Tuesday, April 24, 2012

Risau di senin 23 April 2012


Tidak, tidak. Bukan saya yang ingin berbeda. Saya hanya tidak ingin disamakan dengan yang lainnya.
Okei. Mulai lagi dengan keanehan entah ingin menulis apa.
Saya akan menceritakan tentang hal yang terjadi kemarin.
Apa yang saya rasakan ya?
Sedikit aneh sebenarnya. Tapi saya sendiri tidak tau apa yang aneh “aneh”.
Hanya merasa tidak seperti biasa saja.
Dimulai dari pagi bisu yang menciptakan keheningan yang panjang, berlanjut dengan kekurangsemangatan, lambung yang terlampau penuh, keringat yang tidak mengucur dengan baik, rasa malas yang datang dengan tiba-tiba, dan diakhiri dengan terlelap yang tidak disengaja.
Sudah beberapa waktu ini saya sering sekali tertidur secara tidak sengaja.
Bahkan telepon genggam, masih terbuka dengan pencarian dunia maya-nya.
Apa yang terjadi?
Bukan, bukan karena risau yang katanya entah apa itu, tapi memang dimulai dari entah kapan saya sering tertidur.
Bukan, bukan karena rasa letih yang menghabiskan tenaga secara luar biasa. Tapi tampaknya dari hati.
Patah hati?
Sepertinya bukan itu.
Jatuh cinta?
Heeem.. sepertinya juga bukan itu. Tapi apa iya?
Ah, sepertinya bukan itu.
Atau mungkin ini bukan tentang saya?
Atau mungkin ini tentang orang lain?
Tapi saya yang memikirkannya terlalu dalam?
Mungkin saja. Iya, mungkin ini tentang orang lain.

Bandung dengan kerisauan saat seninnya, 24 April 2012
-Risma Dwi MW-

Semangat Selasa


Selasa pagi.
Terbangun dari kelelapan yang beberapa waktu ini selalu menjadi kebiasaan.
Terlelap dalam ketidaksengajaan saat tangan dan mata masih aktif mengecek keunikan dunia.
Mentari masih malu-malu membagikan sinarnya dalam kehangatan, saatnya memulai kebiasaan lagi menghadapi kegiatan seperti biasa.
Apa yang berbeda?
Saat menutup Senin dengan penuh perasaan yang aneh. Yang… katakan saja risau. Lalu membuka Selasa ketika masih diberi kemampuan untuk meminta permohonan.
Indah? Tentu saja.
Doa kecil yang diucapkan dengan lirih, dalam keheningan yang tercipta, begitu menenangkan.
Raga sepertinya masih butuh istirahat. Ah, tidak. Bukan raga yang butuh. Tapi hati, tapi jiwa.
Namun, begitu sulit sepertinya kembali ke alam ketenangan.
Sehingga berpikir untuk lebih baik menghadapi yang terjadi dipagi ini.
Dengan sedikit pemaksaan, tubuh mengikuti perintah otak.
Lalu apa yang berbeda?
Yang berbeda adalah saat bibir memberikan gerak mendorong kesamping, sehingga senyum tercipta.
Mengapa itu berbeda?
Karena terkadang tak perlu alasan yang pasti untuk tersenyum.
Yang terjadi kemarin, biarkanlah tutup buku.
Dan ya, tidak perlu alasan pasti untuk tersenyum.

Selamat pagi Selasa, selamat ceria =)

Bandung, 24 April 2012
-Risma Dwi MW-

Monday, April 23, 2012

Hening


Kita duduk terdiam disini, tenggelam dengan pikiran kita masing-masing.
Udara itu menjadi saksi bisu.
Atmosfir yang tercipta membuat detak jantung terasa dekat dengan telinga.
Kita duduk terdiam disini, tenggelam dengan pikiran kita masing-masing.
Kau dengan ceritamu, dan aku dengan kenanganku.
Kata tercekat diantara pita suara, dan ya, disini sepi.
Kita duduk terdiam disini, tenggelam dengan pikiran kita masing-masing.
Kau dengan kesibukanmu, aku dengan kerjaanku.
Bisa kan kita saling menyapa?
Kita duduk terdiam disini, tenggelam dengan pikiran kita masing-masing.
Diantara jalanan yang lalu lalang oleh ratusan bunyi klakson kendaraan itu,
Kita, saling diam dan membisu.
Kita duduk terdiam disini, tenggelam dengan pikiran kita masing-masing.
Lalu kau beranjak dari tempatmu, dan aku tetap diam dalam setiaku.
Hingga kita tidak lagi hanya berdua, hingga ada keramaian menyapa, hingga kau sudah kembali di tempatmu, dengan heningmu. Hingga aku yang masih sanggup terdiam tanpa sapamu.
Dan ya, kita tetap menciptakan hening yang panjang.

Bandung, 23 April 2012
-Risma Dwi MW-

Aroma kopi


Pagi ini tercium wangi kopi pertama yang begitu lembut, begitu harum, begitu nikmat.
Kopi hitam dengan sedikit gula yang dituang dalam cangkir putih.
Aroma kopi menyeruak dan membangunkanku dari tidurku. Ah, aku tidak tidur, aku sudah terjaga saat matahari belum membagikan sinarnya.
Ini begitu nyata, tapi perasaanku mengatakan ini hanya bagian dari perjalanan didalam mimpiku.
Kopi hitam dengan sedikit gula yang dituang dalam cangkir putih.
Ingatanku menerawang di beberapa tahun silam. Sudah lama dan usang, tapi belum ingin untuk dilupakan.
Mengapa? Karena itu dinamakan kenangan. Setidaknya, aku mempunyai pengalaman.
Baikah? Tentu saja tidak. Ada juga buruknya.
Mengapa aku begitu suka untuk mengenang hal itu?
Karena itu tersimpan dimemoriku dengan baik.
Kopi hitam dengan sedikit gula yang dituang dalam cangkir putih.
Terdengar suara band Coldplay memainkan lagu nya yang berjudul The Scientist.
Ya, aku pernah terlalu berlebihan untuk menyukainya. Menambah kecintaanku kepada Bandung, kota Kembang yang meskipun bukan tanah kelahiranku, tapi sebagian besar umurku dihabiskan disini.
Berlebihan itu tidak selamanya baik.
Tapi, dengan secangkir kopi yang aku hirup dipagi ini, itu mengingatkanku padanya.
Seseorang yang pernah menjadi penyemangat.
Aku suka dengan banyak hal. Mudah sekali membuatku tersenyum. Termasuk dia, yang selalu bisa membuatku tersenyum.
Sudah lama aku menutup cerita tentangnya. Tak ada lagi kegalauan tingkat tinggi, tak ada lagi kerisauan dalam hati.
Dan apa aku berhasil?
Tentu saja untuk membiasakan diri, aku berhasil dan bisa.
Tapi, kalau aku berhasil, untuk apa membahasnya lagi?
Aku hanya ingin mengenang masa lalu saja.
Kopi hitam dengan sedikit gula yang dituang dalam cangkir putih.
Dia seperti kopi hitam itu.
Mengapa?
Karena kopi yang aroma nya aku hirup dipagi ini, bukanlah kopi untukku.
Dengan harum kopi hitam yang menyeruak, aku tidak meminumnya.
Seperti itu lah dia.
Apakah “Dia” hanya 1?
Tentu saja tidak. Masih ada “Dia” yang lain.
Tulisan ini untuknya, “Dia”, yang seperti Kopi hitam dengan sedikit gula yang dituang dalam cangkir putih, yang bukan untukku.

Selamat Pagi Hati, selamat Senin.
Bandung, 23 April 2012, Lodaya 103
Salam Aroma Kopi,
-Risma Dwi MW-

Suatu pagi dikantor yang sunyi.


Setiap hari rasanya pasti ada saja yang berbeda.
Seperti hari ini. Saat pagi saya datang ke kantor, saya hanya sendiri.
Berpikir, apa yang sebaiknya saya lakukan.
Anggap kata saya sudah masuk dua bulan bekerja disini.
Sebuah perusahaan kecil konstraktor atap dan plafond *yang akan menjadi besar. Amiiiin*
Walau dibilang masih dalam masa percobaan dalam 2 bulan ini, tapi sedikitnya saya merasa ada kebetahan disini.
Dari mulai udara segar pagi, saat menjelang ke Masjid, hingga pulang dengan waktu kira-kira 1 jam perjalanan.
Semuanya saya nikmati. Sungguh.
Selalu senang? Tidak juga. Terkadang ada kesalnya, ada sedihnya, ada menyebalkannya, ada marahnya juga.
Tapi, dibalik itu semua, setiap hari ada saja senyumnya.
Apa ya, yang membuat saya betah disini?
Perlu saya list gak ya?
Bisa dibilang pekerjaannya cukup banyak. Ada dimana hari, saya bahkan sampai lupa untuk minum dan ke kamar mandi. Dan tentunya ada saat saya menanti pulang dengan waktu yang cukup lama karena pekerjaan saya yang sudah selesai.
Saya sudah 2 kali bekerja “kantoran”. Setiap kantor pasti beda-beda rasanya.
Tak perlulah saya menulis perbedaannya disini. Karena saya gak mau menjelekkan perusahaan tempat saya bekerja sendiri.
Sudah lama saya tidak menulis seperti ini. Mungkin mengisi kekosongan dan mengisi waktu.
“Memang kamu gak kerja risma?”
Tentu saja bekerja. Lalu, apa gunanya saya datang ke kantor setiap hari. Menulis juga pekerjaan bukan?
Bandung, 23 April 2012
Salam Senin semangat,
Risma Dwi MW
*tempat menulis : Jl.  Lodaya 103-Bandung =)