Tuesday, October 18, 2016

Lari di Pernikahan

Aloha Bubbly-Blog..

 

Jadi gini.. sesungguhnya, cerita yang akan Saya bagikan ini terjadi di akhir bulan lalu. Tepat tanggal 30 September 2016.

 

Jadi, abang sepupu Saya menikah. Pada tanggal itu.

Paginya akad nikah, malamnya resepsi.

Resepsinya berbeda dengan resepsi prasmanan pada umumnya.

 

Di resepsi mereka, bentuknya round table gitu.

Semacam pernikahan tionghoa.

1 meja diisi 10 orang.

Nah, tugas Saya adalah, sebagai panitia penyusun kursi, penunjuk meja, penerima tamu.

Bukan cuma Saya sih, tapi ada bertiga.

Kakak ipar (istri sepupu), sahabatnya ipar Saya yang menikah itu (ipar perempuan. Sepupu Saya yang laki-laki), dan Saya (dan kami juga dibantu oleh ibu-ibu berseragam yang mereka sendiri enggak tau tugasnya apa. Jadi, diberdayakan saja)

 

Nah, karena kedua kakak-kakak tersebut enggak bawa sepatu lagi (pakai sepatu hak tinggi), Saya berinisiatif, gimana kalau Saya aja yang bulak-balik nunjukin meja ke para tamu.

Saya pakenya wedges.

Cuma, Saya bawa sepatu gitu. Jenisnya... hem.. apa ya.. pokoknya bisa dipake lari.

 

10 menit pertama, Saya bisa tuh pake wedges.

Tapi kemudian, Saya ganti dengan sepatu.

Karena, wedges yang Saya pake sangat menghambat Saya untuk bolak-balik (ruangannya gede, dan enggak akan tertangani kalau Saya jalannya menyesuaikan sepatu tak-tok-tak-tok itu)

 

Sedikit aneh sebetulnya. Karena rambut Saya di sanggul solo, bajunya kebaya, bawahnya kain (jenisnya rok), tapi bawahannya sepatu.

Saya banyak diketawain sama Ibu-ibu para tetangga mempelai wanita.

Tapi da gimana lagi atuh ya.. tuntutan tugas..

 

Dan hari itu, untuk Saya, adalah hari olahraga sedunia.

Saya enggak pernah se-bergerak itu (seinget Saya sih).

Di malam itu, ada kali Saya sprint lebih dari 20 kali.

Soalnya pas nerima tamu di depan, nganterin tamu ke mejanya (dengan berjalan), dan balik lagi ke pintu untuk menunjukan meja ke tamu berikutnya (dengan cara berlari). Begitu terus berkali-kali.

 

Saya termasuk menjadi pusat perhatian di ruangan itu. Soalnya cuma Saya yang berlari seperti sedang berlomba.

 

Dan saking terlalu banyak berlari, sampai ketika tidur, Saya bermimpi sedang latihan, karena akan mengikuti lomba marathon.

 

Hebat bukan!

 

*hahaha

 

Bahkan, ketika penganten minta panitia foto bersama, Kami enggak ada dateng ke pelaminan. Soalnya lagi makan dan ngelurusin kaki.

Sampai penganten bilang, “Parah ini panitianya.. sombong” *hahahaha

 

Tapi, diluar dari rasa lelah garagara olahraga berlebihan itu, semuanya puas.

Walau Saya kurang puas.

Adalah 1 dan lain hal.

Namanya juga acara.

Dari awal rencana sampai pelaksanaan pasti ada yang berbeda dari yang di rencanakan.

 

Tapi ya.. gimana lagi.. konsekuensi acara mah gitu sih.

 

Dan Saya jadi inget papanitiaan dulu pas masih kuliah.. kangen deh.

 

Yaaa.. begitulah Bubbly-blog.

Ditambah dengan perjalanan kereta belasan jam itu..

Nanti saja Saya ceritakan.

Bandung, 18 oktober 2016

Salam,

Risma Dwi MW

Tuesday, October 11, 2016

Namanya Onet..

Hai Bubbly-Blog..

Kali ini Saya mau menceritakan tentang sebuah game bernama Onet.

Game dengan ikon Naga ini bisa dibilang permainan untuk anak-anak.
Karena cara memainkannya mudah sekali.

Yaitu dengan memasangkan gambar yang sama.
Tapi syaratnya yaitu, patahan garisnya hanya bisa 3.

Patahan garis?
Hem.. Gimana ya Saya menjelaskannya..

Mungkin donlot aja dulu, nanti akan paham yang Saya maksud dengan patahan garis itu apa.

Dan kalau ditilik lagi, menurut Saya mah ini permainan bukan hanya untuk anak-anak aja sih.
Karena dituntut harus jeli melihat kesempatan yang ada.

Permainan yang sederhana tapi ada kesulitannya sendiri.
Coba aja mainin sendiri deh.

Dari permainan ini, Saya bisa memetik 1 hal :
Walau Kita mengincar sesuatu, segimanapun usaha untuk mendapatkannya, jika memang bukan jodohnya, enggak akan bersama.

Begitulah..

Bandung, 11 Oktober 2016
Salam,
Risma Dwi MW

*dan ini bukan endorse, bukan juga promosi

Monday, September 19, 2016

Tentang pemeran pendamping

Dear Bubbly-Blog..
Beberapa hari yang lalu Saya nonton salah satu drama serial Korea rekomendasi dari salah satu temen baik Saya.

Kalau orang-orang berpendapat itu film lucu banget, Saya berpendapat sedikit berbeda.
Oh bukan.. Itu film memang lucu kok.
Hanya saja, untuk Saya, itu film greget.
Saya nontonnya sambil gregetan.

Dan gratil mau Saya bahas tentang film itu berdasarkan pendapat Saya.

Sedikit Saya ceritakan isi filmnya (dan mungkin akan spoiler).

Jadi, ada 4 karakter utama di cerita ini.
Wanita biasa aja (cenderung dianggap jelek, wanita pertama),
Lelaki ganteng (temen kecil wanita pertama, lelaki pemeran utama),
Wanita cantik (temannya wanita pertama sejak kecil dan hidup serumah),
Lelaki usil (teman kantor wanita pertama, pemeran pendamping lelaki).

Saya enggak akan bahas secara detail per episode ya.

Dan, ini hanyalah pendapat Saya.

Dengan ending yang begitulah... (Saya beranggapan kalau pemeran pertama wanita dan pemeran utama laki-lakinya bersatu, tidak ada twist ending, akan menjadi sangat mainstream)
Dan bener aja mainstream.
Eh untuk Saya sih.

Saya sampai kesel sendiri, soalnya kenapa enggak gini, kenapa enggak gitu.

Dengan waktu Saya kemarin belum tidur sekitar 29 jam, jadi semakin membuat kepala dan hati meledak enggak karuan.

Ketika Saya bersiap akan tidur pun jadi enggak bisa langsung tidur soalnya masih kesal *hahaha.

Tapi beberapa teman Saya bilang, peran wanita pertama dan karakter lelaki utama lebih cocok, dibanding dengan lelaki pemeran pendamping.
Dan kata mereka, Saya beranggapan si wanita pertama cocoknya sama lelaki pendamping adalah karena Saya lebih suka dia dibandingkan si lelaki pemeran utamanya.
Lagian siapa suruh lelaki pemeran pendamping lebih macho *hahaha

Dia lebih LAKI gitulah dibanding pemeran utama lelakinya.

Dan dengan harapan twist ending, dan berekspektasi terlalu tinggi, Saya kurang cocok sama endingnya.

Ah, tenang aja.. Endingnya bahagia kok antara pemeran wanita pertama dan pemeran lelaki utama.

Dan tiap Saya ngeliat si pemeran pendamping sedih, semacam ikut sedih gitu.
Melihat dia harus patah hati berkali-kali, makanya Saya greget.

Jadi, walau orang itu baik, perhatian, rela berkorban, tapi bukan peran utama, selamanya hanya jadi peran pendamping.

Sekian.

Bandung,19 September 2016
Salam,
Risma Dwi MW

Bahkan, setiap Saya inget film itu, Saya masih bisa aja kesel.
Dampak kayak gini udah enggak sehat sih kayaknya =_=''

Wednesday, August 31, 2016

Ini lengkeng..

Halo Bubbly-blog..

Lah, ini blog kayak yang enggak aktif gini..

Padahal mah ya, cerita teh ada aja, cuma lupa.

Apa?! Lupa?! Pokoknya.. yaaa gitulah hahaha

 

Oiya, hari ini Saya mau bahas tentang pohon.

Diperjelas lagi, biar enggak ada yang salah paham,

Mau bahas tentang pohon lengkeng belakang rumah Saya.

 

Sejak Saya tinggal pertama kali di rumah ini di tahun 1995, pohon lengkeng belakang rumah udah ada.

Tapi belum setinggi sekarang.

 

Malahan, selain pohon lengkeng, dulu ada pohon jambu air juga.

Kalau pohon jambunya udah gede gitu.

Tempatnya di belakang rumah yang sekarang dijadiin garasi.

Tapi, pohon jambu itu di tebang.

Karena ulat bulunya banyak banget.

Bahkan sampai masuk-masuk ke dalam rumah.

Demi alasan kenyamanan dan kesehatanlah, jadi deh diputuskan untuk di tebang aja.

Padahal jambu airnya manis-manis.

 

Baiklah, kembali ke pohon lengkeng.

 

Setelah berbelas tahun tinggal disini, barulah Saya tahu tentang kisah awal mula pohon lengkeng ini.

 

Saya ceritakan dulu sedikit.

Dalam satu tahun, pasti pohon lengkeng dibelakang itu berbuah.

Sekitar 6-8 bulan sekali udah bisa di panen.

Walaupun kadang enggak ada yang metikin, dan buah-buahnya pada jatuh aja gitu.

 

Sehubungan dengan bulan Agustus ini adalah waktunya lengkeng berbuah, dan enggak ada yang metik (karena sekarang pohonnya udah cukup tinggi, Saya udah enggak gampang manjat-manjat kayak dulu), banyak anak-anak kecil dari RT sebelah yang ngambilin.

Keseringannya sih ngambil enggak bilang.

 

Daaaaaan....

Warga komplek merasa risih.

Karena katanya, “Kita yang orang komplek aja enggak ada yang makan, ini orang lain seenaknya aja ngambil, enggak bilang-bilang lagi!”

Gitulah kurang lebih hahaha

 

Diputuskanlah, tepat ketika jam istirahat solat dan makan siang dari acara 17-an ditanggal 17 Agustus lalu, beberapa orang pada panen lengkeng belakang.

 

Sambil ngobrol-ngobrol, akhirnya Saya jadi tau sejarahnya.

 

Bibit lengkeng belakang di tanam di tahun 1992.

Sekitaran setahun sebelum mesjid komplek dibangun ditahun 1993.

Dengan jenis bibit betina (enggak ngerti juga itungan jantan-betina itu gimana. Maaf, Saya lemah di Biologi =D )

Ada sekitar 4 bibit yang ditanam.

Yang 2 jantan, yang 2 betina.

Yang tumbuhnya manis itu yang betina (pohon lengkeng belakang rumah Saya dan tetangga sebelah. Cuma,  pohon lengkeng tetangga udah ditebang karena ada masalah.

Jadi, sisa pohon lengkeng ada 3. Yang berhasil tumbuh buahnya dengan baik cuma punya Saya)

 

Setelah sekian lamanya Saya tinggal disini, Saya baru tahu kalau umur pohon lengkeng belakang 24 tahun di tahun 2016 ini.

KECE!!

 

Dan sampai sekarang masih baik-baik aja dan masih bertumbuh tanpa masalah.

Dan kalau lagi beruntung, satu tahun bisa berbuah sampai 2 kali.

KECE!!

 

Memang sih, buah lengkengnya enggak sebesar lengkeng yang dijual di supermarket atau di pasar-pasar tradisional.

Tapi, manisnya enggak kalah loh.

Menyenangkan!

 

 

Bandung, 31 Agustus 2016

Salam,

Risma Dwi MW

Thursday, July 28, 2016

Preview Mei (hahaha)

Selamat Juli Bubbly-blog.

 

Bulan Mei dan Juni Saya sungguh tidak produktif.

Kela.. Rasanya beberapa bulan terakhir sih ya hahaha

 

Anywaaaaay.....

Saya mau preview sedikit di Bulan Mei nih...

Tentang apa yang terjadi.

Akhir Bulan Mei lalu, Saya dikunjungi oleh Mama Saya dari Pekanbaru.

Beliau datang untuk sedikit merenovasi rumah dan ada misi lainnya.

Rasa-rasanya, Saya ingin mencantumkan rundown kegiatan selama Mama Ita ada di Bandung (dan kami sempat ke Jakarta selama 2 hari 1 malam. Eh kalau hitungannya sampai Jakarta siang, terus sore besoknya pulang ke Bandung, itu 2 hari 1 malam bukan sih?).

 

Dari tanggal 1 Mei sampai 23 Mei, Saya sedikit lupa apa yang terjadi.

Maksudnya, enggak ada hal yang membuat perubahan dalam hidup.

Hem.. tapi coba Saya ingat-ingat dulu ya.

 

Tanggal 24 Mei, Mama Ita datang.

 

Sudah Saya ceritakan belum sih Mama Ita itu siapa?

Yaudah, Saya ceritakan lagi aja ya.

Mama Ita itu adalah adiknya Ibu Saya.

Kenapa dipanggilnya “Mama”?

Karena ketika kecil dulu, semua cucunya Mamak (sebutan Nenek, dari pihak Ibu) manggil orang tua perempuannya (Ibu ada 7 bersaudara) dengan panggilan Ibu. Dan hanya anak-anaknya Mama Ita yang manggil orang tua perempuannya dengan sebutan “Mama”. Dan sehubungan anaknya Mama merupakan cucu kedua tertua, jadi kami adik-adik (sepupunya) ini ikut ketularan manggil “Mama”. Begitulah kurang lebih.

 

Oke, lanjut.

Mama datang tanggal 24 Mei 2016.

Hari pertama sampai Bandung, menjelang siang.

Lalu langsung ke rumah untuk meletakan koper dan barang bawaan, kemudian langsung ke salah satu Mall yang cukup ternama di Bandung. Disana makan siang dan ada beberapa barang yang di cari. Dan Mama reunian kecil-kecilan sama salah satu temen SMA-nya (yang kebetulan dinas dan menetap di Bandung).

 

Tanggal 25, Rabu.

Saya nemenin Mama bertemu dengan temannya di daerah Arcamanik.

Kemudian bertemu dengan teman Mama yang lainnya (yang sekarang tinggal di Bandung juga).

 

Tanggal 26, Kamis.

Kami ke pasar baru.

Dan setiap ke Bandung, pasti ada mampirnya ke pasar baru. Bukan cuma Mama sih. Hampir semua Ibu-Ibu yang ke Bandung pasti ada pergi kesana.

Kata Mama sih, karena harganya murah dan ragamnya lebih banyak.

Mungkin sama halnya kayak kalau ke Jakarta, tujuan ke tenabang.

 

Tanggal 27, Jumat.

Kami nyari kain gorden. Tapi, keburu tutup soalnya menjelang solat Jumat.

Akhirnya memilih langsung ke Mall karena Mama mau reunian dengan teman-temannya.

 

Tanggal 28, Sabtu.

Jadwal ke Jakarta.

Jadi gini....

Teman-teman Mama yang dulu satu SMA suka bikin acara pengajian bulanan gitu.

Dan ternyata yang di Jakarta ada juga beberapa. Sehubungan Mama ada jadwal untuk ke Jakarta, di mampirkanlah untuk bertemu dan ikutan pengajian (mumpung di Jakarta).

Kami dari Bandung naik kereta.

Sekedar informasi, di Pekanbaru itu enggak ada kereta api.

Jadi, betapa senang Mama untuk naik kendaraan satu itu.

Ditambah kereta api sudah dibuat nyaman.

 

Sampai Jakarta siang hari.

Setelah check-in di hotel dan meletakan barang, Kami ke tanah kusir, ziarah Uwak (Kakak pertama dari persaudaraan Ibu).

Lalu janjian dengan Anak pertama Uwak, Bang Bayu.

 Tadinya mau ketemu dengan anak keduanya juga, Bang Ade (pertanyaannya adalah : Katanya Abang, tapi kok di panggil Ade juga? Bukan! Serius ini namanya memang Ade, Muhammad Ade). Tapi ternyata enggak keburu. Akhirnya cuma teleponan pas diperjalanan.

 

Kemudian, Kami langsung pergi ke salah satu Mall di Jakarta untuk bertemu dengan beberapa teman Mama yang lainnya (berkaraoke, dimana tempat karaoke nya sangat canggih. Saking canggihnya, remotenya harus ditekan secukupnya, bisa-bisa enggak jalan, atau jadi keitung 2 kali. Cukup membuat kesabaran meningkatlah).

Kemudian balik ke hotel.

 

Tanggal 29, Minggu

Berangkat pagi langsung ke stasiun. Beli tiket takut kehabisan.

Dilanjutkan dengan pengajian Mama dengan teman-temannya. Lalu Kami pulang ke Bandung.

Sampai Bandung sekitar jam 11-an malam.

 

Tanggal 30, Senin

Kembali ke pasar baru.

Karena apa? Karena ingin mencari kain biasa, untuk dijadikan gorden.

Karena disana ada banyak jenis dan beragam warna nya.

Dan rencananya dijahit ke penjahit yang ada disekitaran pasar baru.

 

Tanggal 31, Selasa

Si Adik datang berkunjung, karena sudah ditanya sama Mama kenapa enggak ada mampir.

Dia malam kemarin datang selepas Isya. Menginap di rumah karena besok akan ikut Kami berkelana.

Jadi, di pagi hari Kami bertiga berangkat ke daerah Arcamanik. Mama bertemu lagi dengan temannya sambil pamitan karena besok akan pulang ke Pekanbaru.

Setelahnya, Kami bertiga kembali lagi ke pasar baru.

Kenapa? Karena kemarin belum ada ukuran untuk jahitan si gorden yang akan dibikin.

Sekarang, setelah ada ukurannya, barulah bisa bapak penjahit itu melakukan pekerjaannya yang sesuai dengan kebutuhan Kami.

Setelah menunggu sekitar 2-3 jam, Kami pun pulang ke rumah.

 

 

Dan selama seminggu itu, Saya keluar rumah terus.

Sehingga membuat kejadian di bulan Juni.

Apa kejadiannya?

Baca saja nanti di preview Juni yaaa..

 

Sekarang, udahan dulu.

Nanti disambung lagi.

Dan entah kenapa di tulisan Saya kali ini banyak kata “karena” =D

 

Dadah Bubbly-Blog

Salam,

Risma Dwi MW