Monday, November 28, 2016

Tut-tut-tut.. ke Bandung-Surabaya

Hai Bubbly-Blog..

 

Saya mau menceritakan tentang kepergian Saya ke Surabaya menggunakan kereta api.

Di cerita sebelumnya Saya sudah sedikit membahas tentang pernikahan abang (sepupu) Saya.

 

Nah, pernikahan dan resepsinya diadakan di Surabaya.

 

Awalnya Saya dan satu orang kerabat lagi akan ke Surabaya berdua menggunakan kereta api.

Tapi, sehubungan dengan adanya jadwal perkuliahan yang mepet ujian tengah semester, kerabat Saya itu tidak bisa ikut.

Jadi, Saya sendirianlah yang naik kereta api.

 

Diawali dengan keberangkatan yang salah paham.

 

Jadi gini..

 

Kereta Saya itu jam set 4 sore.

Saya sampai di stasiun itu jam set 3 lebihan.

Ketika Saya akan masuk ke ruang tunggu, bapak-bapak pemeriksa tiketnya nyuruh Saya cepat-cepat.

Saya sedikit bingung.

Lalu Saya liatinlah si tiket ke mbak-mbak pramugari kereta, Saya juga disuruh naik.

Terus Saya liatin tiket Saya ke mas-mas pembersih stasiun, Saya juga disuruh naik.

Ketika Saya sudah sampai di kursi yang rasanya akan Saya duduki (sesuai dengan nomer yang tertera dikarcis), Saya tanya dengan bapak-bapak sebelah.

Dan ternyata bener dong..

 

KERETA YANG SAYA NAIKI ITU JURUSAN BANDUNG-JAKARTA!

BUKAN BANDUNG-SURABAYA!!

Ketika Saya keluar dari gerbong, Saya datengin tuh si mas-mas terakhir yang nyuruh Saya masuk juga.

Terus dengan santainya si mas itu bilang, “Oh, kalau kereta ini belum dateng, Teh..”

 

Saya langsung bermuka kesal dan bilang,

“TERUS NGAPAIN SAYA DISURUH LARI-LARIAN?! BUANG-BUANG TENAGA PERCUMA?!”

 

Si masnya cuma bisa diem sambil ngeliatin.

Astaga kesel banget.

Sampai 3 orang loh Saya tunjukin tiket Saya.

Dan mereka masih tetep aja nyuruh Saya masuk ke gerbong.

 

Semacam yang Kita yakin kalau Kita bener, tapi semua orang nyalahin. Padahal akhirnya memang Kita selama ini bener.

 

Ya mereka semacam cuma malu kalau ketemu Saya doang.

Lah Saya?

Udah keburu kesel.

Kalau kesel kan suka ngerubah mood jadi enggak baik.

 

Ketika kereta nya beneran dateng, Saya sampe mastiin 3 kali. Minta orang-orang yang Saya tanya untuk liatin tiket Saya.

 

Di kereta, Saya sempat ngobrol sama Ibu-ibu yang duduknya di barisan sebelah.

Ibu-ibu yang sedang mellow (lain kali Saya ceritain).

Dan sebelah Saya adalah Bapak-bapak purnawirawan TNI. Beliau baru saja pensiun di awal tahun ini.

 

Perjalanan yang ditempuh menggunakan kereta adalah 13 jam 40 menit, dengan pemberhentian 18 stasiun (kalau enggak salah hitung).

 

Terus ketika sampai di stasiun Jogja, Saya berasa ingin mampir dan melenceng dari kota tujuan *hahaha

 

Tapi bisanya cuma berdiri dari kursi. Terus pipis.

Selama perjalanan pipis cuma sekali.

Harusnya enggak boleh ditahan sih ya..

Tapi... ya gimana lagi..

 

Sampai stasiun Gubeng jam 6 kurang.

Harusnya jam setengah 6.

Kayaknya sih ada stasiun yang cukup lama berhenti nya.

 

Begitulah ceritanya perjalanan keberangkatan ke Surabaya.

Dan semacam lagu anak-anak :

“Naik kereta api.. tut-tut-tut..

Siapa hendak turun..

Ke Bandung.. Surabaya..

Bolehlah naik dengan percuma.......”

 

*bagian baris 4 Saya enggak setuju tuh. Beli atulah tiket kereta mah =(

 

Bandung, November 2016

Salam,

Risma Dwi MW

Tuesday, October 25, 2016

Gimana Kabar?

Hai Bubbly-blog..
Meneruskan postingan sebelumnya nih.

Setelah Saya dititipkan undangan, terceritakanlah Saya langsung foto undangan tersebut dan mengirimkannya kepada nama-nama yang bersangkutan melalui aplikasi obrolan.

Daaaan, sehubungan ada beberapa orang yang Saya enggak punya no kontaknya, sedikit sibuklah Saya mencari informasi.

Karena mengirimkan pesan secara personal dan satu persatu, ponsel Saya jadi ikutan sibuk dan rame soalnya mereka pada membalas secara personal juga.

Rasanya sudah lama jari Saya tidak sesibuk itu.
Eh, bukan berarti ponsel Saya selalu sunyi dan senyap ya.
Biasanya Saya dan teman-teman Saya berkomunikasinya di media sosial, bukan melalui aplikasi obrolan (walau ada beberapa yang masih tetap berkomunikasi juga melalui aplikasi obrolan).

Ketika Saya mendapatkan beberapa no kontak yang Saya cari, langsung Saya hubungi melalui aplikasi obrolan.

Semacam mengingat masa perkuliahan, Bubbly-blog.
Soalnya, nama-nama yang bersangkutan adalah teman-teman kelas Saya ketika kuliah dulu.

Sepertinya ada yang bertanya di benaknya, “Ini undangan si-A tapi yang ngasih taunya kenapa si Risma?”

Mungkin ya..
Soalnya Saya bilang,
“Ini Risma btw”
(dan syukurnya masih pada inget. Ya bisi we karena udah bertahun-tahun lamanya enggak komunikasi dan saling sapa, jadi lupa sama Saya kan)

Habisan mereka menanyakan, eh lebih tepatnya menegaskan siapa yang ngundang. Semacam pertanyaan retoris gitulah.

Salah satu yang Saya hubungi malah mengingatkan Saya tentang masa pengenalan kampus beberapa tahun lalu..

Hal yang membuat Saya senang di hari kemarin adalah, Saya bisa menghubungi teman-teman lama Saya ketika kuliah dulu.
Semacam silaturahmi lagi.
Nanya kabar lagi,
Bisa komunikasi lagi,
Bisa mengenang masa lalu (yang baik tentunya) lagi.

Jadi, gimana kabar?
Bandung, Oktober 2016
Salam,
Risma Dwi MW

Tuesday, October 18, 2016

Lari di Pernikahan

Aloha Bubbly-Blog..

 

Jadi gini.. sesungguhnya, cerita yang akan Saya bagikan ini terjadi di akhir bulan lalu. Tepat tanggal 30 September 2016.

 

Jadi, abang sepupu Saya menikah. Pada tanggal itu.

Paginya akad nikah, malamnya resepsi.

Resepsinya berbeda dengan resepsi prasmanan pada umumnya.

 

Di resepsi mereka, bentuknya round table gitu.

Semacam pernikahan tionghoa.

1 meja diisi 10 orang.

Nah, tugas Saya adalah, sebagai panitia penyusun kursi, penunjuk meja, penerima tamu.

Bukan cuma Saya sih, tapi ada bertiga.

Kakak ipar (istri sepupu), sahabatnya ipar Saya yang menikah itu (ipar perempuan. Sepupu Saya yang laki-laki), dan Saya (dan kami juga dibantu oleh ibu-ibu berseragam yang mereka sendiri enggak tau tugasnya apa. Jadi, diberdayakan saja)

 

Nah, karena kedua kakak-kakak tersebut enggak bawa sepatu lagi (pakai sepatu hak tinggi), Saya berinisiatif, gimana kalau Saya aja yang bulak-balik nunjukin meja ke para tamu.

Saya pakenya wedges.

Cuma, Saya bawa sepatu gitu. Jenisnya... hem.. apa ya.. pokoknya bisa dipake lari.

 

10 menit pertama, Saya bisa tuh pake wedges.

Tapi kemudian, Saya ganti dengan sepatu.

Karena, wedges yang Saya pake sangat menghambat Saya untuk bolak-balik (ruangannya gede, dan enggak akan tertangani kalau Saya jalannya menyesuaikan sepatu tak-tok-tak-tok itu)

 

Sedikit aneh sebetulnya. Karena rambut Saya di sanggul solo, bajunya kebaya, bawahnya kain (jenisnya rok), tapi bawahannya sepatu.

Saya banyak diketawain sama Ibu-ibu para tetangga mempelai wanita.

Tapi da gimana lagi atuh ya.. tuntutan tugas..

 

Dan hari itu, untuk Saya, adalah hari olahraga sedunia.

Saya enggak pernah se-bergerak itu (seinget Saya sih).

Di malam itu, ada kali Saya sprint lebih dari 20 kali.

Soalnya pas nerima tamu di depan, nganterin tamu ke mejanya (dengan berjalan), dan balik lagi ke pintu untuk menunjukan meja ke tamu berikutnya (dengan cara berlari). Begitu terus berkali-kali.

 

Saya termasuk menjadi pusat perhatian di ruangan itu. Soalnya cuma Saya yang berlari seperti sedang berlomba.

 

Dan saking terlalu banyak berlari, sampai ketika tidur, Saya bermimpi sedang latihan, karena akan mengikuti lomba marathon.

 

Hebat bukan!

 

*hahaha

 

Bahkan, ketika penganten minta panitia foto bersama, Kami enggak ada dateng ke pelaminan. Soalnya lagi makan dan ngelurusin kaki.

Sampai penganten bilang, “Parah ini panitianya.. sombong” *hahahaha

 

Tapi, diluar dari rasa lelah garagara olahraga berlebihan itu, semuanya puas.

Walau Saya kurang puas.

Adalah 1 dan lain hal.

Namanya juga acara.

Dari awal rencana sampai pelaksanaan pasti ada yang berbeda dari yang di rencanakan.

 

Tapi ya.. gimana lagi.. konsekuensi acara mah gitu sih.

 

Dan Saya jadi inget papanitiaan dulu pas masih kuliah.. kangen deh.

 

Yaaa.. begitulah Bubbly-blog.

Ditambah dengan perjalanan kereta belasan jam itu..

Nanti saja Saya ceritakan.

Bandung, 18 oktober 2016

Salam,

Risma Dwi MW

Tuesday, October 11, 2016

Namanya Onet..

Hai Bubbly-Blog..

Kali ini Saya mau menceritakan tentang sebuah game bernama Onet.

Game dengan ikon Naga ini bisa dibilang permainan untuk anak-anak.
Karena cara memainkannya mudah sekali.

Yaitu dengan memasangkan gambar yang sama.
Tapi syaratnya yaitu, patahan garisnya hanya bisa 3.

Patahan garis?
Hem.. Gimana ya Saya menjelaskannya..

Mungkin donlot aja dulu, nanti akan paham yang Saya maksud dengan patahan garis itu apa.

Dan kalau ditilik lagi, menurut Saya mah ini permainan bukan hanya untuk anak-anak aja sih.
Karena dituntut harus jeli melihat kesempatan yang ada.

Permainan yang sederhana tapi ada kesulitannya sendiri.
Coba aja mainin sendiri deh.

Dari permainan ini, Saya bisa memetik 1 hal :
Walau Kita mengincar sesuatu, segimanapun usaha untuk mendapatkannya, jika memang bukan jodohnya, enggak akan bersama.

Begitulah..

Bandung, 11 Oktober 2016
Salam,
Risma Dwi MW

*dan ini bukan endorse, bukan juga promosi

Monday, September 19, 2016

Tentang pemeran pendamping

Dear Bubbly-Blog..
Beberapa hari yang lalu Saya nonton salah satu drama serial Korea rekomendasi dari salah satu temen baik Saya.

Kalau orang-orang berpendapat itu film lucu banget, Saya berpendapat sedikit berbeda.
Oh bukan.. Itu film memang lucu kok.
Hanya saja, untuk Saya, itu film greget.
Saya nontonnya sambil gregetan.

Dan gratil mau Saya bahas tentang film itu berdasarkan pendapat Saya.

Sedikit Saya ceritakan isi filmnya (dan mungkin akan spoiler).

Jadi, ada 4 karakter utama di cerita ini.
Wanita biasa aja (cenderung dianggap jelek, wanita pertama),
Lelaki ganteng (temen kecil wanita pertama, lelaki pemeran utama),
Wanita cantik (temannya wanita pertama sejak kecil dan hidup serumah),
Lelaki usil (teman kantor wanita pertama, pemeran pendamping lelaki).

Saya enggak akan bahas secara detail per episode ya.

Dan, ini hanyalah pendapat Saya.

Dengan ending yang begitulah... (Saya beranggapan kalau pemeran pertama wanita dan pemeran utama laki-lakinya bersatu, tidak ada twist ending, akan menjadi sangat mainstream)
Dan bener aja mainstream.
Eh untuk Saya sih.

Saya sampai kesel sendiri, soalnya kenapa enggak gini, kenapa enggak gitu.

Dengan waktu Saya kemarin belum tidur sekitar 29 jam, jadi semakin membuat kepala dan hati meledak enggak karuan.

Ketika Saya bersiap akan tidur pun jadi enggak bisa langsung tidur soalnya masih kesal *hahaha.

Tapi beberapa teman Saya bilang, peran wanita pertama dan karakter lelaki utama lebih cocok, dibanding dengan lelaki pemeran pendamping.
Dan kata mereka, Saya beranggapan si wanita pertama cocoknya sama lelaki pendamping adalah karena Saya lebih suka dia dibandingkan si lelaki pemeran utamanya.
Lagian siapa suruh lelaki pemeran pendamping lebih macho *hahaha

Dia lebih LAKI gitulah dibanding pemeran utama lelakinya.

Dan dengan harapan twist ending, dan berekspektasi terlalu tinggi, Saya kurang cocok sama endingnya.

Ah, tenang aja.. Endingnya bahagia kok antara pemeran wanita pertama dan pemeran lelaki utama.

Dan tiap Saya ngeliat si pemeran pendamping sedih, semacam ikut sedih gitu.
Melihat dia harus patah hati berkali-kali, makanya Saya greget.

Jadi, walau orang itu baik, perhatian, rela berkorban, tapi bukan peran utama, selamanya hanya jadi peran pendamping.

Sekian.

Bandung,19 September 2016
Salam,
Risma Dwi MW

Bahkan, setiap Saya inget film itu, Saya masih bisa aja kesel.
Dampak kayak gini udah enggak sehat sih kayaknya =_=''