Sunday, January 31, 2016

Cerita lain tentang dibalik jendela

“Mah, Lury berangkat dulu yaaaa....”

“Kamu enggak sarapan dulu, Nak?”

“Enggak sempet, Mah.”

“Yaudah, di bekel aja, di bekel.”

 

Aku menunggu di sebelah meja makan sementara Mamahku mengambil tampat makan ke belakang.

 

“Lagian masih jam segini Kamu udah buru-buru. Ada apa sih?”
“Kan motorku di bengkel, Mah. Jadi hari ini mau ngangkot.”

“Kenapa enggak bareng Papah aja?”

“Enggak ah. Papah mah suka berangkat mepet jam kantor. Nanti Aku telat. Aku harus nyiapin materi meeting jam 10, Mah”

“Ya udah, ini”

“Aku pergi ya Mah.

Paaaah, Aku pergi.

Iyaaa. Hati-hati.

Dadah Mamah”

 

Setelah mencium Mamahku, dengan kecepatan super Aku mengambil kotak makanku dan melakukan ritual nanya-sendiri-jawab-sendiri seperti biasa.

 

Syukurnya Aku sampai lebih cepat di kantor. Dan berhasil menyiapkan materi tanpa ada yang tertinggal.

 

Sore menjelang.

Rapat yang bertotal 4 jam membuat alur waktu tidak terasa.

Mungkin karena Aku yang presentasi kali ya.

 

“Ry, pulang bareng?”

“Eh, Mas Albert..

Enggak deh”

“Tapi bukannya motor Kamu lagi di bengkel?”

 

Kenapa Dia bisa tau?

 

“Iya Mas, ini mau ngambil kok.”

“Ya udah Aku anterin ke bengkelnya aja.”

“Enggak usah Mas. Makasih, Aku duluan ya.”

“Tapi Ry...~...”

 

Secepat kilat Aku melangkahkan kaki untuk menjauh dari Mas Albert.

Kata rekan-rekan kerjaku, Mas Albert punya ketertarikan kepadaku.

Bukannya Aku enggak sadar dan enggak kerasa.

Tapi......

DIA SUDAH PUNYA PACAR!!

Dan Aku paling males jadi masalah di kehidupan percintaan orang lain.

 

Salah satu ujian kesabaran adalah ketika pulang sore dan jamnya banyak orang pulang kantor.

Terlebih Aku sedang menggunakan kendaraan umum.

Walau rumahku tidak di dekat dengan terminal, tapi Aku lebih senang duduk di pojok dekat jendela belakang.

Setidaknya Aku bisa melihat pemandangan dengan kaca yang cukup lebar, walaupun yang terlihat kendaraan lagi, kendaraan lagi.

 

Ketika sedang iseng menghitung kendaraan roda dua berwarna merah, ada salah satu pengendara bermotor laki-laki menarik perhatianku.

 

Dia bernyanyi tanpa suara meresapi lagu yang dinyanyikannya dengan penuh penghayatan sambil memejamkan mata.

Sepertinya Dia menggunakan earphone dan mendengarkan lagu kesukaannya.

Karena terlihat sangat hapal sekali.

Dengan pengucapan sangat jelas, Aku sampai merasa berhasil menebak judul lagunya.

 

Tanpa sadar, Aku menahan tawa dengan cara tersenyum.

 

Dia melihatku dengan kaget dan menghentikan kegiatannya.

Aku tersenyum padanya.

Dengan terlihat malu, Dia membalas senyumku.

 

“Lis-ten, Be-yon-ce”

Ucapku sejelas mungkin tanpa suara sambil menunjuk telingaku.

 

Dia mengangkat jempolnya.

 

Kemudian dikeluarkan telepon genggam dari sakunya dan seperti mencari sesuatu.

Melihatku lagi dan melakukan gerakan seperti memintaku untuk menebak lagu yang sedang didengarkannya.

Berulang lagi kejadian Dia menghayati lagu dan menyanyikan tanpa suara.

 

“Ha-ppy, Pha-rrell Wi-lli-ams”

 

Diangkatnya lagi jempolnya sambil tersenyum sumringah.

 

“Satu lagi”, ucap gerakan tangannya.

 

Sekali lagi berulang Dia melakukan gerakan menyanyi di mulutnya.

 

Untuk yang kali ini dahiku berkerut.

Ucapannya sangat tidak jelas dan membuatku sangat bingung.

 

Melihat mukaku kebingungan, dia tersenyum jahil.

 

“See you a-gain, ba-gi-an Wiz Kha-li-fa-nya”

 

Pantesan aja Aku enggak bisa nebak.

Aku memperlihatkan muka kesal kepadanya.

 

Angkot yang kunaiki sudah berhasil melewati perempatan lampu merah yang macet.

Arah yang kutuju lurus, sedangkan Dia berbelok ke arah kanan.

 

Kami saling berpandangan dan saling menganggukan kepala menandakan saling berpamitan.

 

_rdmw_

 

Sunday, January 24, 2016

Digosipin Berubah

Aloha Bubbly-Blog..

Asa udah lama enggak bikin cerpen ya.. Hem..

Tapi postingan kali ini bukan cerpen sih ya.

 

Kejadiannya beberapa bulan lalu..

 

Jadi gini...

Saya adalah salah satu pelanggan setia Amidis.

Jadi kalau beli air galon, merk nya Amidis.

Kalau beli air minum dalam kemasan gelas, merk nya Amidis.

Kalau beli air minum dalam kemasan botol sedang, merk nya Amidis.

(untuk dikonsumsi di rumah ya)

 

Karena udah langganan beli merk Amidis, Bapak penjual langganan Saya udah tau. Kalau Saya kesana pasti beli Amidis.

 

Suatu ketika, Saya ada acara gitu.

Pas mau pesen, ternyata Bapaknya sedang nganterin air galon ke tempat lain.

Titip pesen we Saya ke mas-mas fotokopian (kebetulan mereka satu kios gitu).

 

“Mas, Saya mau ini” (nunjuk ke karton air minum dalam kemasan gelas merk yang berbeda)

“Yang ini?”

“Iya. Dua dus ya Mas”

“Yang ini kan teh?

Iya teh nanti dibilangin”

 

Terus udah we Saya pulang. Nunggu dianterin ke rumah.

 

Enggak berapa lama kemudian, Bapaknya dateng.

 

“Neng, bener kan mesen yang ini? Dua dus?”

 

“Iya Pak.”

(bingung dan bertanya dalam hati. Soalnya Bapaknya kayak ragu gitu)

 

“Memang udah enggak minum Amidis lagi ya?”

 

“Eh enggak Pak. Bukan gitu.

Ini si air nya mau di masukin ke besekan (semacam nasi kotak gitu)”

 

“Oooh..

Soalnya si Aa’ fotokopi bilang : Pak, itu si teteh Amidis pesen RIN87 dua dus.

Kata Saya teh : Iya gitu? Enggak Amidis? Enggak salah itu teh?

Terus Aa’ fotokopi bilang : Enggak da Pak. Saya juga udah nanya. Tapi da bukan Amidis.

Ganti air minum gitu ya si teteh teh?

Makanya Bapak teh bingung neng, kenapa enggak pesen Amidis. Bisi salah.”

 

“Hahahahaha.. Enggak kok Pak, Saya masih setia sama Amidis..”

 

Si teteh Amidis.

 

Mereka enggak tau nama Saya siapa.

Dan membuat nama panggilan sendiri hahahaha

 

Da Aku mah apa atuh, cuma beli beda merk sekali aja langsung di gosipin (>,<)

 

Bandung, 24 Januari 2015

Salam,

Risma Dwi MW

 

*tulisan ini tidak berbayar ya =))

 

Friday, December 18, 2015

Cerita lain tentang pembalasan

“Eh, Nya, kemaren Aku liat David di Cafe Tengah. Bukannya itu tempat kesukaan Kita kalau kumpul kan ya?”
“David? Di CT? Oiya? Salah liat kali Ra.”
“Masa? Memang jauh sih duduknya dari tempat Aku duduk. Aku lagi rapat sih, jadi enggak bisa melipir liat lebih deket. Tapi mirip loh. Mirip banget”
“Muka Aku pasaran kali, Ra”

Rara dan Aku kaget ketika David datang tiba-tiba.

“Kamu tuh ya, ngagetin aja”, ucapku sambil mengelus dada.
“Kamu kaget Sayang? Aduh, maaf ya hehe”
“Pak Dono belum dateng, Ra?”
“Oh udah. Tapi tadi Dia Aku minta beliin batagor. Nah... itu dia.”
“OK. Bye Ra..”
“Bye Anya, bye David”
***
“Mbak Anya, kemarin Aku lihat Mas David loh.”
“Lah? Tempat kerja kaliankan satu daerah. Tentu aja Kamu liat Fi.”
“Eh, maksudnya Aku lihat Mas David lagi di toko. Kayaknya sama Adeknya. Soalnya manggilnya ‘Abang’. Tapi karena Aku lagi ngepak barang ya, jadi enggak bisa nyapa.”
David anak tunggal, dan kemaren Dia bilang keluar kota ketemu klien.
“Ya sudah ya Mbak Anya. Saya balik ke toko dulu. Nanti kalau ada buku baru, Saya kabarin. Kalau ada buku lagi yang mau Mbak Anya cari, kasih tau Saya ya. Nanti Saya carikan. Mari Mbak Anya”
“Siap Lefi, makasih ya.”

“Syg, gmn tugas luar kotanya? Lancar? Lefi bru ksini nganterin buku yg baru Aku psn.
Kmu jgn lupa mkn ya. Trus kpn plg?”
Aku harus konfirmasi ke David tentang siapa yang mengunjungiku. Itu sudah semacam peraturan tidak tertulis untuk Kami taati.
“Iya syg. Maaf ya, Aku gak bs ngehub kamu dulu. Bnyk bgt kerjaan Aku. Ini aja msih rapat.
Kmu jgn lupa mkn jg ya syg. Aku blum tau kpn plgnya. Nanti Aku kabarin lgi.”
David membalas pesan singkat yang Aku kirimkan padanya.
***
“ANYA!”
Rara melambaikan tangannya kepadaku.
Kami janjian makan siang bersama.
Rara dan Aku adalah teman ketika SMA.
Hanya sebatas kenal saja.
Ketika Aku bekerja dikantorku yang sekarang, Aku bertemu lagi dengan Rara di kantin kantor.
Kantor Kami satu gedung, tetapi beda perusahaan.
Jadi terkadang, jika David tidak bisa menjemput, Aku ikut pulang bareng Rara yang selalu dijemput oleh supirnya.
“Eh Nya. Ini serius ni ya. Kemarin Pak Dono, ketemu sama David di Warung Bakmi.”
“David? Di Warung Bakmi?”
“Iya. Pak Dono cerita. Kan Aku minta dibeliin Bakmi, terus pas Pak Dono kesana, ketemu sama David. Davidnya enggak ngeliat sih. Tapi Pak Dono yakin, itu David banget.”
“Enggak salah liat lagi kayak waktu Kamu itu?”
“Enggak kalau yang ini. Pak Dono itu supir kepercayaan, Nya. Enggak mungkin salah dan enggak mungkin bohong.”
“Yang bilang bohong siapa, Ra? Aku kan cuma bilang mungkin salah liat.”
“Soalnya..... David sama perempuan lain.”
“Kliennya David itu banyak yang perempuan. Dia selalu cerita kok ke Aku semua kliennya.”
Aku dengan santai menyuap Nasi Ayam yang kupesan.
“Hem.. Klien tapi kok suap-suapan?”
Kunyahanku terhenti.
“Suap-suapan?”
“Iya. Kata Pak Dono Mereka suap-suapan, Nya”
***
Di usiaku yang sekarang, sudah tidak cocok rasanya Aku mengamuk, menggalau seperti anak muda yang baru kemarin jadian dan deg-degan pasangan berselingkuh.
Kabar yang kudapat dari Rara kemarin, Aku telan begitu saja.
Aku berpacaran dengan David sudah hampir 9 tahun.
Aku sudah tau sifat jeleknya David. Dan tidak ada kata selingkuh di daftar itu.
Daripada Aku berdiam diri di rumah dan jadinya berprasangka buruk, di libur Sabtu ini, Aku memutuskan untuk sedikit berjalan-jalan ke taman.

Sekitar 3 meter di depanku ada pasangan kekasih Aku menyebutnya, karena Mereka mesra. Terlihat sekali sang pria sangat menyayangi sang wanita dari gaya Mereka berjalan. Aku menyukai gaya pria ini.
Entah mengapa Aku tersenyum-senyum sendiri melihat pasangan ini. Mengingatkanku pada Aku dan David ketika Kami berjalan berdua.
Tidak berapa lama, Mereka berbelok masuk ke sebuah tempat makan.

Mataku tertarik begitu saja, hingga membuat Aku terhenti di jendela, mematung.
Itu... David....
Tanganku meraih telepon genggam dan mulai menghubungi David.
“Ya sayang?”
“Kamu, masih rapat?”
“Iya nih. Kita enggak bisa ketemuan kayaknya. Enggak apa-apa ya, sayang.”
“Di hari libur pun Kamu masih rapat? Tapi suaranya kok berisik?”
“Iya sayang, rapatnya kebetulan diluar. Kenapa?”
“Rapatnya cuma berdua sambil rangkulan gitu ya?”

Aku berdiri dihadapan David.
Aku menatap matanya dengan dalam.
Kurasa David tidak memiliki wajah yang pasaran.
Semua orang yang mengira bertemu dengan seseorang yang mirip David merupakan David sendiri.
Dan Aku yang masih selalu beranggapan David adalah orang yang sama sejak Aku mengenalnya hingga masuk ke 9 tahun Kami bersama.
“Anya..”
Aku tersenyum dan membalikan badanku.
David mengejarku.
“Anya, Aku bisa ngejelasin..”
Aku berbalik.
“Aku kasih Kamu waktu 5 menit untuk ngejelasin.”
“Ini enggak seperti yang Kamu pikir..~..”
“David, ini bukan di sinetron. Manfaatkan waktu 5 menit Kamu dengan baik.”
“Aku minta Kamu untuk dengerin penjelasan Aku dengan baik. Intinya ini enggak seperti yang Kamu bayang..~..”
“Aku enggak butuh basa-basi Kamu. Kita udah enggak remaja lagi. Jangan bertingkah seperti aktor.”
David terdiam.
“Sudah berapa lama Kamu berselingkuh?”, lanjutku.
“Aku enggak..~..”
“Berapa lama, David?”
“7 bulan lalu.”

Oh. Sejak sibuknya David ke luar kota dan hampir setiap akhir Minggu selalu ada rapat.

“Kalau Kamu memang benar ingin bersama orang lain, kenapa Kamu tetap mempertahankan hubungan Kita?”
“Tapi Aku cintanya sama Kamu, Anya.”
“Kalau Kamu cinta, kenapa Kamu berhianat?”
“Karena Aku....
Kamu tidak pernah cemburu dengan apapun yang Aku lakukan. Itu bikin Aku jadi ragu sama perasaan Kamu..”
“Sudah sekian lama, dan Kamu ragu?
Ternyata Kamu tidak setau itu tentang Aku, David.
Karena kalau Kamu tau, tidak akan muncul keraguan itu.
Kita putus." Kukembalikan cincin pertunangan pemberiannya.
“Tunggu, Anya.. Aku..~..”
“Dan tolong, jangan bertingkah seperti drama cinta televisi. Dunia peran bukan kemampuan Kamu. Kamu hanya akan mempermalukan diri Kamu sendiri. 5 menit Kamu udah habis”, lanjutku memelankan suaraku sambil berlalu pergi.
***
Sejak itu, David selalu berusaha merebut hatiku lagi. Bunga, coklat, makanan, pesan titipan, telepon, buku, benda-benda kesukaanku, merupakan pemandangan sehari-hari yang tidak ku balas.
Yang perlu Aku ambil, selebihnya Aku kasih siapa saja yang kutemui, pengantar koran, pengantar pos, pengantar paket, asisten rumah tanggaku, supir Rara, siapa saja. Ya, siapa saja.

Semuanya terhenti di bulan ke 3.
Tidak ada lagi pengantaran barang ke rumahku.
Kurasa David sudah lelah dengan pemberian yang tak berbalas.
Atau..... mungkin juga David sudah menemukan orang lain.
***
“Anya.. Anya.. Anya!!”
“Apa sih Ra.. Panggilnya sekali juga cukuplah”
“Ada gosip loh”
“Gosip apa lagi? Ada yang ngirimin surat cinta ke Kamu lagi?”
“Ih bukaaan. David. Denger-denger Dia diselingkuhin sama pacarnya yang baru. Total berarti ada 2 orang yang nyelingkuhin Dia.. Aku kasian deh soalnya..~..”

Aku sudah tidak mendengarkan opini Rara lagi.
Di otakku terputar sebuah lagu.

“And word in the street is that she did to you what you did to me”
...
...
...
how does it feel to swim in your own tears?”
...
...
...
“Bang! She shot you!
Karma taste so sweet”


_rdmw_

Inspired by Christina Perri’s song : Bang Bang Bang

*I love this song btw

Thursday, December 17, 2015

Go-jek pertama

Aloha Bubbly-Blog *kiss

 

Saya mau menceritakan pertama kalinya Saya menggunakan aplikasi Go-jek yang terkenal banget itu.

 

Jadi gini..

Awalnya Saya ada janji ketemuan di pasar baru (bulan lalu).

Sebenarnya, biasanya Saya ke pasar baru menggunakan bis kota.

Sesederhana itu.

Tapi, entahlah mengapa Saya tergoda menggunakan aplikasi ojek online tersebut.

 

Sesuai dengan aturan dan cara, Saya berhasil memesannya. Dan beberapa detik kemudian, ada yang menghubungi Saya untuk konfirmasi tempat penjemputan (Saya mengambil layanan go-ride, takut ada yang belum tau).

 

“5 menit lagi sampai ya Mbak, Saya sudah ada di Supratman”

Begitulah kata Mas Go-jek yang janjian dengan Saya.

 

Setelah menunggu beberapa menit di depan komplek, kemudian ada Mas-mas nyampeurin,

“Ojek Teh?”

 

Dari penglihatan Saya, Mas-mas ini masih muda. Dari mukanya, kisaran umur 20 sekianan (zaman sekarang wajah bisa menipu umur btw), rambut gondrong sedikit ikal, menggunakan kacamata dan kemeja kotak-kotak (kebetulan inget).

 

“Go-jek?”

“Iya, Teh”

Dikasihlah helm dan Saya naik.

 

“Otistanya dimana Teh?”

“Oh, bukan otista A, ke Pasar Baru. Memangnya petunjuknya ke otista ya?”

“Oooh. Iya Teh, alamatnya otista.”

 

Lalu Kami sempat berbincang sebentar. Eh, bukan berbincang sih ya. Dia yang cerita.

Mas-mas itu curhat tentang hujan (yang kebetulan waktu itu sudah masuk musim hujan).

Bukan nyalahin si hujannya sih. Tapi lebih ke nyeritain ada penumpang yang enggak mau kena hujan setetespun dan ada juga yang enggak mau kena panas sedikitpun.

Saya sih tidak menghakimi ya. Tapi kalau kata Saya, enggak mau kena panas mah jangan pake motor atulah (entah ojek atau sejenisnya).

 

Si masnya baik udah mau ngajakin Saya ngobrol.

Kadang ada juga yang memang enggak mau ngobrol sama sekali.

Kita memang orang asing sih.

Sama seperti Saya menggunakan aplikasi ini untuk kedua kalinya, yang kebetulan dihari yang sama untuk perjalanan pulang dari pasar baru.

Selama perjalanan si Masnya cuma tanya alamat yang dituju.

Lalu ketika sampai ditempat yang tidak terkena hujan sama sekali, Dia berkomentar, “Eh, disini mah naha enggak hujan?”

Baru deh Saya mulai basa-basi bahas hujan.

 

Dan sampailah Saya di tempat yang dituju. Walaupun beda tempat tapi masih satu daerahlah.

 

Bedanya Mas-mas Go-jek pertama tadi, lebih ramah, lebih berhati-hati, terus kasih alasan kenapa Dia milih jalan yang itu dibanding jalan lain.

Kalau Mas-mas yang kedua mungkin enggak seramah Mas-mas pertama (enggak basa-basi lah Dia), dan cepat sampai tapi masih tetap merasa nyaman. Maksudnya enggak grasak-grusuk-rusuh-enggakpuguh gitu.

 

Jadi, penilaian pertama Saya menggunakan aplikasi ini,

Menyenangkanlah ya..

 

Hal lain yang selalu Saya ingat di Mas-mas Go-jek pertama adalah,

Mas Go-jeknya habis keramas. Rambutnya wangi bangeeet  =D

 

Bandung, 17 Desember 2015

Salam,

Risma Dwi MW

Saturday, November 21, 2015

Cerita lain tentang teman masa kecil

“Mbak Mari, tunggu disini dulu ya, Saya ambil dulu uangnya.”
“Oke Bu.”
Baru saja Aku mengantarkan hasil jahitan Ibuku kepada Bu Sumi yang merupakan tetanggaku. Rumah Kami hanya beda blok saja.
Selagi menunggu, Aku melihat-lihat tanaman Bu Sumi.
Bu Sumi adalah seseorang yang ahli perihal tanam-menanam bunga. Walau pekarangan rumahnya kecil, tapi terlihat rapih dan tidak bosan untuk dipandang.
Dan ketika serius memerhatikan bunga kecil warna merah, Aku mendengar suara mobil yang dipanaskan.
Honda Jazz biru..

Itu.... Salim..

***

“MARI!”
“IYA BU, SEBENTAAAAR..”
“Masuk dulu nak.”
“Iya Bu. Terima kasih”
Ibu memanggilku ketika Aku selesai membungkus kado untuk sepupuku yang berulang tahun hari ini.
Aku mendengar Ibu berbincang dengan seorang lelaki.
Entahlah, suaranya seperti pemuda yang sebaya denganku.

“Ada apa Bu?”
“Nah! Ini dia orangnya. Mari, ingat dengan Salim?”
“Salim?”
Lelaki itu tersenyum.
“Aduh.. Nak Salim, maaf ya. Mari sudah lama tidak pulang. Dia lupa pasti”
“BU.. INI GULAINYA DIMATIIN JANGAN?”, Ayahku berteriak dari dapur.
“EH, TUNGGU DULU! Mari, temani Salim dulu ya.”
“Eh, Bu, tapi Aku..”
Dan kemudian di ruang tamu hanya tinggal Aku dan Salim.

Salim, rasanya nama itu ku kenal.

“Gimana dengan Sukabumi?”
“Sukabumi? Hem.. jadi suka banjir. Mungkin karena udah masuk musim hujan.
Hem.. Salim ya? Maaf. Akhir-akhir ini ingatan jangka panjangku kurang kuat.”
“Hahaha.. bukannya dari dulu ya?”
Aku terheran.
“Segitu enggak berartinya ya, sampai Kamu lupa tentang Kita?”
“Hah?! Tentang Kita?!”
Salim terlihat sekali menahan tawa.
Aku mulai memaksa otakku untuk berpikir dan mengingat tentang Salim.
Dan ketika Aku mulai menyerah, Salim tertawa.
“Maaf Mari, rasanya seneng bisa ngegodain Kamu lagi”
“Maaf Salim. Aku enggak inget Kamu siapa”
“Enggak apa-apa kok. Lagian dulu Aku cuma anak kecil laki-laki yang suka ngasih kamu es lilin coklat kalau Kamu lagi kesel”
Di regangkannya badannya sambil duduk.
“Sa..sa..??”

***

TK
“MARI! ADA SASA NIH!”
Aku berlari ke arah pintu.
“Sasa!”
“Aku udah bawa buku gambar sama krayonnya”
“Aduh Sasa, Kita kan hari ini mau ngegambarnya pake pensil warna”
“Pensil warna Aku ketinggalan di sekolah”
Aku enggak suka ngeliat Sasa sedih.
“Ya udah Sasa, jangan sedih. Aku pinjemin pensil warna Aku ya.”
“Makasih ya Mari”
“Iya”, Aku tersenyum lebar.

***

SD
Aku kesel hari ini. Mainan tanah liat Aku rusak. Walau katanya tidak sengaja dirusak, tapi tetep aja kesel. Aku enggak akan main sama Alina lagi. Dia jahat.
“Nih”
Es lilin cokelat.
“Jangan gitu mukanya. Aku enggak suka kalau ngeliat muka Mari gitu. Mendingan makan es lilin aja”
“Kenapa sih, setiap Aku kesel Kamu kasih Aku es lilin cokelat?”
“Karena Aku suka es lilin cokelat.”

***

SMP
“Aku harus ikut Mas Agus ke Sukabumi”, ucapku sambil menikmati es lilin cokelat yang ke dua.
Dia berhenti membuka tali sepatunya dan melihatku.
“Kenapa?”
“Mas Agus mau SMA disana. Sekalian nemenin Abah sama Ambu”
“Terus kenapa Kamu harus ikut?”
“Kalau Mas Agus bantuin Abah di peternakan, Aku nemenin Ambu di rumah.”
“Terus kapan Kamu berangkat?”
“Mas Agus nunggu apa dulu gitu, Aku enggak inget”
“Oh..”
“Cuma ‘Oh’ aja?”
Dan Sasa malah ngebahas tentang tugas sekolahnya.

***

“SASA! KAMU SASA!”
“Giliran Sasa Kamu inget, nama asli Aku Kamu enggak inget. Mari.. please lah.. Itu nama perempuan”
Mukanya langsung berubah.
Aku langsung memeluknya.
“Astaga Sasa! Aku minta maaf enggak inget. Astaga Sasa, Kamu kok bisa berubah gini?! Sasa! Kamu olahragawan sekarang?”
Aku memegang lengannya bagian atas.
“Mari.....”
Mukanya memperlihatkan kekesalan.
“Maaf Sasa. Maaf. Aku.. WAW! Aku enggak percaya. Terus Kamu mau ngapain kesini?”
“Loh?! Memangnya enggak boleh ketemu temen masa kecil?”
“Boleh lah! Astaga Sasa”
“Kamu tuh ya, Sasa-sasa terus. Salim, Mari. Salim”
“Pokoknya Kamu tetep Sasa buat Aku.”
“Setelah bertahun-tahun menghilang yang enggak pamitan, terus ketika dateng beberapa hari lalu, enggak ada keinginan untuk menghubungi Aku gitu?”
“Hahaha.. Maaf Sa, Aku ngurusin kepindahan Aku kuliah aja kemaren cukup ribet. Terus Aku lupa kalau Kamu masih hidup di komplek ini”
“Hidup di komplek ini? Hidup? Haa~aah”
Direbahkannya badannya.
“Segitu enggak pengen ketemu ya?”
“Astaga Sasa, kenapa Kamu berubah jadi mellow dan lebay gini sih? Baperan kayak anak zaman sekarang ya?”
“Bukan gitu sih. Tapi...”
“Tapi..?..”
“Mari.. Pacaran yuk?”
Salim menatapku dengan serius.
Aku tercengang.
“Hah?!”
“Aku serius.”
“Iya, Aku tau ketika orang sedang serius kayak apa. Tapi.. Sa? Kamu bercanda?”
“Aku serius, Mari. Kesempatan Aku ketemu lagi sama Kamu. Aku enggak mau basa-basi lagi. Enggak mungkin dulu setelah sekian lama dan Kamu enggak merasakan apapun ke Aku”
“Mungkin dulu iya. Tapi Salim, itu udah lama banget. Kamu temen kecil Aku, temen deket. Dan.. enggak mungkin deh kayaknya.”
“Apanya yang enggak mungkin? Aku punya perasaan sama Kamu, Mari. Kalau Kamu pun punya, Kita bisa jalanin kan?”
“Enggak bisa Sa”
“Kenapa enggak bisa? Karena Kamu udah enggak kenal Aku lagi? Aku enggak berubah Mari, Aku masih sama seperti Sasa yang dulu. Aku masih..~..”
“Aku udah tunangan Sa.”
Salim terdiam. Antara terkejut, sedih dan menyesal. Aku tidak bisa memaparkan yang terlihat di mukanya.
Salim melepaskan tanganku.
“Kamu terlambat Sa. Coba kalau Kamu datang setahun yang lalu. Mungkin..~..”
“Kalau terlambat, tidak ada kata mungkin, Mari. Maaf Aku mengganggumu. Mungkin sebaiknya Aku pulang ya.”
“Sa..”
“Kamu bahagia?”
“Aku..”
“Mari, Kamu bahagia?”
Aku menganggukkan kepalaku perlahan.
“Aku terlambat. Ini pelajaran ya. Sedikit sakit dan menyedihkan ya. Tapi, terima kasih sudah memberikan jawaban.”
“Maaf ya Sa...”
“Aku yang minta maaf. Kita enggak bisa berteman dekat lagi, Mari”
“Cuma karena Aku bertunangan, Kita enggak bisa temenan kayak dulu?”
“Terserah Kamu mau berpikiran apa tentang Aku. Tapi, dengan ngeliat Kamu dengan lelaki lain, dan yang Aku rasain ke Kamu, susah buat Aku ngilangin niat mengganggu hubungan Kamu.
Mending Aku pamitan. Pamitkan Aku juga kepada Ayah dan Ibumu ya.
Mari, satu hal yang harus Kamu tau. Aku menyukaimu sejak sebelum Aku mengenal rasa suka. Selamat tinggal Mari”
Aku melihat punggunggnya. Hal terakhir yang juga Aku lihat bertahun-tahun lalu ketika Aku akan berpetualang di Kota lain.

***

Salim akan masuk ke mobilnya sambil membawa tas gendongnya.
Walau berjarak 15 meter, tapi Kami sempat bertatapan. Dan kemudian dia membuka pintu mobilnya lalu mulai beranjak pergi.
Ya Salim, Aku tahu. Setelah Aku memberitahu tentang pertunanganku, Aku akan kehilanganmu. Kamu pikir Aku tidak tau perasaanmu ketika dulu. Maka dari itu Aku tidak mendatangimu. Jangan menyulitkanku untuk memilih. Karena tidak perlu ditanya siapa pilihanku.


_rdmw_