Hello Blog. Apa kabar?
Rasanya sudah lama saya tidak menyapa.
Bukan bermaksud untuk merasa sombong karena kesibukan yang 'begitulah' tetapi memang terkadang lupa untuk membuka dan memperbaharui tulisan disini.
Okei. Sudah banyak sekali cerita yang terjadi selama kurang-lebih sebulan ini *melihat dari entri terakhir yang diterbitkan*
Kita mulai mencicil saja sedikit-demi-sedikit.
Mulai dari Jumat ini deh ya.
Untuk sebagian orang yang memiliki pekerjaan seperti saya, yaitu Administrasi Keuangan, mungkin sudah tidak asing dengan istilah Kontra Bon.
Ya, untuk saya yang baru bergelut didunia 'begini' selama 3 bulan ini, itu masih termasuk hal yang saat ini masih saya pelajari.
Ditempat saya bekerja sekarang, Kontra Bon itu dilakukan setiap hari Rabu. Maka dari itu, terkadang untuk menghadapi Rabu, saya sedikit tidak percaya diri.
Oh, bukan. Bukan karena tiap rabu saya berubah menjadi jelek. Tapi karena saya berhadapan dengan hari-dimana-kontrabon-tiba.
Untuk minggu ini, dengan sekelumit cerita yang sulit untuk dijelaskan, kontrabon diundur menjadi hari Jum'at.
Ya, bukan menghadapinya, tapi saya mengundurnya. Dekdekannya menjadi lebih lama, kesulitan tidur saya juga semakin menjadi.
Di keluarga saya, jarang sekali ada masalah kantor yang diperbolehkan untuk dibawa ke dalam rumah. Jadi, kalau dikantor ada masalah, orang rumah tidak boleh menjadi pelampiasan. Maka dari itu, saya sedikit sulit melampiaskan perasaan kantor kerumah.
Baiklah, kita kembali lagi ke dalam hal yang ingin saya ceritakan.
Sedari saya beribadah dipagi tadi, tak henti-hentinya saya memanjatkan doa untuk 'diselamatkan' dari hari-dimana-kontrabon-diundur-jadi-jumat.
Kalau dijalan melihat mulut saya komat-kamit, bukan, itu bukan sedang belajar membaca. Tapi sedang berdoa sesering mungkin.
Ternyata ada beberapa jadwal jam yang meleset. Kontrabon menjadi lebih cepat beberapa jam.
"Baiklah" ucap saya sembari menangis didalam hati
Ya, Tuhan mengabulkan permohonan saya. Tuhan Maha Baik.
Kontrabon hari ini tidak seseram bayangan saya. Tidak semenakutkan yang saya ingat.
Semua berlangsung secara baik dan sederhana. Secara lancar jaya bahagia dan sentosa.
Tapiiii.... Jumat ini belum selesai. Jumat ini masih berlangsung beberapa jam lagi. Jumat ini.... haaaah....
Boleh ber-emoticon sedih atau menangis tidak ya?
Bolehlah ya.. Pliiis.. Sedikit saja...
=((
Daaaan, walaupun jumat-dengan-kontrabon-yang-diundur-sampai-akhirnya-dekdekan-saya-bertambah ini berjalan bahagia, saya masih gak PD aja menghadapi Hari-Dimana-Kontrabon-Tiba.
Friday, May 25, 2012
Thursday, April 26, 2012
Tertegun..
Baru saja ada seorang lelaki yang tidak terlalu muda, lewat depan warung tempat saya 'bekerja'.
He : 'Neng, stroberinya neng?'
Me : *menggeleng sambil tersenyum*
He : 'beakeun we neng'
Me : *masih menggeleng dan tersenyum* 'G, mang'
Dia pun berlalu.
Dengan muka kucel dan tampak baru saja bertarung *dan sepertinya masih* dengan matahari yang cukup menyengat.
Sendal jepit yang dikenakannya tidak lah bagus. Tapi masih dipakainya untuk menjajakan dagangannya di hari ini.
Dan saya berpikir.
Terkadang saya masih suka mengeluh. Harus bangun pagi, mandi saat air masih terasa dingin, siapsiap memulai perjalanan yang jauh, bersihbersih warung yang terkena debu, protes panas walau di bawah atap.
Padahal banyak orangorang yang berjualan dengan menggunakan sendal jepit mereka, yang harus menempuh perjalanan dengan menggunakan kaki karena tidak cukup biaya naik angkutan, yang harus menahan udara yang begitu menyengat, yang harus memikul beratnya barang dagangan di kiri kanan bahunya.
Walau saya juga berjualan, tetapi sepertinya tidak harus mendorong frezer dan etalase kemanamana, tidak harus memikul meja juga kursi, tidak bersentuhan langsung dengan sengatan matahari.
Saya masih bisa merasakan ademnya kipas angin kecil dan segarnya air bersih yang mengalir.
Mungkin sudah saatnya berhenti mengeluh. Atau setidaknya, mengurangi mengeluh.
Semoga saya bisa.
Dan semoga mang tadi stroberinya laku terjual. Amiiin.
Bandung, 07 September 2011
1.19 PM
Risma Dwi MW's Note-Facebook
*copy of http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150267777126981
He : 'Neng, stroberinya neng?'
Me : *menggeleng sambil tersenyum*
He : 'beakeun we neng'
Me : *masih menggeleng dan tersenyum* 'G, mang'
Dia pun berlalu.
Dengan muka kucel dan tampak baru saja bertarung *dan sepertinya masih* dengan matahari yang cukup menyengat.
Sendal jepit yang dikenakannya tidak lah bagus. Tapi masih dipakainya untuk menjajakan dagangannya di hari ini.
Dan saya berpikir.
Terkadang saya masih suka mengeluh. Harus bangun pagi, mandi saat air masih terasa dingin, siapsiap memulai perjalanan yang jauh, bersihbersih warung yang terkena debu, protes panas walau di bawah atap.
Padahal banyak orangorang yang berjualan dengan menggunakan sendal jepit mereka, yang harus menempuh perjalanan dengan menggunakan kaki karena tidak cukup biaya naik angkutan, yang harus menahan udara yang begitu menyengat, yang harus memikul beratnya barang dagangan di kiri kanan bahunya.
Walau saya juga berjualan, tetapi sepertinya tidak harus mendorong frezer dan etalase kemanamana, tidak harus memikul meja juga kursi, tidak bersentuhan langsung dengan sengatan matahari.
Saya masih bisa merasakan ademnya kipas angin kecil dan segarnya air bersih yang mengalir.
Mungkin sudah saatnya berhenti mengeluh. Atau setidaknya, mengurangi mengeluh.
Semoga saya bisa.
Dan semoga mang tadi stroberinya laku terjual. Amiiin.
Bandung, 07 September 2011
1.19 PM
Risma Dwi MW's Note-Facebook
*copy of http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150267777126981
Mungkin.. Dulu..
Mungkin pelangi selalu datang setelah hujan turun. Dengan terkena matahari dan berbias begitu indah pada 7 warna cerahnya.
Ya, dulu kau pelangi itu.
Mungkin bintang mulai berkelip ditemani rembulan yang perlahan membulat sempurna. Setelah seharian mentari muncul dan bahkan sesekali bersembunyi.
Ya, dulu kau bintang itu.
Mungkin dulu saat air turun perlahan di ujung mata mengeluarkan khawatir. Setelah seharian tidak mendapat kabar apapun.
Ya, dulu kau kekhawatiran itu.
Mungkin dulu bibir selalu tertarik mengembang. Setelah kata sapa datang.
Ya, dulu kau senyum itu.
Mungkin dulu lembaran kertas selalu dipenuhi oleh guratan tipis. Dengan menghabiskan ribuan kata.
Ya, dulu kau tulisan itu.
Itu selalu mungkin.
Itu selalu dulu.
Kini, kau tak perlu memaksa menjadi pelangi.
kau tak perlu memaksa menjadi bintang.
tak perlu memaksa menjadi dikhawatirkan.
tak perlu memaksa untuk disenyumi.
tak perlu memaksa untuk ditulis.
Bahwa pelangi bukan hanya dirimu sehabis hujan.
Bahwa bintang bukan hanya dirimu saat malam datang.
Bahwa khawatir tidak selalu untukmu saat tak ada kabar.
Bahwa senyum tak melulu datang setelah sapamu.
Bahwa tulisan selalu ada setelah ide datang yang bukan karnamu.
Dan pelangi tetap indah.
Bintang tetap berkelip.
Khawatir tetap datang.
Senyum tetap menawan.
Lalu tulisan.........
Selamat datang malam. Saat hujan menyerang, bukan lagi tentang merindu. Tapi tentang lelap dan keindahan.
Selamat malam hati =)
Risma Dwi MW's Note-Facebook
*copy of http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150397839116981
Ya, dulu kau pelangi itu.
Mungkin bintang mulai berkelip ditemani rembulan yang perlahan membulat sempurna. Setelah seharian mentari muncul dan bahkan sesekali bersembunyi.
Ya, dulu kau bintang itu.
Mungkin dulu saat air turun perlahan di ujung mata mengeluarkan khawatir. Setelah seharian tidak mendapat kabar apapun.
Ya, dulu kau kekhawatiran itu.
Mungkin dulu bibir selalu tertarik mengembang. Setelah kata sapa datang.
Ya, dulu kau senyum itu.
Mungkin dulu lembaran kertas selalu dipenuhi oleh guratan tipis. Dengan menghabiskan ribuan kata.
Ya, dulu kau tulisan itu.
Itu selalu mungkin.
Itu selalu dulu.
Kini, kau tak perlu memaksa menjadi pelangi.
kau tak perlu memaksa menjadi bintang.
tak perlu memaksa menjadi dikhawatirkan.
tak perlu memaksa untuk disenyumi.
tak perlu memaksa untuk ditulis.
Bahwa pelangi bukan hanya dirimu sehabis hujan.
Bahwa bintang bukan hanya dirimu saat malam datang.
Bahwa khawatir tidak selalu untukmu saat tak ada kabar.
Bahwa senyum tak melulu datang setelah sapamu.
Bahwa tulisan selalu ada setelah ide datang yang bukan karnamu.
Dan pelangi tetap indah.
Bintang tetap berkelip.
Khawatir tetap datang.
Senyum tetap menawan.
Lalu tulisan.........
Selamat datang malam. Saat hujan menyerang, bukan lagi tentang merindu. Tapi tentang lelap dan keindahan.
Selamat malam hati =)
Risma Dwi MW's Note-Facebook
*copy of http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150397839116981
aku.. untukmu..
Hei kau yang sedang bersedih, kemarilah.
Izinkan air matamu jatuh dengan perlahan. Guna menghapus segala rasa pedihmu.
Rebahkanlah dirimu, disampingku.
Biarkan jiwamu beristirahat sejenak dalam damai.
Hei kau yang sedang terluka, kemarilah.
Disini akan selalu ada senyum lembut yang menyambut.
Izinkan amarahmu keluar secara perlahan. Mengalir bersama setumpuk rasa kesal itu.
Rebahkanlah dirimu, disampingku.
Biarkan jiwamu beristirahat sejenak dalam damai.
Hei kau yang sedang merasa tersakiti, kemarilah.
Izinkan emosi itu meluap. Demi kelonggaran hatimu yang sesak.
Dunia tidak pernah meninggalkanmu, dia hanya menunggumu. Berdiri disana, menanti kedatanganmu secara tepat.
Rebahkanlah dirimu, disampingku.
Biarkan jiwamu beristirahat sejenak dalam damai.
Bukan hari melelahkan kawan, tetapi dirimu yang butuh beristirahat.
Karena waktu tak kan berhenti berputar untuk sekedar mengejar ketinggalanmu.
Beritahukan pada yang lain. Bahwa senyum itu bukan hanya kepalsuan. Karena aku, disini, mendukungmu penuh harapan.
Maka dari itu, rebahkanlah dirimu, disampingku, dengan ketulusan dan kebesaran hati, menyambut esok hari yang tentunya akan lebih baik.
Biarkan jiwamu beristirahat sejenak dalam damai dan kelelapan.
Saat suatu ketika aku sudah tidak mampu untuk meminjamkan pundakku padamu, perbolehkan aku untuk merebahkan damai jiwaku padamu. Dan beristirahat sejenak dalam lelapku.
Bandung, 29 Desember 2011
Selamat malam,
Risma Dwi MW's Note-Facebook.
Izinkan air matamu jatuh dengan perlahan. Guna menghapus segala rasa pedihmu.
Rebahkanlah dirimu, disampingku.
Biarkan jiwamu beristirahat sejenak dalam damai.
Hei kau yang sedang terluka, kemarilah.
Disini akan selalu ada senyum lembut yang menyambut.
Izinkan amarahmu keluar secara perlahan. Mengalir bersama setumpuk rasa kesal itu.
Rebahkanlah dirimu, disampingku.
Biarkan jiwamu beristirahat sejenak dalam damai.
Hei kau yang sedang merasa tersakiti, kemarilah.
Izinkan emosi itu meluap. Demi kelonggaran hatimu yang sesak.
Dunia tidak pernah meninggalkanmu, dia hanya menunggumu. Berdiri disana, menanti kedatanganmu secara tepat.
Rebahkanlah dirimu, disampingku.
Biarkan jiwamu beristirahat sejenak dalam damai.
Bukan hari melelahkan kawan, tetapi dirimu yang butuh beristirahat.
Karena waktu tak kan berhenti berputar untuk sekedar mengejar ketinggalanmu.
Beritahukan pada yang lain. Bahwa senyum itu bukan hanya kepalsuan. Karena aku, disini, mendukungmu penuh harapan.
Maka dari itu, rebahkanlah dirimu, disampingku, dengan ketulusan dan kebesaran hati, menyambut esok hari yang tentunya akan lebih baik.
Biarkan jiwamu beristirahat sejenak dalam damai dan kelelapan.
Saat suatu ketika aku sudah tidak mampu untuk meminjamkan pundakku padamu, perbolehkan aku untuk merebahkan damai jiwaku padamu. Dan beristirahat sejenak dalam lelapku.
Bandung, 29 Desember 2011
Selamat malam,
Risma Dwi MW's Note-Facebook.
Tuesday, April 24, 2012
Kupu-kupu
Kupu-kupu hinggap meninggalkan bekas luka
Terbang perlahan berbalut jingga keemasan
Menuju senja bersiluetkan kelabu lembut
“Menuju peristirahatan”, ujarnya lirih
Bukan hanya mengejar satuan waktu,
Tapi juga berlomba menempati singgasana jati diri
“Menuju peristirahatan”, ujarnya lirih
Bersaing dengan kerlipan bintang berbenteng gumpalan pucat
Juga suara-suara fiksi yang membelah langit
“Menuju peristirahatan”, ujarnya lirih
Sapaan sepanjang jalan tak menyurutkan kecapan ciut
Dengan menciptakan gugusan berani
Beriringan daya khayal, kupu-kupu mengepakan imajinasinya
Dan tetap bersaing dengan kumbang
Dalam pencarian peristirahatan terakhirnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)