Tuesday, July 14, 2015

Cerita dalam zona nyaman

"Aku memikirkanmu lagi.

Ditengah pengalihan pemikiran hal yang lain.

Lebih tepatnya Aku memaksa diriku memikirkanmu.
Karena...
Entahlah..
Memikirkanmu merupakan zona nyamanku.

Dan banyak orang yang tidak suka keluar dari zona nyaman.
Termasuk Aku.
Zona nyamanku dalam memikirkanmu.

Pada suatu malam Aku berharap Kau datang mengetuk pintu rumahku dikeesokan harinya dan melihat senyumanmu.
Tunggu.. Hampir setiap malam kurasa.

Tapi... bagaimana lagi.

Mungkin Kau disana juga mengharapkan hal yang sama.
Berharap ada seseorang yang datang mengetuk pintu rumahmu dan membuatmu tersenyum.
Dan.... Bukan Aku sepertinya..

Percayakah Kau jika karma itu ada?
Karena Aku sangat percaya dengan karma.
Percaya sekali.
Tapi...
Kau kan bukan Aku.
Aku tidak tau apa yang kau pikirkan.
Dan Aku juga tidak tau apa Aku pernah melintas dipikiranmu.

Tentang karma..
Perasaanku yang begitu.... Aku tidak tau bagaimana mengutarakannya..
Perasaanku yang begitu.. banyak ini.. kurasa sudah berlebihan..
Dan sepertinya karma yang berlaku adalah, Kau memiliki perasaan yang mirip denganku juga.. Kepada orang lain.

Tidak usah diambil pusing, Aku hanya menebak saja.
Jika salah, mungkin karma yang berlaku adalah.. Dibagian bumi yang-entah-Aku-pun-tidak-tau, ada seseorang yang memiliki perasaan yang mirip denganku dan malu untuk mengungkapkannya dan berharap Aku mengetuk pintu rumahnya dan tersenyum kepadanya.. Dan itu bukan Kau..

Puluhan lagu yang sering kuputar yang mengingatkanku tentangmu ternyata tidak bisa menghentikan perasaanku untuk ingin berjumpa denganmu.

Tidak usahlah kita berbagi cerita.
Tidak usahlah kita saling sapa dalam pertemuan itu.
Tidak usah juga Kau melihatku disana.
Aku yang melihatmu saja dari kejauhan.. kurasa cukup bagiku.

Seperti bertahun-tahun lalu.
Aku yang selalu mencari cara agar bisa melihatmu dari kejauhan.

Sssttt..
Ini satu bocoran yang kubagikan kepadamu....
Bayanganmu saja bisa membuatku tersenyum.
Terima kasih untuk itu."

Bandung, 14 Juli 2015
Salam,
Risma Dwi MW

Friday, July 3, 2015

Menangis

"Pernah nangis? Maksudnya nangisin yang udah terjadi?”

“Untuk apa? Enggak akan ngerubah apa-apa juga kan”

 

Beberapa waktu yang lalu, Saya bertemu dengan rekan Saya.

Kita sempat satu kelas dulu ketika masih mengenakan seragam putih-biru.

 

Enggak ujug-ujug langsung ngomongin tentang nangis sih.

 

Jadi ceritanya, rekan Saya itu berkunjung kerumah.

Setelah tidak bertemu sekian belas tahun, tentu saja banyak sekali kejadian yang terjadi di hidup kita masing-masing.

Sekian jam tidak cukup sih kalau kata Saya. Tapi Saya jadi tahu beberapa hal penting yang terjadi dalam hidupnya, begitu juga sebaliknya.

 

Setelah kita ngobrol ngalor-ngidul, sampailah pada sesi curhat.

Kalau namanya curhat sih biasanya yang mengganggu perasaan, atau mengganggu kehidupan ya.

Dan munculah pertanyaan diatas.

 

Bukan, Saya tidak dalam posisi mengadili atau diadili.

Kalau Saya sih, masih suka nangis.

Memang betul sih, dengan nangis itu tidak akan merubah jalan cerita yang sudah ada.

Iya, nangis juga tidak akan membuat kita bisa balik lagi ke masa lalu dan mangambil jalan berbeda atau menyiapkan diri untuk hari ini.

 

Tapi gini..

Menangis itu bisa meningkatkan mood, mengurangi stres, melegakan perasaan, dan yang Saya baca, menangis bisa mengeluarkan racun (dari hasil penelitian William Frey, ahli biokimia)

 

Ah, Saya sih enggak memikirkan manfaat menangis berdasarkan ilmu ini atau ilmu itu.

Biasanya menangis karena memang ingin menangis aja.

Kebanyakan sih karena tidak-tahu-harus-beremosi-seperti-apa-soalnya-perasaan-udah-enggak-enak.

 

Menangis yang Saya bahas bukan karena terharu bahagia atau karena keketawaan sampai nangis ya.

Nangis yang sedih gitu loh.. paham lah ya..

 

Tapi memang dasarnya cengeng sih ya.. Saya sering berlinang air mata cuma gara-gara nonton film. Kalau filmnya mengharukan, suka berlinang tuh.

 

Ada beberapa tulisan di status media sosial Saya yang berkomentar tentang film atau film serial yang bikin kesel.

Bukan kesel marah-marah ya, tapi Saya kesel soalnya Saya sudah berlinang air mata karenanya.

 

Kalau untuk Saya sih, menangis masuk ke kebutuhan.

Enggak usah ditanya kenapa, pengen aja masukin ke list kebutuhan.

 

Dan... boleh kok kalau mau nangis.

Bukan berarti karena alasan jenis kelamin jadi enggak boleh menangis.

Bukan juga nunjukin nangis itu identik dengan cengeng.

Kata Saya sih, menangis atau bahkan bersedih itu menunjukan kalau kita juga manusia biasa, yang punya emosi.

 

Jadi, selamat menangis Bubbly-Blog.

Asal jangan berlebihan ya, Tuhan enggak suka hal yang berlebihan.

Bandung, 03 Juli 2015

Salam,

Risma Dwi MW

Wednesday, July 1, 2015

Juli pertama di 2015

Juli..

Selamat Bulan Juli Bubbly-Blog..

Beberapa tahun lalu Saya paling malas kalau Juli udah datang.

Soalnya di Juli itu ada 1 hari sedih.

Tapi juga ada 1 hari senang.

Cukup sulit dipahami memang.

 

Juli ini kegiatan pertama Saya adalah keluar rumah dan berjalan kurang lebih 2 kilo-anlah. Sesungguhnya enggak ngitung berapa kilo sih. Cuma kalau dirata-rata 2 kilo itu kisaran 1 jam lah.

Tergantung dari kecepatan dan jarak langkah kaki.

OKE.. Kita sudahi saja. Saya sedang tidak ingin membahas tentang pelajaran fisika atau matematika (kedua mata pelajaran itu tidak berteman baik dengan Saya sejak SMP).

 

Pukul 2 siang Saya mulai berjalan ke tempat tujuan.

Cuaca Bandung sedang panas.

Padahal cuaca yang ditunjukkan oleh telepon genggam Saya yang berhubungan dengan ramalan cuaca Google sedang hujan gerimis.

Yaaa.. namanya juga ramalan.

 

Sehubungan dengan Saya yang mengenakan cardigan berwarna merah dan tersorot sinar matahari yang tidak pakai diskon, membuat Saya mencrang aja gitu di jalan.

 

Ternyata dalam 1 jam itu banyak kejadian. Mungkin lebih tepatnya Saya melihat banyak hal.

Toko yang jual banyak burung dan perlengkapan burung serta kandangnya masih tetap digandrungi oleh banyak orang. Mungkin karena bulan puasa jadinya banyak yang menghabiskan waktu lebih dengan binatang peliharaan masing-masing termasuk burung kali ya,

Angkutan kota masih banyak yang berhenti mencari penumpang untuk kejar setoran,

Mini market masih menonjolkan sirup dengan banyak merk dan rasa,

Dan semakin sore semakin banyak kendaraan di jalanan. Mungkin mau menyiapkan bukaan puasa juga.

Juli ini apa yang berubah? Saya. Sedirian.

No! Saya sampai saat ini masih bisa hidup dengan damai dan aman kok. Tidak ada yang harus dirisaukan. Yang penting masih bisa makan dan masih bisa tidur nyenyak hahaha

 

Juli.

Tetap sedih sih kalau diingat.

Tapi mau bagaimana lagi.

Bulan ini ada satu hari Saya akan menghilang. Seperti tahun-tahun sebelumnya.

Jadi, persiapan Juli adalah.. berhenti nangisin bulan ini.

 

Aha! Saya akan membahas tentang nangis.

Tapi nanti aja di postingan selanjutnya.

 

Jadi, selamat bulan Juli Bubbly-Blog.

Bandung, 01 Juli 2015

Salam,

Risma Dwi MW

 

 

Wednesday, June 17, 2015

Mungkin.. Kekuatan batin..

Baru saja Saya menerima kabar diujung telepon genggam Saya.

Oh bukan.. Bukan kabar buruk.

Saya bisa tertawa-tawa karenanya.

 

“Reks.. maaf lahir batin yak.. isuk puasa yeuh.. i laf yu looooh”

Dimulai dari pesan itu yang Saya kirimkan melalui salah satu aplikasi obrolan yang Saya punya.

Tidak lama kemudian ada telepon.

(Reks adalah panggilan Saya ke Kakak Saya btw)

 

Kemudian kami berbincang sekitar 22 menit 40 detik lamanya.

Sesungguhnya tidak ada yang aneh sih.

Bukan berarti Saya tidak pernah ditelepon juga.

Sebulan ada 2 sampai 3 kalilah Saya ditelepon.

Iya, ditelepon.

Eh, bukan berarti Saya tidak mau menelepon duluan ya.

 

Jadi gini...

Ketika Kakak Saya berangkat ke luar, sesampainya ditempat tujuan, beliau sudah wanti-wanti,

“Jangan nelepon urang duluan nyak, walaupun maneh menelepon, tapi ketika urang mengangkatnya pun urang akan terkena biaya. Dan itu cukup mahal. Oke?”

Nah. Dengan berbekal pesan yang tertanam pada jiwa dan raga, makanya Saya tidak pernah menghubungi duluan.

Padahal menghubunginya pun melalui aplikasi orbolan yang sesungguhnya gratis (hahaha)

 

Hal yang ingin Saya ceritakan adalah.....

Jadi, tadi Kakak Saya cerita, beberapa waktu lalu beliau mimpi menikah. Pokoknya tiba-tiba sudah akad nikah aja. Tapi setelahnya entah mengapa jadi malas. Maksudnya melakukan pernikahan tidak dari hati gitulah kira-kira.

 

Saya jadi ingat.. beberapa waktu yang lalu Saya juga bermimpi hal yang sama.

Bukan sama.. yang sama.. tapi memimpikan pernikahan juga.

 

Dimimpi itu, Saya menyiapkan pernikahan. Dari mulai seragam, baju pengantin, makanan, hingga kue-kue.

Jadi semacam sehari sebelum pernikahan gitu.

Tapi kemudian Saya bilang sama calon Saya,

“Saya enggak bisa nikah besok. 1, Kamu belum izin sama keluarga Saya. 2, Saya nunggu kakak Saya pulang dulu.”

Terus si calon Saya bilang, “Ya udah, enggak apa-apa kan pernikahan kita diundur? Biar besok Aku ke keluarga kamu buat izin”

 

Dan Saya terbangun.

Setelah bangun, Saya ketawa ngakak sendirian.

Entahlah... rasanya.. aneh.. dan geli.. hahahahahaha

 

Bedanya kalau Kakak Saya tidak tahu calonnya, Saya kenal dengan calon Saya. Tapi, tidak pernah terbayangkan sampai sebegitunya sih.

 

Sampai Kakak Saya bilang,

“Naha bisa nyak, urang dan maneh memimpikan hal yang sama?”

 

Mungkin.. kekuatan batin..

 

Bandung, 17 Juni 2015

Salam, Risma Dwi MW

“Pasti maneh merasa hidup terasa hampa ya?”

Itu paragraf terakhir dari dia.. Ish =__=” 

Monday, June 8, 2015

Reuni kampus..

Selamat hari senin, Bubbly-Blog..

Saya mau bercerita tentang yang terjadi di sabtu lalu.

Jadi gini..

 

Jumat sore sebelumnya, Saya dihubungi oleh no telepon yang tidak terdaftar pada telepon genggam Saya.

Intinya... Saya diminta untuk hadir di reuni akbar kampus Saya.

Sesungguhnya ya.. Sesungguhnya ini mah.. Saya enggak akan datang rencananya. Soalnya Saya sudah merencanakan yang akan Saya lakukan pada jam yang sama.

 

Tapi.. dengan pergulatan hati yang amat sangat, Saya memutuskan untuk hadir.

Pergulatan hatinya... ah.. seperti bunga yang diambil intisari dan madunya yang kemudian dibiarkan layu dan mengering *kira-kira gitulah *kemudiansedih

 

Tapi perasaan Saya sih mengatakan itu bukan seperti reuni ya. Kita kesampingkan tentang acaranya.

Soalnya tanpa ada undangan reuni ini juga Saya masih suka bersua dengan kengkawan Saya.

Maksudnya gini..

Enggak harus ada reuni yang diadakan kampus dulu Saya bisa bertemu dengan mereka.

Sampai terakhir beberapa waktu yang lalu Saya juga masih suka bertemu dengan mereka kok.

 

Tapi memang ada beberapa orang yang udah susah bertemu terus bertemu disana.

Seperti ketika Saya bertemu dengan si akang kecengan pertama Saya di kampus.

Cuma sama beliau doang Saya masih menjalin hubungan baik, dan kita enggak merasa canggung.

Saya enggak nyangka bertemu dengannya (ingat kekonyolan masa lalu hahahaha).

 

Mungkin karena Saya dan beberapa karib masih suka bertemu, jadi yang kita pertanyakan malam itu adalah, “Kenapa itu si makanan belum dibuka aja? Lapar yeuh” =))

 

Malam itu Saya semakin banyak menilai orang. Ada orang-orang yang mungkin Saya enggak kenal sebelumnya, tapi langsung jadi tau sifatnya.

Kebanyakannya sih Saya kenal.

Jadi ketika menunggu tirai dibuka, Saya seperti penerima tamu (soalnya pada nyapa semua).

 

Kemarin sempat terbesit dipikiran Saya. Apa ya, yang orang-orang inginkan dari reuni ini?

Mungkin ada yang memang tulus ingin menjalin silaturahmi.. Ada..

Mungkin ada yang mengenang masa lalu yang menyenangkan.. Ada..

Mungkin ada yang berharap bisa bertemu jodoh.. ADA.. BANGET.. =))

Dan mungkin juga ada yang berharap bertemu dengan masa lalu yang sudah ditunggu sedemikian rupa yang enggak ada kabar berita, enggak berani nanya, tapi tetap mengharapkan kedatangannya. Ada. *mojok

 

Jadi Bubbly-Blog, tujuan reuni mau ngapain?

Bandung, 8 Juni 2015

Salam,

Risma Dwi MW