dia adalah Kakak kelasku.

Orangnya tidak begitu tampan.

Aku tertarik padanya karena Dia unik.

Mungkin enggak unik juga ya.

Jadi gini, ketika Aku mengikuti ospek, Aku suka sekali duduk daerah belakang.

Aku senang duduk di belakang karena tidak ingin menjadi pusat perhatian.

 

Jadi, Kak Aris ini, kebetulan menjadi panitia divisi publikasi dan dokumentasi.

Entah kenapa, Dia hobi banget untuk menghalangi pandanganku.

Jadi kalau Dia sedang ‘bertugas’, pengambilan gambarnya selalu didaerah depan tempat Aku duduk.

Sehingga apa yang terjadi di depan enggak kelihatan olehku.

Mau marah tapi Aku anak baru, Aku sedang tidak ingin mencari masalah.

Enggak marah juga kesal sendiri. Jadi hanya bisa ditahan.

 

Saking sering menahan kesal, setelah pengenalan kampus selama total 4 hari itu, Aku jadi malah mencari keberadaan Kak Aris.

Kurang kesal apa coba, yang terjadi akhirnya Aku malah tertarik padanya.

HIH!

 

Gara-gara teman-temanku yang iseng meminta no teleponnya, Kak Aris jadi kenal denganku.

“Rima! Dapat salam dari Saya. Jangan lupa sms ya!”, ujarnya sambil tertawa.

“Ih! Lelaki aneh!”, ucapku dalam hati dengan tingkah sedikit kikuk.

 

Dengan kelakuan aneh dan gaya yang serampangan, Aku enggak akan tahu kalau aslinya Kak Aris adalah orang yang baik.

Pernah satu ketika, Kak Aris melihatku sedang sendirian di seberang lobby kampus.

“Hei! Ngapain?”

“Ng.. Lagi duduk..?..”

“Maksudnya, tumben sendirian?”

“Mau pergi makan tapi tanggung. Bentar lagi ada kuliah lagi. Jadi nunggu ada disini”

“Ditinggalin temen-temen makan?”

“Iya. Tadi soalnya ngasih tugas anak-anak ke dosen dulu”

Lalu kemudian Kami berbincang mengenai hal-hal yang tidak penting.

“Udah jam 1 kurang. Aku ke atas dulu ya Kak.”

“Oh iya bener. Oke”

“Kak Aris ada kuliah lagi?”

“Enggak. Tadi rencananya mau pulang. Terus ngeliat Kamu. Ya udah ngobrol dulu. Sana naik. Daaah”

 

***

 

Sebenarnya, bisa dikatakan Aku cukup keras kepala untuk suka pada Kak Aris.

Karena setiap Aku memiliki kesempatan untuk memberikan kode-kode enggak jelas padanya, Dia hanya tersenyum, atau bahkan hanya tertawa.

Semacam Dia menolakku berkali-kali, tetapi Aku masih tetap menyukainya.

 

***

 

“Rima, Saya suka sama Kamu. Tapi, bukan suka yang seperti itu.

Kamu, disukai oleh banyak orang.

Sedangkan Saya, banyak yang enggak suka sama Saya.

Saya enggak mau, nantinya gara-gara Kamu dekat dengan Saya, Kamu malah jadi dibenci sama orang”

 

***

 

“Rima...”

Aku melihat muka Kak Aris sedikit lesu.

“Apa?”

“Saya udah 5 kali di tolak..”

“5 kali?”

“Iya. Masa coba, Saya udah...~”

“Tunggu.. tunggu..

Kak Aris masih inget kan, Aku ngecengin Kak Aris loh..”

“Iya, tahu.

Jadi gini ya, masa....~”

“....”

Mau tidak mau Aku mendengarkan cerita Kak Aris dengan seksama.

 

Rasanya sakit, tapi ya, Aku masih tetap menyukainya.

 

_rdmw_

*based on true story, kadang masih suka ketawa sendiri nginget hal ini

Sunday, April 17, 2016

Salah paham

Selamat Bulan April, Bubbly-Blog..

 

Beberapa waktu yang lalu, dua pria dari banyak teman karib Saya datang ke rumah.

Yang diundang hanya satu sih. Yang satu lagi datang gitu aja (kalau orangnya baca pasti mencak-mencak hahaha)

Ada beberapa picaritaeun sih ceuk basa sunda mah.

 

Cerita-cerita itu adalah hal yang terjadi dalam hidup mereka selama beberapa hari terakhir.

Kalau Saya enggak salah ingat, pertemuan terakhir Kami bulan lalu.

Sebetulnya sih enggak pernah ada jadwal tetap pertemuan.

 

Saya ceritakan sedikit kedekatan dengan Mereka ya...

 

Yang satu Saya kenal sejak hari terakhir pengenalan kampus.

Ketika pulang, Saya dan Dia berada di angkutan umum yang sama.

Dia duduk di depan, dan Saya di belakang supir.

(soalnya kalau naik kendaraan umum, Dia suka mual kalau enggak duduk di depan)

Saya jadi kenal Dia karena berbasa-basi dan Dia bilang mau masuk ke Unit Kegiatan Mahasiswa yang sama dengan kecengan Saya kala itu (hahaha).

Dia merupakan karib... apa ya.. hem.. karib curhat, tempat Saya nangis, tempat Saya kesal, ngomongin orang.. Dia orang yang tau cerita hidup Saya bangetlah.. walau Dia lupa tanggal ulang tahun Saya (harus banget ini di tulis ahahahaha)

 

Yang satu lagi.. Dia.. hem.. karib sekelas, karib satu organisasi, karib curhat juga. Pokoknya kalau tentang kecengan Saya, Dia merupakan jajaran atas yang harus tau.

Dulu pas Kami masih zaman kuliah, Dia yang paling sering marahin Saya kalau tentang perasaaan.

Soalnya Saya kan keras kepala dan susah sensitifnya kalau masalah perasaan antara laki-laki dan perempuan.

 

Dan Mereka pernah satu kelas dulu pas kuliah (walau beda jurusan. Karena ada mata kuliah yang sama). Terus Mereka dekat juga karena ada masa dua-duanya dekat dengan lawan jenis dan lawan jenis tersebut satu geng. Gitulah pokoknya..

 

Jadi, bertemu dirumah Saya merupakan momen yang cukup menyenangkan.

Ditambah malam itu, Saya ketawa sampai mengeluarkan air mata karena kedodolan kelakuan Kami (Mereka sih. Saya banyak ngetawain Mereka lebih tepatnya ahahaha)

 

Sampai pada suatu cerita...

Karib Saya yang pertama membuat suatu pembaharuan status di salah satu jejaring sosialnya.

Dan karib Saya yang kedua mengomentarinya.

Hingga ada satu komentar karib Saya yang kedua yang kemudian dihapus oleh karib Saya yang pertama.

Karena menurut karib Saya yang pertama, jika diteruskan, takutnya nanti malah membuat perasaaan Mereka saling tidak enak satu sama lain.

Ketika karib Saya yang kedua melihat bahwa komentarnya dihapus oleh karib Saya yang pertama, Dia merasa tidak nyaman.

Bukan karena sakit hati, tapi takut komentarnya malah menyinggung perasaan karib Saya yang pertama.

Dan setelah kejadian yang berlangsung dengan hitungan menit itu terjadi, kedua karib Saya terlintas perasaan tidak enak di diri Mereka masing-masing.

Iya, Mereka ditempeli kesalah-pahaman gengs!

 

Jadi ada kabar tentang karib Saya yang pertama.

Karib yang pertama berpikir karib Saya yang kedua akan membahas masalah itu.

Sedangkan karib Saya yang kedua baru tau kabar tersebut ketika Kami bertiga bertemu di rumah Saya.

Yang tentu saja ketika itu, karib Saya yang kedua belum tau kabar apa-apa.

(Kira-kira paham enggak? Hahaha)

 

Dan masalah itu diselesaikan.. eh bukan diselesaikan ya.. karena Mereka menganggap itu bukan masalah (hem.....)

Dijernihkan mungkin bahasa tepatnya..

Ah.. ngertilah ya maksudnya..

 

Kalau dalam pemikiran Saya, kenapa Mereka bisa salah paham, karena yang satu kondisinya sedikit sensitif, dan yang satu lagi orangnya iseng.

Terjadilah salah paham tersebut.

 

Pelajaran yang bisa dipetik adalah.....

1. Jangan suudzon

2. Kalau sekiranya ada hal yang mengganggu dihati, langsung diselesaikan. Terlebih kalau masalahnya dengan orang terdekat. Kalau enggak, jadinya malah suudzon kan.. (tuh.. balik lagi deh ke poin pertama)

 

Kayaknya kalau Mereka enggak dateng ke rumah Saya, masih suudzon aja satu sama lain.

Tetep komentar status atau berteman sih... tapi dengan perasaan mengganjal dan ngomongin satu sama lain.. mungkin..

Seperti kebanyakan orang zaman sekarang..

*malah suudzon *Astaghfirullah >,<

 

Dan Saya enggak sabar ketemuan lagi dengan Mereka..

Eh, menertawakan kedodolan Mereka lebih tepatnya

*naha malah jahat? Hahaha

 

Jadi Bubbly-blog, kalau ada masalah, selesaikan ya... *kiss

Bandung, 17 April 2016

Salam,

Risma Dwi MW

Thursday, March 31, 2016

Ada yang kenal

Aloha Bubbly-Blog...

Setelah di postingan sebelumnya Saya menceritakan masalah nama yang dimasalahkan...

Eh, tunggu.. hambur kata ketang...

Ulang ya..

 

Setelah di postingan sebelumnya Saya menceritakan nama Saya yang menjadi masalah, ada kejadian lain diantara 60 menit lebih Saya di salah satu Bank itu.

 

Jadi, ketika Saya menunggu keputusan dari hasil diskusi antara Mbak CS yang menangani Saya dan Ibu supervisor yang mukanya ramah itu, ada sesosok lelaki yang mencurigakan.

 

Mencurigakannya bukan masalah pakaian ya.

Bukan juga membuntuti Saya.

 

Mas-mas itu, beberapa kali lalu-lalang di depan Saya. Maksudnya dibagian daerah para CS.

Iya, Mas-mas itu adalah pegawai Bank tersebut.

 

Kalau lalu-lalang biasa aja sih Saya juga enggak akan curiga. Lah emang dia kan kerja disana.

Tapi, ini lalu-lalangnya sambil curi-curi pandang melihat Saya.

Dan bukan karena Saya ge-er ya. Memang begitu kondisinya.

 

Sampai ketika lelaki itu berdiri di depan Saya banget dan berkata,

“Teh Risma, ya?”

 

Yap! Ternyata dia merasa kenal dengan Saya.

 

“I.. ya..?”

Dia : “Teteh anak Ekuitas kan?”

“Iya, betul..”

Dia : “Tuhkan, bener. Pantesan dari tadi teh asa kenal.”

“Oh, anak Ekuitas juga?”

Dia : “Iya teh, Saya Ari”

(dia menjulurkan tangan untuk berkenalan secara formal)

 

“Hai, Ari. Risma. Ari memang angkatan berapa?” (sambil salaman dan tersenyum ramah)

Dia : “Angkatan 2010-menejemen, Teh.”

“Oh..... kok bisa tau Risma?”

(Karena Saya merasa beda jurusan dengannya)

Dia : “Iya, dulu soalnya Ari suka ngeliat teteh bolak-balik ruangan DPM”

“Ooooh...”

Kemudian Saya pun hanya bisa nyengir saja.

 

Ternyata, laki-laki itu adalah Adik kelas Saya di kampus.

Sebenarnya, Saya enggak gitu ingat kapan Saya sering-bolak-balik-ke-ruangan-DPM itu.

Soalnya setau Saya, tahun itu Saya sibuknya bolak-balik ke lantai 3 dan 4, ruangan pembimbing dan ruangan Ketua Prodi.

 

Tapi... Ya sudahlah ya.. Dia merasa melihat Saya di momen itu.

 

Tuhkan, sudah Saya duga, ternyata memang Dia merhatiin Saya karena merasa kenal.

Bukan karena ge-er semata kan.

 

Kejadian lainnya adalah tahun 2014..

Ketika itu Saya akan menabung di salah satu Bank dekat tempat tinggal Saya.

Saat Saya akan setor, ternyata Bank nya sepi.

Ditanyalah Saya oleh CS.

Dia : “Teteh mau setor?”

“Iya. Teller-nya kemana ya?”

(Saya lihat jam dinding. Rasanya belum masuk jam tutup juga)

Dia : “ Teller-nya sedang kebelakang, Teh. Ditunggu dulu aja sebentar ya, Teh.”

“Oh.. iya deh..”

Saat Saya akan duduk, Dia melanjutkan..

Dia : “Teteh... Teh Risma kan..?..”

(Saya lihat papan namanya, “Indah ...(siapa gitu)..)

“Iya....?...”

Dia : “Aku Indah, Teh. Anak Ekuitas juga..”

“Oh.. Hai Indah..”

Dia : “Aku asa baru lihat Teteh kesini hari ini?”

“Iya, kebetulan deket rumah. Jadi..~”

Dia : “Memang rumah Teteh dimana?”

 

Ya pokoknya intinya, Indah ini adalah salah satu Adik kelas Saya di kampus.

Kalau enggak salah inget Kami satu jurusan juga. Dan sempat membicarakan tentang Adik kelas yang lain yang sama-sama Kami kenal.

Begitulah...

 

Harusnya Saya tau ya, bisa aja Saya ketemu sama orang yang kenal dengan Saya di beberapa Bank di kota ini... soalnya kebanyakan lulusan kampus Saya memang kerjanya di Bank sih..

Walaupun enggak semua Saya kenal sih =D

 

Bandung,

Maret 2016

Salam,

Risma Dwi MW

Thursday, March 10, 2016

Masalah Nama

Selamat bulan Maret, Bubbly-Blog.

Beberapa bulan yang lalu (hitungannya tahun kemarin), Saya tertimpa kekurangbaikan.

 

Tersebutlah suatu malam, Saya akan melakukan transaksi pembelian secara online.

Sehubungan dengan salahnya meng-klik cara pembayaran, mengharuskan Saya untuk melakukan transaksi melalui mesin ATM.

 

Waktu itu gerimis sedang turun secara perlahan.

Entah mengapa sedikit ada hal yang mengganjal di hati ini ketika akan keluar rumah.

Tapi, Saya acuhkan saja.

 

Karena sudah cukup lama tidak berjalan dibawah hujan, cukup menyenangkanlah perjalanan yang hanya sekitar 5 menit tersebut.

 

Ketika sampai di depan mesin ATM, perasaan kurang menyenangkan tibatiba muncul.

Mesin ATM nya masih tetap bersuara, ah mungkin memutarkan theme song, ya gitulah pokoknya.

Tetapi, layarnya menghitam.

Dengan kurang pintarnya, entah bagaimana Saya tetap memasukan kartu ATM Saya.

Dan jalan ternyata.

Mesin ATM meminta PIN, dan berjalan sebagaimana mestinya.

 

Sampailah ketika Saya menekan tombol untuk transfer.... Dan kemudian layarnya blank, sudah tidak ada lagu-lagu itu lagi, mesinnya diam. Saya juga diam. Bapak-bapak yang ngantri di belakang Saya sibuk dengan teleponnya.

Kemudian Saya bertanya kepada Bapak tersebut,

Me : Maaf Pak, mau ke ATM ini juga? (Saya tunjuk mesin ATM nya)

Bapak yang sedang ngantri (BYSN) : Iya, Mbak

Me : Kayaknya mesinnya rusak, Pak. ATM Saya barusan ketelen, terus layarnya nge-Blank

BYSN : Hah? Ya ampun, Mbak. Cepet, cepet, telepon itu Mbak, ke no yang ini (nunjuk no telepon call center), minta blokir, Mbak.

Me : Iya, Pak.

 

Sebetulnya, setelah menginfokan bahwa si mesin ATM rusak teh, Saya juga mau menghubungi call center tersebut untuk memblokir kartu Saya.

Saya sudah mencoba memberi info ke Bapak tersebut agar bisa mencari mesin ATM lain terdekat dan bukannya malah memasukan kartu ATMnya.

Ternyata malah Bapak itu yang panik hahaha

 

Setelah Saya menghubungi call center, Saya pun pulang.

Yaaaah ATM Saya ketelen deh.

Ya sudahlah.

 

Nah, besoknya teh kebetulan Saya akan menemani teman Saya ke beberapa tempat.

Dan Saya pun memasukan Bank yang mengeluarkan kartu ATM Saya ke dalam daftar perjalan mampirmampir Kami.

 

Awalnya, Saya mengecek ke kantor cabang utama Bandung Bank tersebut.

Ternyata tidak bisa, alasannya :

“Maaf Teh, masalah ini bisanya langsung ke cabang Teteh buka tabungan. Soalnya beda semua kan. Walau orangnya kan masih tetep sama ya.. gimana atuh?”

 

Gitulah kurang-lebihnya.

 

Saya jelaskan sedikit.

Jadi, Saya membuka tabungan itu ketika duduk di bangku SMA kelas 2, eh, kelas XI atuh ya sekarang mah namanya teh.

Belum punya KTP dan harus meminta keterangan dari sekolah.

Sebenarnya nama Saya sih enggak sesusah dan sepanjang itu, hanya saja, memang lebih panjang dari nama orang kebanyakan.

Nama Saya terdiri dari 4 suku kata.

Kalau di E-KTP, hanya 3 suku kata depan nama Saya (katanya kepanjangan. Padahal katanya nama teh bisa di dua bariskan)

Kalau di KTP sebelumnya, lengkap 4 suku kata.

Standar Saya menuliskan nama biasanya 2 suku kata awal nama Saya diikuti 2 inisial depannya saja.

Atau, penulisannya 3 suku kata diikuti 1 lagi inisial depannya saja.

 

Tapi, nama di buku tabungan Saya di Bank tersebut menuliskan 3 suku kata dan 1 inisial.

Bedanya adalah, inisial yang disingkat itu di tengah. Bukan di belakang, selayak dan senormal dan secara umum orang menyingkat nama dengan inisial.

Dan entah mengapa, ternyata pencetusnya adalah surat keterangan dari sekolah Saya itu.

 

Gimana coba ceritanya.....??.....

Nama Saya di kertas absensi sekolah juga lengkap kok. 4 suku kata tanpa ada singkatan inisial apapun.

Dan harusnya kan kalau mau menyingkat pun dibelakang, bukan di tengah.

(kira-kira kebayang enggak sih masalahnya? Hahaha)

 

Nah, hal itulah yang membuat Saya malas kalau harus berurusan dengan Bank tersebut.

Padahal muka masih sama loh. Maksudnya masih miriplah. Enggak berubah secara signifikan gitulah.

Dan nama juga masih itu-itu aja sih. Cuma perbedaan singkatan aja.

 

Dulu Saya pernah coba mengurusi tentang nama itu di tahun 2012.

Tapi, kata Ibu supervisor CS nya :

“Setidaknya minimal ada 2 dokumen yang menyatakan bahwa nama tersebut memang nama Mbak”

 

Karena Saya merasa ribet, Saya tinggalkanlah si masalah itu.

 

Dan kemarin, ketika harus mengurus tentang tertelannya kartu ATM, Saya sampai bawa akte kelahiran, surat keterangan dari kelurahan, Ijazah SMA, dan kartu keluarga (seniat itu Saya untuk menyelesaikan masalah nama)

 

Ternyata di kantor cabang utama tetap tidak bisa.

Merasa sudah hampir menyerah, kemudian teman Saya memaksa Saya untuk mendatangi kantor cabang tempat Saya membuka tabungan.

Sedikit ogah-ogahan Saya masuk dan menunggu untuk dipanggil berhadapan dengan CS.

 

Saya ceritakan kronologi tentang kartu ATM Saya yang tertelan dulu, kemudian bilang sudah di blokir, kemudian bla-bla-bla.... intinya, mau minta kartu ATM baru.

 

Ketika Mbak CS nya minta KTP dan buku tabungan, mulailah hal yang Saya bayangkan terjadi.

“Mbak, nama di KTP dengan yang di buku tabungan berbeda ya?”

 

JENG JENG JENG JENG!!!

 

Kembali Saya menceritakan kronologi Saya buka tahapan ketika SMA, belum punya KTP, dan ternyata dari sekolah dikasih surat keterangan itu dan bla-bla-bla.....

 

Si Mbak nya mulai memasang muka bingung.

 

“Maaf ya, Mbak, nama Saya nya kepanjangan. Tapi muka sama namanya masih sama kok, Mbak, Saya-saya juga”

Saya keluarkanlah semua surat keterangan yang Saya bawa.

 

Terus, si Mbak berdiskusi dengan supervisornya.

Supervisor yang berbeda dengan 2012 lalu.

Ketika pertama Saya lihat pas Saya baru mulai dipersilahkan duduk di hadapan meja CS, Ibu supervisor CS yang ini mukanya lebih ramah. Tapi mukanya lebih pucat dengan sedikit mata yang nanar akibat kelelahan. Sembari memijit pelan tempat diantara kedua alisnya.

Sepertinya sih, sedang merasa tidak sehat atau kurang enak badan.

Saya rasa sepertinya masalah nama akan selesai hari itu.

 

“Selama orangnya masih sama, dan namanya tidak ada perubahan, beresin aja. Kasihan nanti kalau ada urusan-urusan. Lagian ini namanya cuma beda di penyingkatan aja kan”

 

Lalu Mbak CS bilang :

“Sebentar ya, Mbak. Saya ambilkan dokumennya dulu”

 

DONE!

 

Setelah Mbak CS kembali dan membuat perubahan di data Saya, Saya ceritakanlah masalah yang terjadi di 2012.

Mbak CS :

“Biasanya itu mah tergantung kebijakan dari supervisornya, Mbak. Soalnya belum pernah ada masalah ini sih...”

 

Dan buku tabungan Saya juga di perbaharui.

 

Walau Saya harus lebih dari 60 menit hanya untuk urusan nama, setidaknya masalah yang berakar bertahun-tahun akhirnya selesai juga.

Saya enggak harus bawa-bawa akte kelahiran, kartu keluarga, dan surat keterangan kelurahan lagi kalau mau ke Bank tersebut jika ada masalah.

 

Saya jadi mikir, mungkin memang kartu ATM Saya harus tertelan di malam itu, biar besoknya Saya dipaksa ke Bank tersebut ketika supervisor CS itu sedang bertugas di hari itu.

Rencana Tuhan indah ya...

 

Jadi, Bubbly-blog, kalau nanti punya anak, kasih namanya jangan kepanjangan dan jangan bikin dia jadi susah nantinya ya..

 

Bandung, 10 Maret 2016

Salam,

Risma Dwi MW

(ini nih maksudnya 2 suku kata diikuti 2 inisial depannya saja)