Thursday, March 10, 2016

Masalah Nama

Selamat bulan Maret, Bubbly-Blog.

Beberapa bulan yang lalu (hitungannya tahun kemarin), Saya tertimpa kekurangbaikan.

 

Tersebutlah suatu malam, Saya akan melakukan transaksi pembelian secara online.

Sehubungan dengan salahnya meng-klik cara pembayaran, mengharuskan Saya untuk melakukan transaksi melalui mesin ATM.

 

Waktu itu gerimis sedang turun secara perlahan.

Entah mengapa sedikit ada hal yang mengganjal di hati ini ketika akan keluar rumah.

Tapi, Saya acuhkan saja.

 

Karena sudah cukup lama tidak berjalan dibawah hujan, cukup menyenangkanlah perjalanan yang hanya sekitar 5 menit tersebut.

 

Ketika sampai di depan mesin ATM, perasaan kurang menyenangkan tibatiba muncul.

Mesin ATM nya masih tetap bersuara, ah mungkin memutarkan theme song, ya gitulah pokoknya.

Tetapi, layarnya menghitam.

Dengan kurang pintarnya, entah bagaimana Saya tetap memasukan kartu ATM Saya.

Dan jalan ternyata.

Mesin ATM meminta PIN, dan berjalan sebagaimana mestinya.

 

Sampailah ketika Saya menekan tombol untuk transfer.... Dan kemudian layarnya blank, sudah tidak ada lagu-lagu itu lagi, mesinnya diam. Saya juga diam. Bapak-bapak yang ngantri di belakang Saya sibuk dengan teleponnya.

Kemudian Saya bertanya kepada Bapak tersebut,

Me : Maaf Pak, mau ke ATM ini juga? (Saya tunjuk mesin ATM nya)

Bapak yang sedang ngantri (BYSN) : Iya, Mbak

Me : Kayaknya mesinnya rusak, Pak. ATM Saya barusan ketelen, terus layarnya nge-Blank

BYSN : Hah? Ya ampun, Mbak. Cepet, cepet, telepon itu Mbak, ke no yang ini (nunjuk no telepon call center), minta blokir, Mbak.

Me : Iya, Pak.

 

Sebetulnya, setelah menginfokan bahwa si mesin ATM rusak teh, Saya juga mau menghubungi call center tersebut untuk memblokir kartu Saya.

Saya sudah mencoba memberi info ke Bapak tersebut agar bisa mencari mesin ATM lain terdekat dan bukannya malah memasukan kartu ATMnya.

Ternyata malah Bapak itu yang panik hahaha

 

Setelah Saya menghubungi call center, Saya pun pulang.

Yaaaah ATM Saya ketelen deh.

Ya sudahlah.

 

Nah, besoknya teh kebetulan Saya akan menemani teman Saya ke beberapa tempat.

Dan Saya pun memasukan Bank yang mengeluarkan kartu ATM Saya ke dalam daftar perjalan mampirmampir Kami.

 

Awalnya, Saya mengecek ke kantor cabang utama Bandung Bank tersebut.

Ternyata tidak bisa, alasannya :

“Maaf Teh, masalah ini bisanya langsung ke cabang Teteh buka tabungan. Soalnya beda semua kan. Walau orangnya kan masih tetep sama ya.. gimana atuh?”

 

Gitulah kurang-lebihnya.

 

Saya jelaskan sedikit.

Jadi, Saya membuka tabungan itu ketika duduk di bangku SMA kelas 2, eh, kelas XI atuh ya sekarang mah namanya teh.

Belum punya KTP dan harus meminta keterangan dari sekolah.

Sebenarnya nama Saya sih enggak sesusah dan sepanjang itu, hanya saja, memang lebih panjang dari nama orang kebanyakan.

Nama Saya terdiri dari 4 suku kata.

Kalau di E-KTP, hanya 3 suku kata depan nama Saya (katanya kepanjangan. Padahal katanya nama teh bisa di dua bariskan)

Kalau di KTP sebelumnya, lengkap 4 suku kata.

Standar Saya menuliskan nama biasanya 2 suku kata awal nama Saya diikuti 2 inisial depannya saja.

Atau, penulisannya 3 suku kata diikuti 1 lagi inisial depannya saja.

 

Tapi, nama di buku tabungan Saya di Bank tersebut menuliskan 3 suku kata dan 1 inisial.

Bedanya adalah, inisial yang disingkat itu di tengah. Bukan di belakang, selayak dan senormal dan secara umum orang menyingkat nama dengan inisial.

Dan entah mengapa, ternyata pencetusnya adalah surat keterangan dari sekolah Saya itu.

 

Gimana coba ceritanya.....??.....

Nama Saya di kertas absensi sekolah juga lengkap kok. 4 suku kata tanpa ada singkatan inisial apapun.

Dan harusnya kan kalau mau menyingkat pun dibelakang, bukan di tengah.

(kira-kira kebayang enggak sih masalahnya? Hahaha)

 

Nah, hal itulah yang membuat Saya malas kalau harus berurusan dengan Bank tersebut.

Padahal muka masih sama loh. Maksudnya masih miriplah. Enggak berubah secara signifikan gitulah.

Dan nama juga masih itu-itu aja sih. Cuma perbedaan singkatan aja.

 

Dulu Saya pernah coba mengurusi tentang nama itu di tahun 2012.

Tapi, kata Ibu supervisor CS nya :

“Setidaknya minimal ada 2 dokumen yang menyatakan bahwa nama tersebut memang nama Mbak”

 

Karena Saya merasa ribet, Saya tinggalkanlah si masalah itu.

 

Dan kemarin, ketika harus mengurus tentang tertelannya kartu ATM, Saya sampai bawa akte kelahiran, surat keterangan dari kelurahan, Ijazah SMA, dan kartu keluarga (seniat itu Saya untuk menyelesaikan masalah nama)

 

Ternyata di kantor cabang utama tetap tidak bisa.

Merasa sudah hampir menyerah, kemudian teman Saya memaksa Saya untuk mendatangi kantor cabang tempat Saya membuka tabungan.

Sedikit ogah-ogahan Saya masuk dan menunggu untuk dipanggil berhadapan dengan CS.

 

Saya ceritakan kronologi tentang kartu ATM Saya yang tertelan dulu, kemudian bilang sudah di blokir, kemudian bla-bla-bla.... intinya, mau minta kartu ATM baru.

 

Ketika Mbak CS nya minta KTP dan buku tabungan, mulailah hal yang Saya bayangkan terjadi.

“Mbak, nama di KTP dengan yang di buku tabungan berbeda ya?”

 

JENG JENG JENG JENG!!!

 

Kembali Saya menceritakan kronologi Saya buka tahapan ketika SMA, belum punya KTP, dan ternyata dari sekolah dikasih surat keterangan itu dan bla-bla-bla.....

 

Si Mbak nya mulai memasang muka bingung.

 

“Maaf ya, Mbak, nama Saya nya kepanjangan. Tapi muka sama namanya masih sama kok, Mbak, Saya-saya juga”

Saya keluarkanlah semua surat keterangan yang Saya bawa.

 

Terus, si Mbak berdiskusi dengan supervisornya.

Supervisor yang berbeda dengan 2012 lalu.

Ketika pertama Saya lihat pas Saya baru mulai dipersilahkan duduk di hadapan meja CS, Ibu supervisor CS yang ini mukanya lebih ramah. Tapi mukanya lebih pucat dengan sedikit mata yang nanar akibat kelelahan. Sembari memijit pelan tempat diantara kedua alisnya.

Sepertinya sih, sedang merasa tidak sehat atau kurang enak badan.

Saya rasa sepertinya masalah nama akan selesai hari itu.

 

“Selama orangnya masih sama, dan namanya tidak ada perubahan, beresin aja. Kasihan nanti kalau ada urusan-urusan. Lagian ini namanya cuma beda di penyingkatan aja kan”

 

Lalu Mbak CS bilang :

“Sebentar ya, Mbak. Saya ambilkan dokumennya dulu”

 

DONE!

 

Setelah Mbak CS kembali dan membuat perubahan di data Saya, Saya ceritakanlah masalah yang terjadi di 2012.

Mbak CS :

“Biasanya itu mah tergantung kebijakan dari supervisornya, Mbak. Soalnya belum pernah ada masalah ini sih...”

 

Dan buku tabungan Saya juga di perbaharui.

 

Walau Saya harus lebih dari 60 menit hanya untuk urusan nama, setidaknya masalah yang berakar bertahun-tahun akhirnya selesai juga.

Saya enggak harus bawa-bawa akte kelahiran, kartu keluarga, dan surat keterangan kelurahan lagi kalau mau ke Bank tersebut jika ada masalah.

 

Saya jadi mikir, mungkin memang kartu ATM Saya harus tertelan di malam itu, biar besoknya Saya dipaksa ke Bank tersebut ketika supervisor CS itu sedang bertugas di hari itu.

Rencana Tuhan indah ya...

 

Jadi, Bubbly-blog, kalau nanti punya anak, kasih namanya jangan kepanjangan dan jangan bikin dia jadi susah nantinya ya..

 

Bandung, 10 Maret 2016

Salam,

Risma Dwi MW

(ini nih maksudnya 2 suku kata diikuti 2 inisial depannya saja)

Sunday, February 28, 2016

Cerita lain tentang Ulang Tahun

“Selamat pagi, Bayn Sayang. Bangun dong. Kamu enggak akan kerja, Sayang?”

 

Mataku langsung terbelalak.

Aku terkejut!

Jam di mejaku menunjukan pukul 3.15 pagi.

Dan ya, kamarku kosong.

Suara itu hanyalah mimpi semata.

Kubangunkan tubuhku.

Mungkin lebih baik Aku mengambil segelas atau setengah gelas air bolehlah, untuk kuminum.

 

Perkenalkan, namaku Bayn Yusuf.

Usiaku 35 tahun.

Dan masih sendiri.

Maksudku... belum menikah.

 

Aku adalah seorang Kepala bagian disebuah perusahaan yang bergerak dibidang jasa.

Sudah memiliki rumah sendiri, memiliki sebuah motor, sebuah mobil, dan menjadi korban bully teman-teman dekatku.

 

Sebelumnya kuperkenalkan sekilas saja tentang  teman-temanku.

Aku memiliki 8 orang teman dekat.

5 perempuan dan 3 orang lelaki.

Kami berteman dekat sejak kuliah.

Dan ya, Mereka semua sudah berkeluarga.

 

Sebenarnya Aku tidak begitu menggebu-gebu untuk menikah.

Tapi bukan berarti Aku tidak ingin menikah ya.

Karena Kakekku bukan berasal dari Indonesia dan saudara Kakek ada beberapa yang berusia 40 lebih baru menikah, membuat keluargaku tidak menuntutku untuk sesegera mungkin memiliki istri.

“Jodoh pasti akan datang, Bayn. Sabar saja”, Nenekku selalu berkata seperti itu.

 

“Apa mungkin Kamu suka sesama, Bayn? Tapi enggak sadar atau mungkin enggak mau ngakui?”

Dwima, adalah salah satu sahabat dekatku. Dia merupakan tempat curhat sejuta umat, termasuk Aku dan semua teman dekatku sejak Kami kuliah dulu.

“Amit-amit Wi. Enggaklah. Aku masih suka perempuan kok. Kamu taulah perempuan yang dekat sama Aku dulu siapa aja. Bahkan Aku sempat suka sama Anita.”

Anita adalah salah satu teman dekat Kami juga.

“Mungkin dulu sama sekarang... beda..?”

“Enggak Wi, bener deh. Aku masih suka perempuan.”

Dwima menghela napasnya sedikit panjang.

“Lagian kalau suka sesama enggak ngebuat Kita jadi ngejauh, Bro”

Dwima memandang Tama, suaminya, yang juga kebetulan salah satu teman dekatku.

“Eh, ini Aku konteksnya serius loh, Sayang. Kita enggak akan berubah kan, Bayn suka siapa aja dengan jenis apa aja...”, ucap Tama seperti membalas tatapan Dwima yang seolah berkata obrolan-ini-bukan-bahan-becandaan itu.

 

“Terus kenapa tiba-tiba ngebahas ini, Bayn? Biasanya kan enggak peduli”

“Jangan-jangan Mamah-Papah udah nanyain? Udah minta Cucu?

Tinggal bikin sih Cucu mah kan enggak harus nikah dulu hahahaha”

“Sayang, mendingan Kamu masak kek, nyebrangin orang tua kek, jualan rengginang kek sana.
Aku lagi ngobrol serius loh ini”, Dwima melemparkan pandangan paling sinis dan galaknya ke arah Tama.

 

Aku sempat ikut tertawa karena omongan Tama.

Tapi melihat mereka berantem sambil becanda ini membuat suntukku hilang.

Iya juga ya. Entah kenapa tiba-tiba Aku curhat masalah yang selama ini sebenarnya tidak begitu menggangguku.

 ***

“Met milad, Bro!

Hari ini kumpul di Turbo jam set2 ya.

Anak-anak juga mau pada dateng.

Dwima udah bikinin kue”

 

Ah, iya.

Ini hari ulang tahunku.

Terbesit kesedihan diotakku.

Eh, kenapa Aku harus sedih?

 

Kuambil telepon genggamku dan menghubungi Mamahku.

“Selamat ulang tahun, Nak. Terus kapan ke Singapur lagi?”

“Bawa Istri dong, Bang”

“Aduh, Dia ngeluarin kata keramat”

“Ba.. ba.. baaa.. baaaaaaaa....”

Dan kemudian Jerry, Anak dari Adik perempuanku menangis.

 

Dan selalu seperti itu setiap Aku dan keluargaku berhubungan melalui Video Call.

Adikku menikah dan ikut suaminya tinggal di Singapura.

Dan 6 bulan lalu Mamah dan Papah memutuskan untuk tinggal juga disana.

Kami memiliki 3 tempat tinggal yang bersebelahan disana. Peninggalan Kakekku dulu.

 

“Iya, terima kasih atas semua doa dan perhatiannya ya gengs.
Sekarang, Aku mau mandi dan nyari Istri dulu. Kali aja ada yang beli satu gratis satu.

Daaaah”

Aku masuk kamar mandi setelah puas tertawa dengan keluargaku.

“Selamat, Bro! Ulang tahunnya udah. Istrinya kapan?”

“Tuhkan! Aku udah yakin loh, Bayn, anak-anak pasti nge-bully Kamu hahaha”

“Habisan Kamu mukanya minta di bully, Bro!”

“Aku tau deh make-a-wish-nya. Pasti jodoh!”

“Pasti, ‘Tuhan, karena telat, jadinya double ya’ hahaha”

Aku ikut tertawa.

“Atau Kamu suka sesama kali, Bayn?”

“Udah-udah. Kuenya dipotong dulu dong. Ala-ala anak muda gitu”, Dwima mengalihkan pembicaraan.

 

“Oke. Oke. Gini deh,

Kalau ada disini, perempuan, yang ulang tahun juga, Aku nikahin. Aku jadiin istri. Hahahaha”

“Waaah! Bener ya?!”

“Iya, bener..”

“Serius?!”

“Wah! Parah Bayn hahaha”

Teman-temanku heboh.

“Selamat ulang tahun.. Selamat ulang tahun.. Selamat ulang tahun Nila.. Semoga panjang umur..”

“Happy Birthday, Nila! Yeeeeaaayyy!”

Terdengar lagu ulang tahun dinyanyikan berselang dua meja dari Kami.

Sebuah kue berlilin angka 2 dan 6 dibawa oleh salah satu pramusaji.

Aku dan teman-temanku saling pandang.

***

“Jodoh pasti akan datang, Bayn. Sabar saja. Tapi...  Hati-hati dengan ucapanmu”, Aku lupa dengan pesan lengkap Nenekku.

 

_rdmw_

Saturday, February 13, 2016

My 26

Hai Bubbly-Blog..

Selamat Februari..

 

Saya mau berbagi cerita tentang hal yang terjadi ketika Saya tambah umur.

Ketika itu, Saya memutuskan untuk bertemu, makan dan berbincang dengan beberapa orang yang dekat dengan Saya.

Sebenarnya sih tidak ada yang spesial ya.

Cuma mau makan dan ngobrol ngalorngidul aja.

 

Saya bukan mau nyeritain gimana-gimana nya, Saya mau nyeritain si beberapa kado yang Saya dapat.

 

Pertama adalah, Caca.

Sebenarnya namanya bukan Caca. Caca adalah nama kucingnya.

Karena Dia suka dengan nama itu, di kampusnya yang sekarang, Dia mengenalkan dirinya dengan nama Caca.

Singkat cerita, Dia memberi kado cokelat batang dan kue tart mini dengan hiasan jamur.

Awalnya Saya enggak tau kenapa Dia ngasih Saya dua benda itu.

Sampai Dia menjelaskan,

1. Cokelat batang :

Waktu itu Kami berbincang tentang makanan (banyak sih yang diobrolkan. Bukan cuma makanan aja), sampai di topik tentang cokelat. Saya bilang, “Eh Kakak pengen nyobain Cokelat Chunky Bar yang segede gaban itu tau enggak, Dek? Yang panjangnya semeter kalau enggak salah. Tapi waktu itu liat harganya dua ratus ribu.”

Dan katanya, Dia ingat perbincangan Kami waktu itu (yang kebetulan sekitar belum begitu lama). Dan Dia ngebeliin Saya cokelat.

She said : Tadinya mau ngebeliin yang lebih besar, Kak. Tapi, sehubungan kantong mahasiswa lah ya.. dan akhir bulan, jadi Adek beliin yang ini aja

 

2. Kue tart mini dengan hiasan jamur :

Saya suka dengan jamur. Lebih tepatnya bentuk jamur. Karena lucu aja, bertopi gitu. Tapi sukanya tuh bukan yang menggebu gitu. Dan Dia ingat akan hal itu.

 

Berikutnya adalah Salah satu karib Saya sejak.. hem.. sejak kapan ya..

Saya aja bahkan sampai lupa Kami bisa dekat itu kenapa.

Singkat cerita, Kami kenal karena sama-sama anak bawang di organisasi.

Maksudnya, karena waktu tahun pertama belum menjadi pengurus organisasi, cuma suka bantuin Kakak-kakak kelas yang udah jadi pengurus.

 

She said : Sebelum dibuka, Aku mau bilang dulu. Aku enggak mau tau. Kamu harus pake barang ini. Ini Aku beliin buat dipake. Pake ya

 

Ya, Dia mengucapkan kata “pake” begitu banyak. Untuk menekankan bahwa benda yang nantinya Saya ketahui setelah membuka bungkus kadonya harus digunakan.

 

Dia memberi Saya talenan.

Iya, talenan. Yang alas untuk mengiris sayur, buah, atau daging itu.

 

Saya suka memberantakkan dapur. Dan memang membutuhkan talenan.

Tapi... Talenan yang Dia kasih itu berpola Hello Kitty.

Saya suka dengan pola Hello Kitty sejak kecil, sejak Saya masih bayi.

Sukanya pake BANGET!

BANGETnya pake capslock!

 

Jadi, pergulatan hati Saya adalah, Saya enggak mau pake talenan itu karena itu bagus. Dan malah sayang kalau misalnya jadi rusak terkena goresan pisau.

Pokoknya, ada kegalauan dihati ini tentang talenan itu.

 

Selanjutnya, keesokan harinya, salah satu karib Saya yang lainnya datang.

Karib yang masuk 10 tahun pertemanan dan keakraban Kami.

Di minggu sebelumnya, Kami berbincang di telepon (setelah selesai ngomongin orang, tentu aja =D).

She said : Aku mau ngasih sesuatu sama Kamu. Sebenernya udah lama sih mau ngasihnya. Tapi nanti aja deh ya, sekalian aja buat kado pas Kamu ultah.

Jadi, ketika Dia datang, “Aku bawain iniiiii..... Waktu itu Aku teh di beliin ini sama Mamah. Terus kata Aku teh enak. Jadi Aku suka langganan gitu. Dan Aku tau Kamu pasti suka”

Dia bawain Saya Soto Bandung.

Iya, Soto Bandung.

 

Jadi, beberapa tahun silam, Saya pernah makan Soto Bandung buatan Mamahnya di rumahnya. Dan Saya suka.

Semenjak itu, Saya suka nanyain kapan Mamahnya masak Soto Bandung lagi, soalnya Saya mau numpang makan disana (enggak tau diri =D).

 

Hadiah berbentuk barang lainnya, baru Saya terima hari ini.

Salah satu Karib Saya yang lain datang.

Saya sudah dapat info sih Dia mau mampir.

Dia ngasih Saya kotak yang cukup besar, dengan kertas kado bergambar Doraemon, dan enggak semua kotaknya ketutupan.

 

Saya : Naon ini mah, naha enggak ketutupan semua?

Dia : Enggak ada lagi kertas kadonya ai maneh. Buka atuh ih buka sekarang

Saya : *buka kado pelan-pelan biar enggak robek

Dia : Naon atuh euy meni gitu bukanya. Sok-sok pelan-pelan. Robek we atuh

Saya : Nanti main asal buka, robek, urang deui nu disalahkeun

   Apa ini isinya gambar Hello Kitty tapi kertas kadonya Doraemon

Dia : Eweuh deui sateh. Urang udah menyiapkan jawaban karena tau maneh pasti akan menanyakannya hahaha

Saya : Meni sampai penyok gini kotaknya

Dia : Maneh mah ya! Kemaren Gue hujan-hujanan gara-gara ini. Nya atuh penyok dikit mah bae atuh. Baguskaaan.. Ada dua pasang. Ibu rumah tangga banget kan. Tupperware pula. Pas urang liat gambarnya ya, urang pikir segede tempat sayur buat di rumah gitu. Eh, ternyata misting. Bae lah nyak.

Saya : Iya. Bagus. Makasih yaaa

Dia : Hem.. Aku beli lah ya, sepuluh ribu, gimana?

Saya : Maneh mah! Ongkoh ngadoan, tapi hayang di beuli. Kumaha sih?!

 

Ya... Kita memang hobinya berdebat dan berantem enggak jelas gitulah.

 

Dan yang paling bikin saya mengernyitkan dahi adalah,

“Ucu ndak? Cu anet? Mez?”

 

MAKSUDNYA :

“Lucu enggak? Lucu banget enggak? Gemes enggak?”

 

Pergaulannya di Kota Megapolitan itu mungkin salah =’(

 

Diluar dari Kado berbentuk benda, Saya menerima Kado berbentuk ucapan.

Terima kasih untuk semua yang mengucapkan, mendoakan.

Baik yang melalui aplikasi obrolan, media sosial, maupun pesan singkat dan telepon.

Terima kasih juga untuk doa-doa yang mungkin tidak tersampaikan melalui ucapan.

 

Alhamdulillah..

Bandung, 13 Februari 2016

Salam,

Risma Dwi MW

 

*ada beberapa orang yang mengucapkan melalui media sosial yang membuat Saya sedikit kaget. Karena tidak terpikir mereka akan mengucapkan dan mendoakan. Ceritanya Saya share lain kali ya..

Sunday, January 31, 2016

Cerita lain tentang dibalik jendela

“Mah, Lury berangkat dulu yaaaa....”

“Kamu enggak sarapan dulu, Nak?”

“Enggak sempet, Mah.”

“Yaudah, di bekel aja, di bekel.”

 

Aku menunggu di sebelah meja makan sementara Mamahku mengambil tampat makan ke belakang.

 

“Lagian masih jam segini Kamu udah buru-buru. Ada apa sih?”
“Kan motorku di bengkel, Mah. Jadi hari ini mau ngangkot.”

“Kenapa enggak bareng Papah aja?”

“Enggak ah. Papah mah suka berangkat mepet jam kantor. Nanti Aku telat. Aku harus nyiapin materi meeting jam 10, Mah”

“Ya udah, ini”

“Aku pergi ya Mah.

Paaaah, Aku pergi.

Iyaaa. Hati-hati.

Dadah Mamah”

 

Setelah mencium Mamahku, dengan kecepatan super Aku mengambil kotak makanku dan melakukan ritual nanya-sendiri-jawab-sendiri seperti biasa.

 

Syukurnya Aku sampai lebih cepat di kantor. Dan berhasil menyiapkan materi tanpa ada yang tertinggal.

 

Sore menjelang.

Rapat yang bertotal 4 jam membuat alur waktu tidak terasa.

Mungkin karena Aku yang presentasi kali ya.

 

“Ry, pulang bareng?”

“Eh, Mas Albert..

Enggak deh”

“Tapi bukannya motor Kamu lagi di bengkel?”

 

Kenapa Dia bisa tau?

 

“Iya Mas, ini mau ngambil kok.”

“Ya udah Aku anterin ke bengkelnya aja.”

“Enggak usah Mas. Makasih, Aku duluan ya.”

“Tapi Ry...~...”

 

Secepat kilat Aku melangkahkan kaki untuk menjauh dari Mas Albert.

Kata rekan-rekan kerjaku, Mas Albert punya ketertarikan kepadaku.

Bukannya Aku enggak sadar dan enggak kerasa.

Tapi......

DIA SUDAH PUNYA PACAR!!

Dan Aku paling males jadi masalah di kehidupan percintaan orang lain.

 

Salah satu ujian kesabaran adalah ketika pulang sore dan jamnya banyak orang pulang kantor.

Terlebih Aku sedang menggunakan kendaraan umum.

Walau rumahku tidak di dekat dengan terminal, tapi Aku lebih senang duduk di pojok dekat jendela belakang.

Setidaknya Aku bisa melihat pemandangan dengan kaca yang cukup lebar, walaupun yang terlihat kendaraan lagi, kendaraan lagi.

 

Ketika sedang iseng menghitung kendaraan roda dua berwarna merah, ada salah satu pengendara bermotor laki-laki menarik perhatianku.

 

Dia bernyanyi tanpa suara meresapi lagu yang dinyanyikannya dengan penuh penghayatan sambil memejamkan mata.

Sepertinya Dia menggunakan earphone dan mendengarkan lagu kesukaannya.

Karena terlihat sangat hapal sekali.

Dengan pengucapan sangat jelas, Aku sampai merasa berhasil menebak judul lagunya.

 

Tanpa sadar, Aku menahan tawa dengan cara tersenyum.

 

Dia melihatku dengan kaget dan menghentikan kegiatannya.

Aku tersenyum padanya.

Dengan terlihat malu, Dia membalas senyumku.

 

“Lis-ten, Be-yon-ce”

Ucapku sejelas mungkin tanpa suara sambil menunjuk telingaku.

 

Dia mengangkat jempolnya.

 

Kemudian dikeluarkan telepon genggam dari sakunya dan seperti mencari sesuatu.

Melihatku lagi dan melakukan gerakan seperti memintaku untuk menebak lagu yang sedang didengarkannya.

Berulang lagi kejadian Dia menghayati lagu dan menyanyikan tanpa suara.

 

“Ha-ppy, Pha-rrell Wi-lli-ams”

 

Diangkatnya lagi jempolnya sambil tersenyum sumringah.

 

“Satu lagi”, ucap gerakan tangannya.

 

Sekali lagi berulang Dia melakukan gerakan menyanyi di mulutnya.

 

Untuk yang kali ini dahiku berkerut.

Ucapannya sangat tidak jelas dan membuatku sangat bingung.

 

Melihat mukaku kebingungan, dia tersenyum jahil.

 

“See you a-gain, ba-gi-an Wiz Kha-li-fa-nya”

 

Pantesan aja Aku enggak bisa nebak.

Aku memperlihatkan muka kesal kepadanya.

 

Angkot yang kunaiki sudah berhasil melewati perempatan lampu merah yang macet.

Arah yang kutuju lurus, sedangkan Dia berbelok ke arah kanan.

 

Kami saling berpandangan dan saling menganggukan kepala menandakan saling berpamitan.

 

_rdmw_

 

Sunday, January 24, 2016

Digosipin Berubah

Aloha Bubbly-Blog..

Asa udah lama enggak bikin cerpen ya.. Hem..

Tapi postingan kali ini bukan cerpen sih ya.

 

Kejadiannya beberapa bulan lalu..

 

Jadi gini...

Saya adalah salah satu pelanggan setia Amidis.

Jadi kalau beli air galon, merk nya Amidis.

Kalau beli air minum dalam kemasan gelas, merk nya Amidis.

Kalau beli air minum dalam kemasan botol sedang, merk nya Amidis.

(untuk dikonsumsi di rumah ya)

 

Karena udah langganan beli merk Amidis, Bapak penjual langganan Saya udah tau. Kalau Saya kesana pasti beli Amidis.

 

Suatu ketika, Saya ada acara gitu.

Pas mau pesen, ternyata Bapaknya sedang nganterin air galon ke tempat lain.

Titip pesen we Saya ke mas-mas fotokopian (kebetulan mereka satu kios gitu).

 

“Mas, Saya mau ini” (nunjuk ke karton air minum dalam kemasan gelas merk yang berbeda)

“Yang ini?”

“Iya. Dua dus ya Mas”

“Yang ini kan teh?

Iya teh nanti dibilangin”

 

Terus udah we Saya pulang. Nunggu dianterin ke rumah.

 

Enggak berapa lama kemudian, Bapaknya dateng.

 

“Neng, bener kan mesen yang ini? Dua dus?”

 

“Iya Pak.”

(bingung dan bertanya dalam hati. Soalnya Bapaknya kayak ragu gitu)

 

“Memang udah enggak minum Amidis lagi ya?”

 

“Eh enggak Pak. Bukan gitu.

Ini si air nya mau di masukin ke besekan (semacam nasi kotak gitu)”

 

“Oooh..

Soalnya si Aa’ fotokopi bilang : Pak, itu si teteh Amidis pesen RIN87 dua dus.

Kata Saya teh : Iya gitu? Enggak Amidis? Enggak salah itu teh?

Terus Aa’ fotokopi bilang : Enggak da Pak. Saya juga udah nanya. Tapi da bukan Amidis.

Ganti air minum gitu ya si teteh teh?

Makanya Bapak teh bingung neng, kenapa enggak pesen Amidis. Bisi salah.”

 

“Hahahahaha.. Enggak kok Pak, Saya masih setia sama Amidis..”

 

Si teteh Amidis.

 

Mereka enggak tau nama Saya siapa.

Dan membuat nama panggilan sendiri hahahaha

 

Da Aku mah apa atuh, cuma beli beda merk sekali aja langsung di gosipin (>,<)

 

Bandung, 24 Januari 2015

Salam,

Risma Dwi MW

 

*tulisan ini tidak berbayar ya =))