Wednesday, July 6, 2016

Tepat di 2.13

Tepat di 2.13
Delapan tahun yang lalu.

Sedih tiba-tiba menganggu.
Apa karena raganya tidak jauh dari sini?

Tepat di 2.13
Delapan tahun yang lalu.

Ketika teriakan kemenangan berkumandang nantinya, isak tangis juga akan jatuh.

Sesak.
Tangis ini akan lebih sesak.

Tepat di 2.13
Delapan tahun yang lalu.

. . . .

Damn!
I really miss you.
So bad.

Can we just go back, and sit down for awhile?
I don't care about word and conversation.

Just you and me laughing about our sad ending.

Damn!
I miss you.
Surely do!

Even the tears!
I miss that too.

Adulthood is not that fun.
Especially without you.

And I (still) can't help myself when the date comes..
again..
and again..
and again..

Tepat di 2.13
Delapan tahun lalu.

Damn!
I miss you, Mom.

_rdmw_
Pekanbaru, 6 Juli 2016

Thursday, May 26, 2016

Cerita lain tentang bertemu mimpi

“Da... hei.. kok ngelamun? Tumben banget?”

“Aku lagi mikir”

“Mikir? Mikir apa?”

“Aku udah 2 kali mimpiin orang yang sama. Tapi Aku enggak kenal orang itu siapa.”

“Kok bisa?”

“Kalau Aku tau, Aku enggak bakalan bingung.”

 

***

 

Aku tidak terlalu peduli akan mimpi. Paling hanya beberapa yang Aku pikirkan sebagai pertanda atau malah kebanyakan menjadi bahan bercandaan antara Aku dan teman dekatku, Manda.

Kami pernah sekelas ketika kelas X.

Sehubungan dengan Dia mengambil jurusan yang berbeda denganku, kenaikan kelas tahun berikutnya Kami berbeda kelas.

Tapi, sampai kelas XII Kami tetap berteman baik.

Ketika istirahat, jika tidak ada kegiatan, terkadang Aku suka ke kelasnya.

Sekedar mengajaknya ke kantin atau hanya mengobrol di depan kelasnya.

Entah mengapa Aku lebih suka duduk di depan kelasnya di banding di depan kelasku sendiri.

Mungkin karena di depan kelasku sudah banyak orang yang duduk-duduk.

 

“Ke kantin yuk. Aku lupa bawa minum”

“Yuk. Aku juga pas banget mau beli Momogi”

 

Sambil berjalan menuju tangga kelas ketika melewati lapangan, Manda bertanya,

“Terus kebingungan kemarin sudah terpecahkan belum?”

“Kebingungan yang mana?”

“Yang mikir kenapa bisa mimpiin orang yang sama padahal Kamu enggak kenal itu”

“Oooh itu.. Belum.”

“Memang mimpinya horor atau gimana?”

“Enggak kok. Aku mimpi ngobrol sama Dia doang. Tapi kayak yang akrab banget. Dia pake seragam sekolah pula”

“Ada atribut sekolah Kitanya?”

“Enggak tau, Aku fokusnya enggak kesana sih.”

 

“Cuacanya enak gini ya. Cerah, tapi banyak awannya.”

“Iya.. padahal matahari~...”

“...?... Ta.. Rita.. Hei..”

 

Itu...

LAKI-LAKI ITU!

LAKI-LAKI YANG ADA DIMIMPIKU!

Dia sedang berdiri dilantai 2. Sedang melihat ke arah lapangan.

ITU!

Iya betul! Laki-laki itu!

Yang ada dimimpiku sebanyak dua kali. Yang Aku enggak tau Dia siapa.

 

“Rita!”

“Itu..”

“Apa?”

“Laki-laki yang Aku ceritain...”

“Mana?”

“Yang lagi berdiri itu..”

“Banyak Ta yang berdiri. Yang lantai berapa?”

“Yang lantai Dua itu.... Jangan diliatin!”

“Ya Aku enggak akan tau kalau enggak diliat dong”

 

Aku ingin sekali melihatnya. Tapi Aku ragu. Rasanya sedikit sulit jika harus mengalihkan pandanganku dari tanah selesai Aku terkejut karena melihat lelaki itu.

“Yang mana sih Ta? Itu ada Pras, Budi, Krisna, Rena, Abdul, Alwi...”

“Siapa?”

“Siapa apanya?”

“Aku kenal semuanya. Yang terakhir siapa?”

“Alwi?”

“Alwi... Dia anak kelas mana?”

“Alwi kan sekelas sama Aku, Ta.
Kamu seriusan enggak tau? Kan Kamu sering ke kelas Aku. Emang enggak pernah liat gitu? Dia duduknya memang di pojok belakang sih.. Dan kalau~.....”

“Alwi...”

Hari ini otakku terasa tidak mau jalan sama sekali.

Aku enggak inget kenapa tiba-tiba Aku udah dikelas, Aku enggak inget apa yang terjadi setelah Aku tau bahwa Alwi, laki-laki yang Aku mimpiin sebelum Aku kenal, ternyata teman kelasnya Manda.

 

***

 

“Manda..”

“Ya, Alwi?”

“Piagam kelas Kita waktu menang lomba bulu tangkis di Kamu?”

“Mau ngasih ke Bu Susan ya? Ada di loker paling atas. Udah di laminating juga.”

“Oke, thanks.

Oiya, temen Kamu yang biasa suka kesini itu.. siapa namanya?”

“Rita?”

“Iya, Rita. Kayaknya Saya pernah mimpiin Dia beberapa kali. Salamin ya.”

 

_rdmw_

*berdasar kisah nyata
dan....
Hei Mei! Selamat ulang tahun di 26 ini ya =)

Sunday, May 15, 2016

Titipan Undangan

Hai Bubbly-Blog..

Mei ini dibuka dengan cerita tentang undangan ya..

 

Sekitar jam 9 kurang 8 menit malam, ponsel Saya bunyi.

Bukan notif games atau notif media sosial. Tapi ada yang nelepon.

Teman seperjuangan kuliah dulu menyebutkan akan mampir ke rumah Saya.

(Sampai sekarang juga masih temen deket sih haha)

 

Entah mengapa Saya ada feeling tentang kedatangan Dia kemari ada hubungannya dengan undangan.

 

Ternyata betul sekali!

 

Jadi, Dia kesini untuk memberikan undangan pernikahannya.

Jujur ya, Dia bukan orang yang Saya prediksikan akan menikah di beberapa bulan kedepan atau di tahun ini.

Mungkin karena Saya udah jarang banget ketemuan sama Dia.

Terakhir itu.. hem.. kapan ya.. bahkan Saya sampai udah lupa ketemu terakhir sama Dia kapan. Kemungkinan besar sih tahun kemarin.

Tapi Kami tetap komunikasi di grup salah satu aplikasi obrolan kok.

 

Dia menitipkan beberapa belas undangan ke Saya.

Dan minta tolong Saya untuk memberi tahu atau membagikannya kepada yang lain.

 

Ketika melihat tumpukan undangan itu (setelah selesai berbincang dan bergosip dan ngobrolin sedikit tentang masa depan dan setelah teman Saya itu pulang tentu saja), Saya teringat di beberapa tahun yang lalu.

 

Ada juga beberapa orang yang menitipkan undangan ber-belas untuk di bagikan oleh Saya.

 

Terus Saya mikir, kenapa ya mereka menitipkan undangan ke Saya?

Kemudian, hati kecil Saya berkata (halah) : Mungkin karena mereka malu untuk ngasih langsung ke yang lain.

 

Ng..........

 

AH! BERARTI MEREKA MENGATAKAN SAYA TIDAK PUNYA MALU SECARA TIDAK LANGSUNG

*suudzon *capslockkepencet *alasanbanget *=D

 

Dihitung-hitung ada kali 4-5 orang nitipin undangan.

Tapi... ya sudahlah..

 

Betewe.. Selamat ya Upiiiil.. ciyeeeh yang lagi dipingit *hahahaha

*orangnya juga belum tentu baca

 

Waw sudah ada lagi aja teman yang melepas masa lajangnya.

 

(Kamu kapan, Ma?

......

Lihat itu ada UFO!!

*nyumput)

 

Bandung, 15 Mei 2016

Risma Dwi MW

Saturday, April 30, 2016

Gara-gara permainan

Selamat akhir bulan April, Bubbly-blog..

Jadi inget tahun kemaren deh.

Persiapan Saya menuju Mei ke Je-ka-te buat pulang kampung ke Pe-ka-u.

Tapi, kali ini Saya berbagi cerita bukan ngajakin bernostalgia tahun lalu.

 

Kemarin jam 5.39 pm atau jam setengah enam lebih sembilan menit sore hari, ada telepon masuk. 

Awalnya Saya ragu buat ngangkat. Soalnya enggak ada namanya. Yang terpampang cuma no.nya aja. Tapi.... ya sudahlah. Sudah di geser ke tanda menerima telepon.

 

Sekitar 8 menit Saya berbincang dengan pemilik No. tersebut.

Ternyata itu adalah teman SMP Saya.

 

Perbincangan Kami dibuka dengan kata “Halo” seperti biasa.

Saya sudah hilang komunikasi dengannya sejak sekitar.. hem.. terakhir itu.. 2012 kalau enggak salah inget.

Waaaw... 4 tahun ternyata ya. Lumayan lama juga.

 

Intinya, Kami bisa berkomunikasi lagi karena memainkan permainan online telepon genggam yang sama.

 

Awalnya Saya enggak tau ternyata teman Saya itu memainkan permainan itu.

Sampai ada misi yang mengharuskan untuk disesuaikan di salah satu media sosial.

Secara enggak sengaja, teman-teman media sosial Saya (yang juga memainkan permainan yang sama) di tambahkan menjadi teman permainan itu.

Dia salah satunya.

Ketika Saya sedang berkunjung ke “tetangga” untuk mendapatkan tambahan poin, barulah Saya sadar kalau ternyata Kami sama-sama pemain.

Ada dua permainan sih sebetulnya, hanya saja yang satu lagi itu Dia enggak aktif. Tapi, karena Kami masih berteman di salah satu aplikasi obrolan, membuat Saya tetap terdaftar sebagai “tetangga”-nya.

 

Hal yang membuat Saya sedikit kaget adalah,

 Dia : Iya, sekarang kan Aku udah jadi Ibu rumah.

  Eh, Kamu tau enggak Aku udah jadi Ibu rumah tangga?

Saya : HAH?! Apa?! Kamu udah jadi Istri? ASTAGA!! Selamat yaaa... Maaf ihh Risma enggak tau..

Dia : Ih Aku teh ngirim undangan via Line memang enggak nyampe?

Saya : Oiya? Enggak ada loh. Memang kapan?

Dia : Pantesan. Kata Aku teh, kenapa Kamu enggak ngabarin balik. Desember tahun lalu, Ma..

Saya : Enggak nyampe.. Jadi Risma enggak tau deh..

Dia : Enggak apa-apa, Ma. Minta doanya aja ya

Saya : Pasti di doain sama Risma

 

Kurang lebih begitulah salah satu obrolannya.

Saya antara kaget sama seneng sih.

Maksudnya kaget, ya karena baru tau aja.

Seneng karena... ya seneng aja..

Salah satu temen deket Saya yang dulu sudah ada yang menemani dalam hidupnya.

 

Terus Saya mikir..

Mungkin, kalau bukan gara-gara permainan itu, Saya dan Dia masih belum ada komunikasi sampai sekarang.

Tuh, tambahan positif dari permainan online, Bubbly-blog  ;D

 

Bandung,

30 April 2016

Salam,

Risma Dwi MW

Thursday, April 28, 2016

Cerita lain tentang menyukaimu terkadang sakit

“Kak Aris! Dapet salam! Dari Rima”, Ita dan Yuli menunjuk Aku, yang sedang berusaha menunduk agar tidak dilihat Kak Aris.

“Kalian mah ih!”, Aku memukul Mereka dengan pelan sedikit kesal.

Aku yang kikuk ditertawakan oleh teman-teman sekelasku yang sedang duduk menunggu keinginan untuk pulang.

 

Namaku Rima, Aku adalah mahasiswi baru Sekolah Tinggi ini.

Hari ini belum ada perkuliahan biasa sih. Tapi ada Kuliah Umum tadi pagi.

 

Mari, sedikit kuceritakan Kak Aris itu siapa.

Dia adalah Kakak kelasku.

Orangnya tidak begitu tampan.

Aku tertarik padanya karena Dia unik.

Mungkin enggak unik juga ya.

Jadi gini, ketika Aku mengikuti ospek, Aku suka sekali duduk daerah belakang.

Aku senang duduk di belakang karena tidak ingin menjadi pusat perhatian.

 

Jadi, Kak Aris ini, kebetulan menjadi panitia divisi publikasi dan dokumentasi.

Entah kenapa, Dia hobi banget untuk menghalangi pandanganku.

Jadi kalau Dia sedang ‘bertugas’, pengambilan gambarnya selalu didaerah depan tempat Aku duduk.

Sehingga apa yang terjadi di depan enggak kelihatan olehku.

Mau marah tapi Aku anak baru, Aku sedang tidak ingin mencari masalah.

Enggak marah juga kesal sendiri. Jadi hanya bisa ditahan.

 

Saking sering menahan kesal, setelah pengenalan kampus selama total 4 hari itu, Aku jadi malah mencari keberadaan Kak Aris.

Kurang kesal apa coba, yang terjadi akhirnya Aku malah tertarik padanya.

HIH!

 

Gara-gara teman-temanku yang iseng meminta no teleponnya, Kak Aris jadi kenal denganku.

“Rima! Dapat salam dari Saya. Jangan lupa sms ya!”, ujarnya sambil tertawa.

“Ih! Lelaki aneh!”, ucapku dalam hati dengan tingkah sedikit kikuk.

 

Dengan kelakuan aneh dan gaya yang serampangan, Aku enggak akan tahu kalau aslinya Kak Aris adalah orang yang baik.

Pernah satu ketika, Kak Aris melihatku sedang sendirian di seberang lobby kampus.

“Hei! Ngapain?”

“Ng.. Lagi duduk..?..”

“Maksudnya, tumben sendirian?”

“Mau pergi makan tapi tanggung. Bentar lagi ada kuliah lagi. Jadi nunggu ada disini”

“Ditinggalin temen-temen makan?”

“Iya. Tadi soalnya ngasih tugas anak-anak ke dosen dulu”

Lalu kemudian Kami berbincang mengenai hal-hal yang tidak penting.

“Udah jam 1 kurang. Aku ke atas dulu ya Kak.”

“Oh iya bener. Oke”

“Kak Aris ada kuliah lagi?”

“Enggak. Tadi rencananya mau pulang. Terus ngeliat Kamu. Ya udah ngobrol dulu. Sana naik. Daaah”

 

***

 

Sebenarnya, bisa dikatakan Aku cukup keras kepala untuk suka pada Kak Aris.

Karena setiap Aku memiliki kesempatan untuk memberikan kode-kode enggak jelas padanya, Dia hanya tersenyum, atau bahkan hanya tertawa.

Semacam Dia menolakku berkali-kali, tetapi Aku masih tetap menyukainya.

 

***

 

“Rima, Saya suka sama Kamu. Tapi, bukan suka yang seperti itu.

Kamu, disukai oleh banyak orang.

Sedangkan Saya, banyak yang enggak suka sama Saya.

Saya enggak mau, nantinya gara-gara Kamu dekat dengan Saya, Kamu malah jadi dibenci sama orang”

 

***

 

“Rima...”

Aku melihat muka Kak Aris sedikit lesu.

“Apa?”

“Saya udah 5 kali di tolak..”

“5 kali?”

“Iya. Masa coba, Saya udah...~”

“Tunggu.. tunggu..

Kak Aris masih inget kan, Aku ngecengin Kak Aris loh..”

“Iya, tahu.

Jadi gini ya, masa....~”

“....”

Mau tidak mau Aku mendengarkan cerita Kak Aris dengan seksama.

 

Rasanya sakit, tapi ya, Aku masih tetap menyukainya.

 

_rdmw_

*based on true story, kadang masih suka ketawa sendiri nginget hal ini