Sunday, February 28, 2016

Cerita lain tentang Ulang Tahun

“Selamat pagi, Bayn Sayang. Bangun dong. Kamu enggak akan kerja, Sayang?”

 

Mataku langsung terbelalak.

Aku terkejut!

Jam di mejaku menunjukan pukul 3.15 pagi.

Dan ya, kamarku kosong.

Suara itu hanyalah mimpi semata.

Kubangunkan tubuhku.

Mungkin lebih baik Aku mengambil segelas atau setengah gelas air bolehlah, untuk kuminum.

 

Perkenalkan, namaku Bayn Yusuf.

Usiaku 35 tahun.

Dan masih sendiri.

Maksudku... belum menikah.

 

Aku adalah seorang Kepala bagian disebuah perusahaan yang bergerak dibidang jasa.

Sudah memiliki rumah sendiri, memiliki sebuah motor, sebuah mobil, dan menjadi korban bully teman-teman dekatku.

 

Sebelumnya kuperkenalkan sekilas saja tentang  teman-temanku.

Aku memiliki 8 orang teman dekat.

5 perempuan dan 3 orang lelaki.

Kami berteman dekat sejak kuliah.

Dan ya, Mereka semua sudah berkeluarga.

 

Sebenarnya Aku tidak begitu menggebu-gebu untuk menikah.

Tapi bukan berarti Aku tidak ingin menikah ya.

Karena Kakekku bukan berasal dari Indonesia dan saudara Kakek ada beberapa yang berusia 40 lebih baru menikah, membuat keluargaku tidak menuntutku untuk sesegera mungkin memiliki istri.

“Jodoh pasti akan datang, Bayn. Sabar saja”, Nenekku selalu berkata seperti itu.

 

“Apa mungkin Kamu suka sesama, Bayn? Tapi enggak sadar atau mungkin enggak mau ngakui?”

Dwima, adalah salah satu sahabat dekatku. Dia merupakan tempat curhat sejuta umat, termasuk Aku dan semua teman dekatku sejak Kami kuliah dulu.

“Amit-amit Wi. Enggaklah. Aku masih suka perempuan kok. Kamu taulah perempuan yang dekat sama Aku dulu siapa aja. Bahkan Aku sempat suka sama Anita.”

Anita adalah salah satu teman dekat Kami juga.

“Mungkin dulu sama sekarang... beda..?”

“Enggak Wi, bener deh. Aku masih suka perempuan.”

Dwima menghela napasnya sedikit panjang.

“Lagian kalau suka sesama enggak ngebuat Kita jadi ngejauh, Bro”

Dwima memandang Tama, suaminya, yang juga kebetulan salah satu teman dekatku.

“Eh, ini Aku konteksnya serius loh, Sayang. Kita enggak akan berubah kan, Bayn suka siapa aja dengan jenis apa aja...”, ucap Tama seperti membalas tatapan Dwima yang seolah berkata obrolan-ini-bukan-bahan-becandaan itu.

 

“Terus kenapa tiba-tiba ngebahas ini, Bayn? Biasanya kan enggak peduli”

“Jangan-jangan Mamah-Papah udah nanyain? Udah minta Cucu?

Tinggal bikin sih Cucu mah kan enggak harus nikah dulu hahahaha”

“Sayang, mendingan Kamu masak kek, nyebrangin orang tua kek, jualan rengginang kek sana.
Aku lagi ngobrol serius loh ini”, Dwima melemparkan pandangan paling sinis dan galaknya ke arah Tama.

 

Aku sempat ikut tertawa karena omongan Tama.

Tapi melihat mereka berantem sambil becanda ini membuat suntukku hilang.

Iya juga ya. Entah kenapa tiba-tiba Aku curhat masalah yang selama ini sebenarnya tidak begitu menggangguku.

 ***

“Met milad, Bro!

Hari ini kumpul di Turbo jam set2 ya.

Anak-anak juga mau pada dateng.

Dwima udah bikinin kue”

 

Ah, iya.

Ini hari ulang tahunku.

Terbesit kesedihan diotakku.

Eh, kenapa Aku harus sedih?

 

Kuambil telepon genggamku dan menghubungi Mamahku.

“Selamat ulang tahun, Nak. Terus kapan ke Singapur lagi?”

“Bawa Istri dong, Bang”

“Aduh, Dia ngeluarin kata keramat”

“Ba.. ba.. baaa.. baaaaaaaa....”

Dan kemudian Jerry, Anak dari Adik perempuanku menangis.

 

Dan selalu seperti itu setiap Aku dan keluargaku berhubungan melalui Video Call.

Adikku menikah dan ikut suaminya tinggal di Singapura.

Dan 6 bulan lalu Mamah dan Papah memutuskan untuk tinggal juga disana.

Kami memiliki 3 tempat tinggal yang bersebelahan disana. Peninggalan Kakekku dulu.

 

“Iya, terima kasih atas semua doa dan perhatiannya ya gengs.
Sekarang, Aku mau mandi dan nyari Istri dulu. Kali aja ada yang beli satu gratis satu.

Daaaah”

Aku masuk kamar mandi setelah puas tertawa dengan keluargaku.

“Selamat, Bro! Ulang tahunnya udah. Istrinya kapan?”

“Tuhkan! Aku udah yakin loh, Bayn, anak-anak pasti nge-bully Kamu hahaha”

“Habisan Kamu mukanya minta di bully, Bro!”

“Aku tau deh make-a-wish-nya. Pasti jodoh!”

“Pasti, ‘Tuhan, karena telat, jadinya double ya’ hahaha”

Aku ikut tertawa.

“Atau Kamu suka sesama kali, Bayn?”

“Udah-udah. Kuenya dipotong dulu dong. Ala-ala anak muda gitu”, Dwima mengalihkan pembicaraan.

 

“Oke. Oke. Gini deh,

Kalau ada disini, perempuan, yang ulang tahun juga, Aku nikahin. Aku jadiin istri. Hahahaha”

“Waaah! Bener ya?!”

“Iya, bener..”

“Serius?!”

“Wah! Parah Bayn hahaha”

Teman-temanku heboh.

“Selamat ulang tahun.. Selamat ulang tahun.. Selamat ulang tahun Nila.. Semoga panjang umur..”

“Happy Birthday, Nila! Yeeeeaaayyy!”

Terdengar lagu ulang tahun dinyanyikan berselang dua meja dari Kami.

Sebuah kue berlilin angka 2 dan 6 dibawa oleh salah satu pramusaji.

Aku dan teman-temanku saling pandang.

***

“Jodoh pasti akan datang, Bayn. Sabar saja. Tapi...  Hati-hati dengan ucapanmu”, Aku lupa dengan pesan lengkap Nenekku.

 

_rdmw_

Saturday, February 13, 2016

My 26

Hai Bubbly-Blog..

Selamat Februari..

 

Saya mau berbagi cerita tentang hal yang terjadi ketika Saya tambah umur.

Ketika itu, Saya memutuskan untuk bertemu, makan dan berbincang dengan beberapa orang yang dekat dengan Saya.

Sebenarnya sih tidak ada yang spesial ya.

Cuma mau makan dan ngobrol ngalorngidul aja.

 

Saya bukan mau nyeritain gimana-gimana nya, Saya mau nyeritain si beberapa kado yang Saya dapat.

 

Pertama adalah, Caca.

Sebenarnya namanya bukan Caca. Caca adalah nama kucingnya.

Karena Dia suka dengan nama itu, di kampusnya yang sekarang, Dia mengenalkan dirinya dengan nama Caca.

Singkat cerita, Dia memberi kado cokelat batang dan kue tart mini dengan hiasan jamur.

Awalnya Saya enggak tau kenapa Dia ngasih Saya dua benda itu.

Sampai Dia menjelaskan,

1. Cokelat batang :

Waktu itu Kami berbincang tentang makanan (banyak sih yang diobrolkan. Bukan cuma makanan aja), sampai di topik tentang cokelat. Saya bilang, “Eh Kakak pengen nyobain Cokelat Chunky Bar yang segede gaban itu tau enggak, Dek? Yang panjangnya semeter kalau enggak salah. Tapi waktu itu liat harganya dua ratus ribu.”

Dan katanya, Dia ingat perbincangan Kami waktu itu (yang kebetulan sekitar belum begitu lama). Dan Dia ngebeliin Saya cokelat.

She said : Tadinya mau ngebeliin yang lebih besar, Kak. Tapi, sehubungan kantong mahasiswa lah ya.. dan akhir bulan, jadi Adek beliin yang ini aja

 

2. Kue tart mini dengan hiasan jamur :

Saya suka dengan jamur. Lebih tepatnya bentuk jamur. Karena lucu aja, bertopi gitu. Tapi sukanya tuh bukan yang menggebu gitu. Dan Dia ingat akan hal itu.

 

Berikutnya adalah Salah satu karib Saya sejak.. hem.. sejak kapan ya..

Saya aja bahkan sampai lupa Kami bisa dekat itu kenapa.

Singkat cerita, Kami kenal karena sama-sama anak bawang di organisasi.

Maksudnya, karena waktu tahun pertama belum menjadi pengurus organisasi, cuma suka bantuin Kakak-kakak kelas yang udah jadi pengurus.

 

She said : Sebelum dibuka, Aku mau bilang dulu. Aku enggak mau tau. Kamu harus pake barang ini. Ini Aku beliin buat dipake. Pake ya

 

Ya, Dia mengucapkan kata “pake” begitu banyak. Untuk menekankan bahwa benda yang nantinya Saya ketahui setelah membuka bungkus kadonya harus digunakan.

 

Dia memberi Saya talenan.

Iya, talenan. Yang alas untuk mengiris sayur, buah, atau daging itu.

 

Saya suka memberantakkan dapur. Dan memang membutuhkan talenan.

Tapi... Talenan yang Dia kasih itu berpola Hello Kitty.

Saya suka dengan pola Hello Kitty sejak kecil, sejak Saya masih bayi.

Sukanya pake BANGET!

BANGETnya pake capslock!

 

Jadi, pergulatan hati Saya adalah, Saya enggak mau pake talenan itu karena itu bagus. Dan malah sayang kalau misalnya jadi rusak terkena goresan pisau.

Pokoknya, ada kegalauan dihati ini tentang talenan itu.

 

Selanjutnya, keesokan harinya, salah satu karib Saya yang lainnya datang.

Karib yang masuk 10 tahun pertemanan dan keakraban Kami.

Di minggu sebelumnya, Kami berbincang di telepon (setelah selesai ngomongin orang, tentu aja =D).

She said : Aku mau ngasih sesuatu sama Kamu. Sebenernya udah lama sih mau ngasihnya. Tapi nanti aja deh ya, sekalian aja buat kado pas Kamu ultah.

Jadi, ketika Dia datang, “Aku bawain iniiiii..... Waktu itu Aku teh di beliin ini sama Mamah. Terus kata Aku teh enak. Jadi Aku suka langganan gitu. Dan Aku tau Kamu pasti suka”

Dia bawain Saya Soto Bandung.

Iya, Soto Bandung.

 

Jadi, beberapa tahun silam, Saya pernah makan Soto Bandung buatan Mamahnya di rumahnya. Dan Saya suka.

Semenjak itu, Saya suka nanyain kapan Mamahnya masak Soto Bandung lagi, soalnya Saya mau numpang makan disana (enggak tau diri =D).

 

Hadiah berbentuk barang lainnya, baru Saya terima hari ini.

Salah satu Karib Saya yang lain datang.

Saya sudah dapat info sih Dia mau mampir.

Dia ngasih Saya kotak yang cukup besar, dengan kertas kado bergambar Doraemon, dan enggak semua kotaknya ketutupan.

 

Saya : Naon ini mah, naha enggak ketutupan semua?

Dia : Enggak ada lagi kertas kadonya ai maneh. Buka atuh ih buka sekarang

Saya : *buka kado pelan-pelan biar enggak robek

Dia : Naon atuh euy meni gitu bukanya. Sok-sok pelan-pelan. Robek we atuh

Saya : Nanti main asal buka, robek, urang deui nu disalahkeun

   Apa ini isinya gambar Hello Kitty tapi kertas kadonya Doraemon

Dia : Eweuh deui sateh. Urang udah menyiapkan jawaban karena tau maneh pasti akan menanyakannya hahaha

Saya : Meni sampai penyok gini kotaknya

Dia : Maneh mah ya! Kemaren Gue hujan-hujanan gara-gara ini. Nya atuh penyok dikit mah bae atuh. Baguskaaan.. Ada dua pasang. Ibu rumah tangga banget kan. Tupperware pula. Pas urang liat gambarnya ya, urang pikir segede tempat sayur buat di rumah gitu. Eh, ternyata misting. Bae lah nyak.

Saya : Iya. Bagus. Makasih yaaa

Dia : Hem.. Aku beli lah ya, sepuluh ribu, gimana?

Saya : Maneh mah! Ongkoh ngadoan, tapi hayang di beuli. Kumaha sih?!

 

Ya... Kita memang hobinya berdebat dan berantem enggak jelas gitulah.

 

Dan yang paling bikin saya mengernyitkan dahi adalah,

“Ucu ndak? Cu anet? Mez?”

 

MAKSUDNYA :

“Lucu enggak? Lucu banget enggak? Gemes enggak?”

 

Pergaulannya di Kota Megapolitan itu mungkin salah =’(

 

Diluar dari Kado berbentuk benda, Saya menerima Kado berbentuk ucapan.

Terima kasih untuk semua yang mengucapkan, mendoakan.

Baik yang melalui aplikasi obrolan, media sosial, maupun pesan singkat dan telepon.

Terima kasih juga untuk doa-doa yang mungkin tidak tersampaikan melalui ucapan.

 

Alhamdulillah..

Bandung, 13 Februari 2016

Salam,

Risma Dwi MW

 

*ada beberapa orang yang mengucapkan melalui media sosial yang membuat Saya sedikit kaget. Karena tidak terpikir mereka akan mengucapkan dan mendoakan. Ceritanya Saya share lain kali ya..

Sunday, January 31, 2016

Cerita lain tentang dibalik jendela

“Mah, Lury berangkat dulu yaaaa....”

“Kamu enggak sarapan dulu, Nak?”

“Enggak sempet, Mah.”

“Yaudah, di bekel aja, di bekel.”

 

Aku menunggu di sebelah meja makan sementara Mamahku mengambil tampat makan ke belakang.

 

“Lagian masih jam segini Kamu udah buru-buru. Ada apa sih?”
“Kan motorku di bengkel, Mah. Jadi hari ini mau ngangkot.”

“Kenapa enggak bareng Papah aja?”

“Enggak ah. Papah mah suka berangkat mepet jam kantor. Nanti Aku telat. Aku harus nyiapin materi meeting jam 10, Mah”

“Ya udah, ini”

“Aku pergi ya Mah.

Paaaah, Aku pergi.

Iyaaa. Hati-hati.

Dadah Mamah”

 

Setelah mencium Mamahku, dengan kecepatan super Aku mengambil kotak makanku dan melakukan ritual nanya-sendiri-jawab-sendiri seperti biasa.

 

Syukurnya Aku sampai lebih cepat di kantor. Dan berhasil menyiapkan materi tanpa ada yang tertinggal.

 

Sore menjelang.

Rapat yang bertotal 4 jam membuat alur waktu tidak terasa.

Mungkin karena Aku yang presentasi kali ya.

 

“Ry, pulang bareng?”

“Eh, Mas Albert..

Enggak deh”

“Tapi bukannya motor Kamu lagi di bengkel?”

 

Kenapa Dia bisa tau?

 

“Iya Mas, ini mau ngambil kok.”

“Ya udah Aku anterin ke bengkelnya aja.”

“Enggak usah Mas. Makasih, Aku duluan ya.”

“Tapi Ry...~...”

 

Secepat kilat Aku melangkahkan kaki untuk menjauh dari Mas Albert.

Kata rekan-rekan kerjaku, Mas Albert punya ketertarikan kepadaku.

Bukannya Aku enggak sadar dan enggak kerasa.

Tapi......

DIA SUDAH PUNYA PACAR!!

Dan Aku paling males jadi masalah di kehidupan percintaan orang lain.

 

Salah satu ujian kesabaran adalah ketika pulang sore dan jamnya banyak orang pulang kantor.

Terlebih Aku sedang menggunakan kendaraan umum.

Walau rumahku tidak di dekat dengan terminal, tapi Aku lebih senang duduk di pojok dekat jendela belakang.

Setidaknya Aku bisa melihat pemandangan dengan kaca yang cukup lebar, walaupun yang terlihat kendaraan lagi, kendaraan lagi.

 

Ketika sedang iseng menghitung kendaraan roda dua berwarna merah, ada salah satu pengendara bermotor laki-laki menarik perhatianku.

 

Dia bernyanyi tanpa suara meresapi lagu yang dinyanyikannya dengan penuh penghayatan sambil memejamkan mata.

Sepertinya Dia menggunakan earphone dan mendengarkan lagu kesukaannya.

Karena terlihat sangat hapal sekali.

Dengan pengucapan sangat jelas, Aku sampai merasa berhasil menebak judul lagunya.

 

Tanpa sadar, Aku menahan tawa dengan cara tersenyum.

 

Dia melihatku dengan kaget dan menghentikan kegiatannya.

Aku tersenyum padanya.

Dengan terlihat malu, Dia membalas senyumku.

 

“Lis-ten, Be-yon-ce”

Ucapku sejelas mungkin tanpa suara sambil menunjuk telingaku.

 

Dia mengangkat jempolnya.

 

Kemudian dikeluarkan telepon genggam dari sakunya dan seperti mencari sesuatu.

Melihatku lagi dan melakukan gerakan seperti memintaku untuk menebak lagu yang sedang didengarkannya.

Berulang lagi kejadian Dia menghayati lagu dan menyanyikan tanpa suara.

 

“Ha-ppy, Pha-rrell Wi-lli-ams”

 

Diangkatnya lagi jempolnya sambil tersenyum sumringah.

 

“Satu lagi”, ucap gerakan tangannya.

 

Sekali lagi berulang Dia melakukan gerakan menyanyi di mulutnya.

 

Untuk yang kali ini dahiku berkerut.

Ucapannya sangat tidak jelas dan membuatku sangat bingung.

 

Melihat mukaku kebingungan, dia tersenyum jahil.

 

“See you a-gain, ba-gi-an Wiz Kha-li-fa-nya”

 

Pantesan aja Aku enggak bisa nebak.

Aku memperlihatkan muka kesal kepadanya.

 

Angkot yang kunaiki sudah berhasil melewati perempatan lampu merah yang macet.

Arah yang kutuju lurus, sedangkan Dia berbelok ke arah kanan.

 

Kami saling berpandangan dan saling menganggukan kepala menandakan saling berpamitan.

 

_rdmw_

 

Sunday, January 24, 2016

Digosipin Berubah

Aloha Bubbly-Blog..

Asa udah lama enggak bikin cerpen ya.. Hem..

Tapi postingan kali ini bukan cerpen sih ya.

 

Kejadiannya beberapa bulan lalu..

 

Jadi gini...

Saya adalah salah satu pelanggan setia Amidis.

Jadi kalau beli air galon, merk nya Amidis.

Kalau beli air minum dalam kemasan gelas, merk nya Amidis.

Kalau beli air minum dalam kemasan botol sedang, merk nya Amidis.

(untuk dikonsumsi di rumah ya)

 

Karena udah langganan beli merk Amidis, Bapak penjual langganan Saya udah tau. Kalau Saya kesana pasti beli Amidis.

 

Suatu ketika, Saya ada acara gitu.

Pas mau pesen, ternyata Bapaknya sedang nganterin air galon ke tempat lain.

Titip pesen we Saya ke mas-mas fotokopian (kebetulan mereka satu kios gitu).

 

“Mas, Saya mau ini” (nunjuk ke karton air minum dalam kemasan gelas merk yang berbeda)

“Yang ini?”

“Iya. Dua dus ya Mas”

“Yang ini kan teh?

Iya teh nanti dibilangin”

 

Terus udah we Saya pulang. Nunggu dianterin ke rumah.

 

Enggak berapa lama kemudian, Bapaknya dateng.

 

“Neng, bener kan mesen yang ini? Dua dus?”

 

“Iya Pak.”

(bingung dan bertanya dalam hati. Soalnya Bapaknya kayak ragu gitu)

 

“Memang udah enggak minum Amidis lagi ya?”

 

“Eh enggak Pak. Bukan gitu.

Ini si air nya mau di masukin ke besekan (semacam nasi kotak gitu)”

 

“Oooh..

Soalnya si Aa’ fotokopi bilang : Pak, itu si teteh Amidis pesen RIN87 dua dus.

Kata Saya teh : Iya gitu? Enggak Amidis? Enggak salah itu teh?

Terus Aa’ fotokopi bilang : Enggak da Pak. Saya juga udah nanya. Tapi da bukan Amidis.

Ganti air minum gitu ya si teteh teh?

Makanya Bapak teh bingung neng, kenapa enggak pesen Amidis. Bisi salah.”

 

“Hahahahaha.. Enggak kok Pak, Saya masih setia sama Amidis..”

 

Si teteh Amidis.

 

Mereka enggak tau nama Saya siapa.

Dan membuat nama panggilan sendiri hahahaha

 

Da Aku mah apa atuh, cuma beli beda merk sekali aja langsung di gosipin (>,<)

 

Bandung, 24 Januari 2015

Salam,

Risma Dwi MW

 

*tulisan ini tidak berbayar ya =))

 

Friday, December 18, 2015

Cerita lain tentang pembalasan

“Eh, Nya, kemaren Aku liat David di Cafe Tengah. Bukannya itu tempat kesukaan Kita kalau kumpul kan ya?”
“David? Di CT? Oiya? Salah liat kali Ra.”
“Masa? Memang jauh sih duduknya dari tempat Aku duduk. Aku lagi rapat sih, jadi enggak bisa melipir liat lebih deket. Tapi mirip loh. Mirip banget”
“Muka Aku pasaran kali, Ra”

Rara dan Aku kaget ketika David datang tiba-tiba.

“Kamu tuh ya, ngagetin aja”, ucapku sambil mengelus dada.
“Kamu kaget Sayang? Aduh, maaf ya hehe”
“Pak Dono belum dateng, Ra?”
“Oh udah. Tapi tadi Dia Aku minta beliin batagor. Nah... itu dia.”
“OK. Bye Ra..”
“Bye Anya, bye David”
***
“Mbak Anya, kemarin Aku lihat Mas David loh.”
“Lah? Tempat kerja kaliankan satu daerah. Tentu aja Kamu liat Fi.”
“Eh, maksudnya Aku lihat Mas David lagi di toko. Kayaknya sama Adeknya. Soalnya manggilnya ‘Abang’. Tapi karena Aku lagi ngepak barang ya, jadi enggak bisa nyapa.”
David anak tunggal, dan kemaren Dia bilang keluar kota ketemu klien.
“Ya sudah ya Mbak Anya. Saya balik ke toko dulu. Nanti kalau ada buku baru, Saya kabarin. Kalau ada buku lagi yang mau Mbak Anya cari, kasih tau Saya ya. Nanti Saya carikan. Mari Mbak Anya”
“Siap Lefi, makasih ya.”

“Syg, gmn tugas luar kotanya? Lancar? Lefi bru ksini nganterin buku yg baru Aku psn.
Kmu jgn lupa mkn ya. Trus kpn plg?”
Aku harus konfirmasi ke David tentang siapa yang mengunjungiku. Itu sudah semacam peraturan tidak tertulis untuk Kami taati.
“Iya syg. Maaf ya, Aku gak bs ngehub kamu dulu. Bnyk bgt kerjaan Aku. Ini aja msih rapat.
Kmu jgn lupa mkn jg ya syg. Aku blum tau kpn plgnya. Nanti Aku kabarin lgi.”
David membalas pesan singkat yang Aku kirimkan padanya.
***
“ANYA!”
Rara melambaikan tangannya kepadaku.
Kami janjian makan siang bersama.
Rara dan Aku adalah teman ketika SMA.
Hanya sebatas kenal saja.
Ketika Aku bekerja dikantorku yang sekarang, Aku bertemu lagi dengan Rara di kantin kantor.
Kantor Kami satu gedung, tetapi beda perusahaan.
Jadi terkadang, jika David tidak bisa menjemput, Aku ikut pulang bareng Rara yang selalu dijemput oleh supirnya.
“Eh Nya. Ini serius ni ya. Kemarin Pak Dono, ketemu sama David di Warung Bakmi.”
“David? Di Warung Bakmi?”
“Iya. Pak Dono cerita. Kan Aku minta dibeliin Bakmi, terus pas Pak Dono kesana, ketemu sama David. Davidnya enggak ngeliat sih. Tapi Pak Dono yakin, itu David banget.”
“Enggak salah liat lagi kayak waktu Kamu itu?”
“Enggak kalau yang ini. Pak Dono itu supir kepercayaan, Nya. Enggak mungkin salah dan enggak mungkin bohong.”
“Yang bilang bohong siapa, Ra? Aku kan cuma bilang mungkin salah liat.”
“Soalnya..... David sama perempuan lain.”
“Kliennya David itu banyak yang perempuan. Dia selalu cerita kok ke Aku semua kliennya.”
Aku dengan santai menyuap Nasi Ayam yang kupesan.
“Hem.. Klien tapi kok suap-suapan?”
Kunyahanku terhenti.
“Suap-suapan?”
“Iya. Kata Pak Dono Mereka suap-suapan, Nya”
***
Di usiaku yang sekarang, sudah tidak cocok rasanya Aku mengamuk, menggalau seperti anak muda yang baru kemarin jadian dan deg-degan pasangan berselingkuh.
Kabar yang kudapat dari Rara kemarin, Aku telan begitu saja.
Aku berpacaran dengan David sudah hampir 9 tahun.
Aku sudah tau sifat jeleknya David. Dan tidak ada kata selingkuh di daftar itu.
Daripada Aku berdiam diri di rumah dan jadinya berprasangka buruk, di libur Sabtu ini, Aku memutuskan untuk sedikit berjalan-jalan ke taman.

Sekitar 3 meter di depanku ada pasangan kekasih Aku menyebutnya, karena Mereka mesra. Terlihat sekali sang pria sangat menyayangi sang wanita dari gaya Mereka berjalan. Aku menyukai gaya pria ini.
Entah mengapa Aku tersenyum-senyum sendiri melihat pasangan ini. Mengingatkanku pada Aku dan David ketika Kami berjalan berdua.
Tidak berapa lama, Mereka berbelok masuk ke sebuah tempat makan.

Mataku tertarik begitu saja, hingga membuat Aku terhenti di jendela, mematung.
Itu... David....
Tanganku meraih telepon genggam dan mulai menghubungi David.
“Ya sayang?”
“Kamu, masih rapat?”
“Iya nih. Kita enggak bisa ketemuan kayaknya. Enggak apa-apa ya, sayang.”
“Di hari libur pun Kamu masih rapat? Tapi suaranya kok berisik?”
“Iya sayang, rapatnya kebetulan diluar. Kenapa?”
“Rapatnya cuma berdua sambil rangkulan gitu ya?”

Aku berdiri dihadapan David.
Aku menatap matanya dengan dalam.
Kurasa David tidak memiliki wajah yang pasaran.
Semua orang yang mengira bertemu dengan seseorang yang mirip David merupakan David sendiri.
Dan Aku yang masih selalu beranggapan David adalah orang yang sama sejak Aku mengenalnya hingga masuk ke 9 tahun Kami bersama.
“Anya..”
Aku tersenyum dan membalikan badanku.
David mengejarku.
“Anya, Aku bisa ngejelasin..”
Aku berbalik.
“Aku kasih Kamu waktu 5 menit untuk ngejelasin.”
“Ini enggak seperti yang Kamu pikir..~..”
“David, ini bukan di sinetron. Manfaatkan waktu 5 menit Kamu dengan baik.”
“Aku minta Kamu untuk dengerin penjelasan Aku dengan baik. Intinya ini enggak seperti yang Kamu bayang..~..”
“Aku enggak butuh basa-basi Kamu. Kita udah enggak remaja lagi. Jangan bertingkah seperti aktor.”
David terdiam.
“Sudah berapa lama Kamu berselingkuh?”, lanjutku.
“Aku enggak..~..”
“Berapa lama, David?”
“7 bulan lalu.”

Oh. Sejak sibuknya David ke luar kota dan hampir setiap akhir Minggu selalu ada rapat.

“Kalau Kamu memang benar ingin bersama orang lain, kenapa Kamu tetap mempertahankan hubungan Kita?”
“Tapi Aku cintanya sama Kamu, Anya.”
“Kalau Kamu cinta, kenapa Kamu berhianat?”
“Karena Aku....
Kamu tidak pernah cemburu dengan apapun yang Aku lakukan. Itu bikin Aku jadi ragu sama perasaan Kamu..”
“Sudah sekian lama, dan Kamu ragu?
Ternyata Kamu tidak setau itu tentang Aku, David.
Karena kalau Kamu tau, tidak akan muncul keraguan itu.
Kita putus." Kukembalikan cincin pertunangan pemberiannya.
“Tunggu, Anya.. Aku..~..”
“Dan tolong, jangan bertingkah seperti drama cinta televisi. Dunia peran bukan kemampuan Kamu. Kamu hanya akan mempermalukan diri Kamu sendiri. 5 menit Kamu udah habis”, lanjutku memelankan suaraku sambil berlalu pergi.
***
Sejak itu, David selalu berusaha merebut hatiku lagi. Bunga, coklat, makanan, pesan titipan, telepon, buku, benda-benda kesukaanku, merupakan pemandangan sehari-hari yang tidak ku balas.
Yang perlu Aku ambil, selebihnya Aku kasih siapa saja yang kutemui, pengantar koran, pengantar pos, pengantar paket, asisten rumah tanggaku, supir Rara, siapa saja. Ya, siapa saja.

Semuanya terhenti di bulan ke 3.
Tidak ada lagi pengantaran barang ke rumahku.
Kurasa David sudah lelah dengan pemberian yang tak berbalas.
Atau..... mungkin juga David sudah menemukan orang lain.
***
“Anya.. Anya.. Anya!!”
“Apa sih Ra.. Panggilnya sekali juga cukuplah”
“Ada gosip loh”
“Gosip apa lagi? Ada yang ngirimin surat cinta ke Kamu lagi?”
“Ih bukaaan. David. Denger-denger Dia diselingkuhin sama pacarnya yang baru. Total berarti ada 2 orang yang nyelingkuhin Dia.. Aku kasian deh soalnya..~..”

Aku sudah tidak mendengarkan opini Rara lagi.
Di otakku terputar sebuah lagu.

“And word in the street is that she did to you what you did to me”
...
...
...
how does it feel to swim in your own tears?”
...
...
...
“Bang! She shot you!
Karma taste so sweet”


_rdmw_

Inspired by Christina Perri’s song : Bang Bang Bang

*I love this song btw